Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1
KOMUNIKASI PRODUKTIF
Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata masalah gantilah dengan tantangan
Kata Susah gantilah dengan Menarik
Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.
KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.
Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi
Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:
1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.
3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.
4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.
5. Kaidah: I'm responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.
KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?
a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)
b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.
c. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”
d. Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”
e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.
f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.
g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”
h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.
I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”
j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"
✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari
==================================
*RESUME DISKUSI SESI #1*
```DISKUSI SESI #1```
Senin, 29 Mei 2017
============================
Fasilitator :
Watie Bahruddin & Fitriani Sriwinarsih
Ketua Kelas :
Setiorini
Koordinator Bulanan :
Priliyanti
===========================
PROGRAM BUNDA SAYANG
IBU PROFESIONAL SESI #1
*KOMUNIKASI PRODUKTIF*
===========================
*Sara Rosalinda*
❓Membaca materi pertama ini kok rasanya saya banget ya terkadang ibunya serasa mau tantrum karena bingung, sudah bolak balik mengingatkan anak tapi ternyata pesan tidak tersampaikan. Hasilnya saya mengulang2 instruksi. Adakah tips untuk memperpanjang sumbu emosi? Karena seringkali faktor moody mempengaruhi? Terimakasih ya
*Tanggapan*
Mba @Sara Rosalinda yg sholihah memang sulit menahan marah bila hati sedang keruh dan pikiran sedang rusuh. Biasanya sy memilih untuk masuk ke dalam kamar menenangkan diri dulu,takut menjadi *"HULK"*, ada hadist nabi yg berbunyi "La Tadhdhab" Jangan marah (HR Bukhari), memang bukan hal yg mudah,tp saya yakin dengan banyak berlatih menahan emosi mba Sara pasti bisa mengatasinya,memang tdk bisa dlm waktu sekejab,tp insya Allah dg usaha yg keras dan kerjasama antara suami istri u saling mengingatkan,insya Allah kita bisa,bukan tidak boleh memarahi anak,yg tidak boleh itu memperturutkan emosi,jd kemarahan kita tidak terkendali.
Setelah switch dengan diri kita, maka kita mulai melatih ananda untuk berkomitmen dengan kita, apa yang boleh dan tidak boleh dengan kesepakatan bersama, jadi hindari pengulangan yang berlebihan. Dan lakukan kesepakatan bertahap✅
*Dwi*
❓Kalau komunikasi ke anak, karna anak-anak saya masih batita yang blm bisa memahami penjelasan yang panjang dan juga harus diulang-ulang maka butuh trik untuk menyampaikan suatu pesan.
Ini yg pengen sya tanyakan ke fasil berdua
*Tanggapan*
Mba @dwipu ji lestari yg sholihah,umur2 batita membutuhkan kreatifitas yg tinggi dlm berkomunikasi dengan anak2,bisa lewat lagu,tarian,gambar,permainan ketika berkomunikasi bersama mereka,ingat iklan TV yg menemukan harta karun u membersihkan kamar,hal2 spt itu sangat disukai anak batita.
Yang perlu kita ingat adalah anak - anak batita memang belum bisa memberi fedback komunikasi kita, namun bukan berarti mereka belum mengerti, bahkan mereka akan merekam dengan baik. Liatlah setiap proses reaksi batita kita yang unik. Itulah caranya menyampaikan respon ✅
*Reni Nuraeni*
❓1⃣Saya sering ribut dengan suami krn permasalahan komunikasi ini. Latar belakang keluarga dan budaya asal juga yg disebut dalam materi yaitu FoE dan FoR, saya cenderung cuek dan terkadang ngasal. Saya sadar hal itu tidak baik utk dipertahankan, apalagi saya sudah punya bayi usia 7bulan yg harus saya didik dan besarkan dengan komunikasi yg baik. Bagaimana memperbaiki kebiasaan kurang baik tsb yang sudah mengakar dalam diri..baik dalam berkomunikasi dengan pasangan maupun nantinya dalam mendidik si kecil?
❓2⃣Dalam point "masalah menjadi tantangan".. sering terjadi dalam keseharian. Sulit tapi bisa bukan bisa tapi sulit. Bagaimana cara agar hal tersebut selalu menjadi obor yg selalu menyemangati dalam setiap aktifitas/permasalahan?karena kadang semangat selalu turun naik..
*Tanggapan*
1⃣ Mba Reni Nuraeni memang menyamakan Foe dan For itu perjuangan seumur hidup,yg pertama yg harus kita lakukan adalah menerima bahwa Foe dan For suami dan kita memang berbeda,tugas kitalah untuk membuat kesenjangan itu mengecil,ingat komunikasi yg berhasil antara suami istri itu adalah ketika kita bersama adalah No Gadget Between Us,karena lebih asyik ngobrol dg pasangan drpd gadget(saya masih belajar hehehe),kalau mau suami berubah kita dulu yg harus berubah insya Allah nanti menginfluence pasangan u berubah juga,semangat mba say✅
2⃣ Waktu kita sangat pendek,anak2 tak selamanya kecil,suatu saat mereka akan tumbuh dewasa,mandiri dan berkeluarga. Kalau mereka sudah menikah,kesempatan kita bersama mereka tak akan sama,walaupun kita sangat menginginkannya.
Saat inilah waktu yang tepat untuk terus bersemangat membersamai mereka.✅
*Juniar* Pontianak
❓Saya punya anak perempuan usia 2thn...
Hampir setiap saat bila anak melakukan hal yg tidak sesuai saya selalu bilang masuk kamar (kaya mengancam ke anak efeknya) krn anak saya takut bila dikunci di kamar....
Sebenarnya saya ga tega untuk beri tau ke anak seperti itu tapi udah hampir kebiasaan... misal anak lg main air atau lagi main dengan mainannya lalu dilempar2 ke kwan2nya, kita larang dengan kata nanti masuk kamar iya....
Jadi lebih baik kosa kata atau penyampaian anak di usia 2 tahun agar di dengar apa yang kita larang....???
*Tanggapan*
Mba Juniar yg sholihah,sebelumnya kita harus kembali mengingat bahwa hukuman dlm bentuk yg sama dg tingkat yg sama u setiap bentuk kesalahan,justru membuat hukuman tidak efektif,apalagi kalau kita menghukum anak tanpa tolak ukur yg jelas.Menghukum dg cara yg tidak jelas dpt membuat anak merasa orangtua sewenang2,seenaknya sendiri dan sejumlah perasaan negatif lainnya. Akibat lainnya dr hukuman yg tdk tepat anak bisa menjadi penakut,minder bahkan pengecut. Ada beberapa hal yg harus kita perhatikan dl menghukum anak:
*1. Menghukum anak bukan sebagai luapan emosi*
*2. Menghukum sebagai tindakan mendidik,artinya anak diharapkan mengerti apa yg menyebabkan dia dihukum, jd anak menyadari dan memperbaiki sikapnya*
*3. Mengajari anak bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya*
*4. Hukum anak tp jangan disakiti baik fisik maupun hatinya*
*5. Harus tetap berpikir jernih saat menghukum anak*
*6. Kasih sayang mendahului kemarahan,jd tunjukkan bahwa kita melakukannya karena cinta, jangan malu untuk memeluk atau mengecup kening anak kita sesudah menghukum mereka*✅
*Cindy* Samarinda
❓1⃣Bagaiman tips utk mengatur diksi dan intonasi saat berkomunikasi dg anak?
Anak sy usia 9th, 5th, dan 2th.
❓2⃣Si adik seringkali mengikuti gaya bahasa si kakak. Terutama bila si kakak marah dan berteriak. Bagaimana cara utk memutus rantai pola imitasi ini?
Terima kasih ☺
*Tanggapan*
1⃣Bunda Cindy yang baik hati, mari kita kembali lagi pada materi Komunikasi produktif diatas untuk berkomunikasi dengan anak maka kita harus turun level ke bahasa mereka.
Terapkan bagian - bagian dari
KISS
Ubah kata tidak bisa menjadi bisa
Pilihlah diksi sesuai bahasa anak, namun lafal yang benar.
2⃣Perbaiki mulai dari Kakak bunda, ajak kakak berdiskusi dan membuat kesepakatan bersama. Berilah ruang kakak untuk menyampaikam ide - idenya dan terima dengan serius kemudian jalankan.
Sering - sering me-time dengan kakak.
Kakak akan bisa menjadi contoh sang adik. ✅
*Dwi* Bontang.
❓Untuk anak batita, suatu pesan (contoh : jangan lompat dikasur kalo ada orang sedang tidur) sudah disampaikan. Dalam seketika anak setuju. Tapi selang beberapa menit dilakukan lagi. Begitu berulang kali. Pun dalam hal yg lain. Saya pahami memang syaraf otaknya yang blm sempurna tersambung semua.
Bagaimana cara berkomunikasi dengan anak balita atau batita ya mb?
*Tanggapan*
Mba Dwi yg baik, harus kita ingat bahwa rentang waktu konsentrasi anak jg sebentar,mungkin lebih baik kita alihkan dg aktivitas lain,dan ketika mereka mau tidur bisa kita ceritakan dongeng atau buku yg bercerita ttg hal yg ingin kita sampaikan,seperti kisah Ali dan Nisa terbitan Mizan,ceritanya banyak mengenai adab anak2 usia balita ke bawah,biasanya cerita2 yg kita ceritakan menjelang tidur cepat masuk ke bawah sadar mereka.
_jangan lompat dikasur kalau ada orang tidur_
Boleh kita ubah agar lebih efektif dengan tidak memakai kata jangan,
_siapa yang bisa lompat seperti bunda? (Sambil kita melompat di lantai) dan ajak anak untuk turun_✅
*Aish* Balikpapan
❓1⃣Bagaimana caranya kadang dalam berkomunikasi dengan anak mjd tdk produktif krn dilakukan secara spontan. Terkadang apa yg kita ucapkan terasa blm cocok utk anak balita.
❓2⃣Terkadang kesepakatan yang sudah dibuat sering dilanggar pada kondisi yg benar2 genting. Misalnya sang anak tantrum di keramaian. Jd akhirnya orangtualah yg mengalah dan akhirnya melanggar kesepakatan. Ini apakah ada toleransi atau bagaimana sebaiknya.
Terimakasih
*Tanggapan*
1⃣ Mba Aish di Balikpapan,ingat bahwa kita pernah kecil dan mereka blm dewasa,jd kita usahakan untuk mengatakan yg ingin mereka lakukan,memang berulang2 karena kita sedang mengukir di atas batu.
2⃣ Pada saat anak tantrum,lebih baik abaikan saja,kita orangtuanya kitalah yg paling tau apa yg dibutuhkan anak kita,ketika tantrumnya sudah reda baru kita bilang apa yg kita mau dr mereka,dan peluk mereka,supaya mereka tau bahwa kita mencintai mereka,tp td diabaikan karena sikap mereka tidak baik.
Kalau sekali kita turuti hal ini akan terjadi secara berulang.
Tidak perlu malu dengan orang lain yang melihat ya mba, meskipun hal ini tidak mudah,namun kita sedang mengajak anak belajar. ✅
*Renny*
❓Bagaimana cara dengan membangun komunikasi produktif dengan PASANGAN, tetapi dalam hal ini berkaitan dengan gaya komunikasi yang berbeda antara keluarga saya dengan mertua saya (salah satu orang tua dari suami).
perbedaan itu misalnya seperti ini:
- dalam keluarga saya terbiasa dengan gaya komunikasi yang terbuka dan apa adanya, sementara di pihak orang tua suami terbiasa dengan gaya komunikasi yang tertutup dan "disaring" (tidak semuanya disampaikan secara gamblang).
Bagaimana caranya agar bisa meminimalisir potensi konflik dari perbedaan ini??
*Tanggapan*
Mba Renny semoga tetap semangat ya,
Kita kembali lagi yuk untuk melihat FoE dan FoR,
Situasi ini pernah saya alami, gaya komunikasi keluarga saya dan keluarga suami sangat berbeda. Saya berfikir ini bicara di rumah resmi sekali .
Yang saya lakukan adalah saya menyampaikan apa yang saya inginkan di waktu yang tepat (misalnya ngobrol bersama) dan tidak banyak memberi masukan jika memang tidak di inginkan.
Perlu diingat kita harus tetap menghormati gaya tiap keluarga karena dengan adanya perbedaan inilah kita akan belajar banyak hal.
Tidak mudah, namun pasti bisa. ✅
===========================