Gaya mengajar mama berpotensi menjadi jurang pemisah dengan gaya belajar trioZ. Mama yang cenderung visual ternyata berseberangan dengan si tengah dan si bungsu. Padahal merekalah homeschoolersnya mama. Nah di level#4 ini mama belajar bagaimana caranya memberikan stimulus pengajaran untuk mengasah modalitas belajar trioZ. Dari mereka mama belajar bagaimana memaparkan informasi secara visual, audio, dan kinestetik agar trioZ bisa menerima informasi dengan sempurna, karena trioZ memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.
Jumat, 29 September 2017
Rabu, 27 September 2017
Cemilan Gaya Belajar #4
Cemilan Rabu ke 4
Rabu, 27 September 2017
*PEMBELAJAR MANDIRI*
Menyiapkan anak agar mampu menjadi pembelajar mandiri atau otodidak adalah menyelaraskan diri dengan tuntutan zaman.
Menurut Alvin Toffler, seorang futurolog, mengatakan " _Yang disebut dengan buta huruf pada abad ke-21 bukanlah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang yang tidak bisa belajar, melepaskan yang diketahuinya dan belajar ulang_
Salah satu kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat _survive_ adalah memiliki keterampilan beradaptasi, menjadi seorang pembelajar mandiri yang sigap belajar pengetahuan baru.
Seperti apakah anak yang menjadi pembelajar mandiri??
*Ciri Pembelajar Mandiri*
Memiliki motif internal
Ia akan aktif dan berinisiatif, dia bukan "orang suruhan" yang baru belajar bila disuruh, tetapi memiliki motivasi dari dirinya sendiri untuk belajar
Berorientasi Tujuan
Ia tau apa yang ingin diraihnya.
Terampil mencari bahan belajar
Dia tahu dimana dan bagaimana proses belajar yang dibutuhkannya.
Pandai mengelola diri
Dia tahu kapan harus bekerja keras dan kapan harus beristirahat.
*Apa yang perlu dilakukan untuk menyiapkan anak menjadi pembelajaran mandiri?*
Sediakan lingkungan dan kultur yang kondusif
Kembangkan budaya keluarga yang menghargai inisiatif dan keaktifan anak. Berikan tanggungjawab sesuai perkembangan usianya.
Bangun kebiasaan hidup terencana
Diskusikan dengan anak mengenai mimpi dan rencana-rencana mereka. Bantu mereka untuk merealisasikan yang direncanakan menjadi kenyataan.
Latih Keterampilan belajar
Ajari anak menggunakan mesin pencari, menggunakan kamus, keterampilan bertanya dan
mencari informasi, mengikuti tutorial, peta dan keterampilan hidup lainnya.
_Mari menyiapkan generasi pembelajar mandiri_
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/
Sumber bacaan:
(Apa Itu Homeschooling, Sumardiono, 2014)
Cemilan Gaya Belajar #3
Cemilan Rabu ke 3
Materi ke 4, 20 September 2017
*Mendampingi Anak Untuk Mencapai Tujuan*
Ibarat pertandingan lari antara kelinci dan kura-kura, ada anak yang termasuk si "pelari cepat" ( fast starter) dalam berprestasi. Anak ini sangat hebat di kelas, cepat menangkap pelajaran. Namun ada anak yang (slow starter) berprestasi. Anak ini biasa-biasa saja, tidak peduli atau iri terhadap prestasi anak lain.
Tugas kita sebagai orang tua adalah membantu anak-anak ini belajar tanpa dihantui stres berkepanjangan supaya mampu mencapai "garis finish" kehidupannya dengan selamat dan sukses.
Ada orang yang dizaman sekolah biasa-biasa saja, tetapi ternyata sukses sebagai dokter, pengusaha. Sebaliknya ada lagi yang dianggap berprestasi di sekolah, ternyata "tenggelam" sebagai pecundang. Oleh karena itu coba rileks dan biarkan anak berkembang sesuai jadwal yang ditentukan Sang Pencipta.
*Anak perlu bermain-main dan bersenang-senang*
Otak anak belum dapat dibebani oleh hal-hal berat. Tak heran akibatnya jadi banyak anak mengalami stres. Berikan pembelajaran sesuai usia anak.
*Waspadai gairah belajar anak*
Waspadailah bila gairah belajar anak menurun, sulit berkonsentrasi, sering sakit, dan sebagainya, ada kemungkinan ia mengalami depresi belajar. Ini pertanda anda butuh pertolongan tenaga profesional.
Agar kita sebagai orangtua bisa mendampingi belajar mereka :
♦Kenali gaya belajar anak
Gaya belajar seseorang ada tiga macam, auditori, visual, kinestetik. Segera ketahui gaya belajar anak agar tidak salah dalam mengarahkannya
♦ Asahlah rasa ingin tahu anak
Semua anak secara alamiah mempunyai rasa ingin tahu. Cara orang tua merespon pertanyaan-pertanyaan mereka akan menentukan, apakah rasa ingin tahu ini akan berkembang atau mati. Untuk mengembangkan rasa ingin tahu anak :
1. Beri banyak pengalaman kepada anak yang membuatnya mengajukan pertanyaan dan mengeksplorasi dunia.
2. Biarkan anak mencari atau mencoba sesuatu, "apakah anak ingin tahu apa yang terjadi jika tepung dicampur air? , berikan tepung kepadanya untuk mencoba dan menemukan jawabannya".
Tujuan sebenarnya sebagai orang tua adalah membantu membesarkan anak menjadi dewasa yang *BAHAGIA* dan *PRODUKTIF*.
Memaksa anak menjadi sesuatu yang bukan mereka sebenarnya berarti merusak tujuan sebagai orangtua.
Salam Ibu Profesional.
Tim Fasil Bunda Sayang Batch 2
Sumber :
1. Buku " Mendampingi Anak Belajar" oleh Femi Olivia
2. Buku Membantu Anak punya Ingatan Super oleh Femi Olivia
Selasa, 26 September 2017
Cemilan Gaya Belajar #1
*Cemilan Rabu* ke-1
6 September 2017
*Semua Anak Itu Pintar!*
_Apa yang membuat orang dikatakan "pintar"?_
_Apakah itu karena dia bisa belajar keterampilan baru dengan mudah atau bisa memunculkan ide-ide baru?_
_Apakah kecerdasan itu sesuatu yang sifatnya "warisan" atau sesuatu yang dapat kita kembangkan?_
*Mengamati Kecerdasan Anak dari Perilakunya Sehari-hari*
Kita bisa menemukan kecerdasan pada anak kita dengan mengamati karakteristik-karakteristik seperti berikut:
*1. Kemampuan Bahasa Lisan*
Kosakata yang canggih
Gaya bicaranya penuh warna
Kreatif jika disuruh mendongeng
Pintar melontarkan lelucon dan permainan kata-kata
Dengan mengamati karakteristik di atas kita bisa mencari kreativitas yang tidak biasa atau pengembangan bahasa yang lebih maju dalam percakapan anak kita sehari-hari.
*2. Kemampuan Pembelajaran*
Memiliki kemampuan mempelajari informasi baru dengan cepat
Memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang berbagai topik
Memiliki kemampuan untuk menemukan hubungan di antara ide-ide yang beragam
Memiliki daya ingat (memori) yang baik
Selanjutnya kita bisa membuat catatan dari situasi di mana anak belajar dan memahami materi baru dengan lebih cepat daripada teman-temannya. Dalam hal ini, kita harus pandai-pandai menemukan analogi dan interkoneksi kreatif yang ditampilkan anak.
*3. Kemampuan Pemecahan Masalah*
Memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang menantang
Fleksibel dalam menerapkan strategi yang telah dia pelajari sebelumnya dalam memecahkan masalah yang baru
Memiliki kemampuan untuk berimprovisasi dengan benda-benda dan mateeial yang ada di sekitarnya
Dengan memberikan tugas dan problem yang tidak biasa di mana anak tidak memeliki strategi yang siap pakai.
*4. Strategi Kognitif dan Metakognitif*
Menggunakan strategi pembelajaran yang canggih
Berkeinginan untuk bisa _memahami_ bukan _menghapal_
Mudah paham dan mengerti serta efektif dalam memerhatikan sesuatu
Kita bisa meminta anak untuk menjelaskan bagaimana mereka menciptakan cara untuk hal-hal yang ingin mereka pelajari atau yang ingin mereka mudah untuk mengingatnya.
*5. Memiliki Rasa Ingin Tahu*
Haus akan ilmu pengetahuan
Cenderung banyak mengajukan pertanyaan
Adanya motivasi intrinsik untuk menguasai materi pelajaran yang menantang
Bagaimana caranya kita mematik rasa keingintahuan anak-anak, salah satunya adalah dengan mencari tahu apa yang ingin anak-anak lakukan di waktu luang mereka. Dari situ kita bisa membantunya dengan melempar pertanyaan (5W+1H) sehingga dari situ anak-anak akan mulai mencari tahu sebanyak-banyaknya.
*6. Kemampuan Kepemimpinan dan Jiwa Sosial*
Memiliki kemampuan untuk membujuk dan memotivasi orang lain
Memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap perasaan ada bahasa tubuh orang lain
Memiliki kemampuan untuk menengahi perbedaan pendapat dan membantu orang lain untuk bisa mencapai kesepakatan
Coba perhatikan bagaimana cara anak-anak kita berinteraksi dengan teman-teman mereka di lingkungan permainan, kelompok belajar, dan aktivitas lainnya. Apakah anak-anak kita sering tampil sebagai pemimpin ataukah seringnya menjadi _follower_ saja ataukah memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap siapapun ataukah lebih cuek dan cenderung tidak perduli dengan sekitarnya.
Salam Ibu Profesional
/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2 /
Sumber:
Priyatna, Andri (2013). _Pahami Gaya Belajar Anak_. Jakarta, Kompas Gramedia.
Selasa, 19 September 2017
Gaya Belajar Anak #13
Salah satu aktivitas menyenangkan saat jemput kakak Z pulang sekolah adalah main ke kandang sapi. Disana trioZ bisa eksplorasi tentang sapi. Hal paling mudah dan mendasar adalah memberi makan sapi. TrioZ belajar kalau sapi itu makan rumput gajah, rumput, kangkung, dedaunan. Aktivitas di kandang sapi ini memberi stimulasi visual, auditori, dan kinestetik untuk trioZ. Dan aktivitas ini selalu menjadi aktivitas berulang dan dinantikan oleh trioZ.
#Day13
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Gaya Belajar Anak #12
Malam ini si abang Z iseng utak atik whatsapp di hp mama. Akhirnya mama tunjukkan emoticon hewan dan bola di chat wa. Wah abang senang banget dan fokus lihat setiap emot sambil menyebutkan nama-nama hewan yang abang tahu. Aih... gak nyangka ini bisa jadi stimulus visual untuk abang Z.
#Day12
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Minggu, 17 September 2017
Gaya Belajar Anak #11
Pagi ini ketika mama sedang jemuran terdengar sayup-sayup suara nyanyian oleh abangZ. Karena si abang belum fasih pengucapannya jadi mama harus fokus sejenak untuk tahu lagu apa yang sedang dinyanyikannya. Selama ini abang cuma menguasai 1 lagu yaitu cicak, nah lagu yang dinyanyikan pagi ini nadanya beda, ugh... mama tambah penasaran.
Setelah mama dengarkan dengan seksama barulah mama sadar oh ternyata lagu hujan.
Tik...tik...tik... nyi... jan... tas... ting... ai...ya...wun...
Wah mama terperanjat... karena ini gak ada yang ajari. Bener-bener accidental. Karena beberapa hari ini hujan, jadi kadang mama dan nengZ menyanyikan lagu hujan. Ternyata abangZ memiliki modalitas auditori sehingga nyanyian mama menjadi stimulasi untuk otaknya merekam informasi. Ketika diminta untuk tampil menyanyi abang hanya menyanyi sebentar lalu berhenti sambil tertawa malu :)
#Day11
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KelasBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Jumat, 15 September 2017
Gaya Belajar Anak #10
Hari ini kakak Z dan neng Z ikut mama kopdar IIP Samarinda yang kegiatannya berupa cooking class pizza maker junior di pizza hut. Tidak hanya cooking class pizza, anak-anak juga mendapat aktivitas mewarnai di coloring book yang telah disiapkan pihak PH.
Kebetulan kakak dan neng ini memang suka memasak dan ngubek dapur. Pengalaman masuk dapur pizza hut menjadi pengalaman berharga untuk mereka. Kakak si tipe visual senang melihat kondisi dapur dan aktivitas orang-orang didalamnya. Sementara neng si tipe auditori-kinestetis senang saat mengikuti komando dari chef saat diminta memberi topping pada pizza. Pengalaman belajar hari ini menyenangkan sekali untuk duoZ.
#Day10
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Gaya Belajar Anak #9
Ini cerita lanjutan tentang si tengah yang sedang belajar membaca. Untuk stimulasi visual akhirnya mama sediakan 1 dinding sebagai word bank. Mama pilih kata yang memang nengZ sudah paham konkritnya. Mama bantu ajarkan dengan membunyikan kata-katanya. Harapannya agar neng terbiasa melihat kata-kata tersebut sehingga bisa memvisualkan bentuk konkrit dengan rangkaian huruf yang membentuk kata-katanya. Rencananya setelah terbiasa, kosa kata ini akan mama ganti dengan kosa kata baru.
#Day9
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Kamis, 14 September 2017
Gaya Belajar Anak #8
Malam ini kami ber-5 menghabiskan waktu di kamar kakak. Mama membacakan cerita tentang sahabiyah. Pendengar setia adalah si sulung. Sementara si tengah sedang asyik pretend play as student ;) dan si bungsu sedang asyik bergerak kesana-kemari. Karena cuma kami berdua maka kami ambil posisi nyaman berdekatan. Sambil mama bacakan kakak turut melihat kata demi kata di buku tersebut. Mama berfikir oh... inilah bentuk stimulasi untuk modalitas audio kakak namun karena modalitas kakak cenderung dominan visual maka gaya visualnya pun sangat terasa saat melakukan aktivitas membaca bersama ini.
#Day8
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Rabu, 13 September 2017
Gaya Belajar Anak #7
Akhir-akhir ini sensitif period-nya trioZ adalah kelerang. Maklumlah lagi musim kelereng dan trioZ punya sekitar > 500 kelereng.
Mama tinggal ikuti alur main si abang Z. Ketika lagi suka lempar-lempar kelereng maka mama ajak main basket kelereng. Lagi suka ketek kelereng, mama ajak untuk bidik masuk ke keranjang. Ya sebenernya biar terarah aja sih. Soalnya kalau kelerengnya hamburan kemana-mana kan mama juga yang pusing, belum lagi klo keiinjek, nyess banget di kaki.
Terowongan kelereng ini juga salah satu mainan yang mama arahkan biar kelerengnya langsung masuk ke keranjang. Aktivitas ini lumayan bisa buat trioZ betah main di dalam rumah. Terowongannya juga bisa dibongkar pasang sesuai keinginan trioZ. Aktivitas ini melatih akurasi dan presisi trioZ dalam menempatkan keranjang biar kelerengnya langsung masuk keranjang. Sengaja dibuat cukup tinggi supaya trioZ main sambil berdiri dan bergerak leluasa untuk memberi ruang gaya kinestetiknya. Melatih visual trioZ ketika ada terowongan yang tidak tersambung sehingga kelerengnya tertahan. Kalau sudah begini biasanya si sulung yang turun tangan untuk membenahi terowongannya. Ini salah satu aktivitas produktif dimana trioZ menampakkan indikator 4E ketika menjalaninya.
#Day7
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Selasa, 12 September 2017
Gaya Belajar Anak #6
Si bungsu lagi suka main papan audio 3 in 1 ini. Setelah mama amati papan ini ternyata bisa memberikan stimulasi utk gaya belajar anak.
Papan ini perlu ditekan tombolnya agar berbunyi. Di setiap tombol ada gambar mewakili kata yang disebutkan. Tombolnya datar tidak seperti keyboard yang timbul.
Si abang senang menirukan ujung kata yang diucapkan oleh audio ini bermanfaat dalam menstimulus gaya auditori. Selain itu abang juga telaten melihat gambar di setiap tombol papan. Abang senang menyebutkan gambar-gambar yang telah diketahuinya. Ini bisa menstimulasi gaya visualnya. Dan yang terakhir aktivitas tekan menekan tombol ini cukup bisa membuatnya berkonsentrasi lebih lama. Sepertinya karena gaya kinestetiknya tersalurkan maka rentang fokusnya bisa lebih lama.
Aktivitas hari ini on track karena mama dan abang sama-sama bahagia :)
#Day6
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Senin, 11 September 2017
Gaya Belajar Anak #5
Hari ini mama mendapat pelajaran berharga ketika mengajari neng Z membaca. Neng Z sekarang berada di level buku jilid 2A. Kami berdua merasa kesulitan di level ini. Mama bingung kenapa neng tidak kunjung bisa dengan kosa kata 2 suku kata 3 huruf (contoh: ka-mar, si-rup). Akhirnya neng minta beralih ke buku 2B. Di buku 2B isinya berupa kalimat dengan kosakata dari buku jilid 2A.
Ternyata neng lebih mudah memahami dalam bentuk kalimat daripada kosa kata tunggal. Dari satu kalimat yang dibacanya ia bisa bertanya maupun berimajinasi mengenai makna kalimat tersebut.
Memang sebelumnya mama memiliki kecurigaan bahwa neng bisa lanjut terus membaca di sekolahnya (dulu) karena ia hafal dengan kata-katanya. Ketika ia salah membaca maka gurunya akan membenarkan. Nah dari situlah ia merekam cara membaca kata tersebut dan ketika esoknya dites gurunya ia sudah bisa mengucapkan kata tersebut. Kebiasaan ini masih terbawa ketika neng homeschooling. Yang masih suka terpancing adalah si sulung. Ketika neng meminta kakaknya membacakan kata untuknya maka ia akan mengulanginya, ketika membaca bersama mama ia sudah betul mengucapkan kata-kata di bukunya :D terasa sekali kekuatan auditorinya si neng.
Sekarang tantangan mama adalah memvisualkan kosakata agar neng terbiasa melihat huruf dan sekaligus makna kata-kata tersebut. Karena pola pikirnya masih abstrak maka sepertinya mama akan menyebar kosakata di seluruh rumah. Semangat mama....
#Day5
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Minggu, 10 September 2017
Gaya belajar anak #4
Making doughnuts was trioZ main activity for sunday morning.
Si sulung yang visual memulai dengan membaca kotak tepung premiks donat yang akan kami gunakan.
Si tengah yang auditori menyerap informasi yang dibacakan oleh kakaknya.
Si bungsu sepertinya hanya tertarik menghabiskan donatnya. Abang Z, tidak ikut mengadon bersama kami. Abang Z lebih asyik dengan mainannya sambil ngiderin ruangan di rumah.
#Day4
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Sabtu, 09 September 2017
Gaya Belajar Anak #3
Sabtu ceria bersama trioZ di rumah. Hari ini pengen bahas gaya belajar si sulung yang kebetulan libur sekolah jadi bisa ikut beraktivitas bersama.
Kak Z ini sejak kecil sudah terlihat memiliki modalitas belajar visual. Senang dengan buku dan suka coret-coret di bukunya. Sejak awal bisa membaca, setiap kami jalan, kak Z selalu membaca plang/reklame di jalanan. Sekarang kak Z mulai suka berkreasi dengan warna dan font tulisan. Terkadang mama suka menemukan anekdot berupa gambar/ tulisan di buku pelajarannya.
Saat ini kakak cukup sering diajak bapak mendengarkan ceramah/sirah melalui youtube. Biasanya sebelum tidur bapak menyetelkan youtube dari hp beliau dan kakak akan mendengarkannya hingga tertidur :)
Kak Z sudah mulai bisa diajak berpikir abstrak. Jadi walaupun tidak dibantu dengan visualisasi tapi kak Z tetap bisa paham cerita audionya.
#Day3
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#IbuProfesional
#IIP
Jumat, 08 September 2017
Gaya Belajar Anak #2
Hari ini aktivitas kami lebih sedikit karena harus ke rumah nenek. Pagi ini mama dan abang Z main dengan cangkang telur. Animal figure-nya mama sembunyikan di bawah cangkang telur dan abang Z harus menyelamatkan hewan-hewannya dengan cara memecah cangkang telur. Aktivitas ini selain bertujuan untuk melatih motorik kasar-halus juga koordinasi tangan-mata abang Z.
Khusus untuk si abang Z yang baru berusia 2,5 tahun ini mama berniat untuk mengenalkan semua gaya belajar dengan beragam aktivitas. Nanti semakin ia besar maka akan semakin tampak kecenderungan gaya belajarnya.
Sore hari kami isi dengan aktivitas review anggota tubuh. Kebetulan abang Z habis mandi, kesempatan deh main tebakan nama anggota tubuhnya. Abang Z akan lebih cepat menyerap kosakata baru jika diimbangi antara vokal dengan bentuk kongkrit. Seperti aktivitas mengenal anggota tubuh ini, mama ajarkan dengan mengajaknya meraba anggota tubuhnya sambil bercermin.
#Day2
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
Rabu, 06 September 2017
Gaya Belajar Anak
Hari ini adalah hari pertama dimulainya tantangan game level#4 kuliah bunsay#2. Materi di level#4 ini adalah gaya belajar anak.
Dari pengalaman mama membersamai trioZ, sebenarnya modalitas belajar masing-masing anak sudah terlihat. Si sulung lebih cenderung visual, si tengah auditori, si bungsu kinestetik. Kebayang kan kalau beraktivitas bersama, mama harus membersamai trioZ dengan gaya belajarnya masing-masing :D
Tantangan game level#4 ini akan mama jalani dengan mencatat aktivitas yang kami jalani bersama sehari-hari. Harapannya catatan ini akan menjadi data akurat mengenai gaya belajar trioZ.
Hari ini si tengah dan bungsu main "kelereng basket". Kebetulan sedang musim kelereng di komplek. Jadi trioZ punya buaanyaaak stok kelereng. Mama mencontohkan melempar kelereng ke keranjang yang berjarak 1 ubin di depan. Setelah melihat contoh, Si bungsu langsung tanggap dan mulai asyik melempar. Untuk si tengah, mama memberikan instruksi berupa kalimat perintah tanpa contoh.
Aktivitas kelereng basket ini banyak manfaatnya lho. Selain melatih kemampuan visual-spasial dalam hal akurasi lemparan dengan jarak keranjang, motorik kasar dan halus juga terasah. Tapi yang terpenting adalah aktivitas ini menyenangkan untuk mereka :)
#Day1
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#IbuProfesional
#IIP
Materi#4 Kelas Bunsay#2
Institut Ibu Profesional
Kelas Bunda Sayang
Materi #4
MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR
Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita,
apabila ada hal-hal yang belum kita pahami, lebih cenderung diam, tidak berani untuk
menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, banyak bertanya dianggap
bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.
Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami
bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya
orangtua/guru kita mengajar.
Sehingga anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya,
akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah” dan kadang mendapat label
“bodoh”.
Jaman berubah, dan terus akan berubah.
*Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru
di dunia pendidikan.
Dari sisi orangtua/pendidik :*
Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar
mengajar dengan cara mereka BISA belajar
Dari sisi anak/siswa:
Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA
yang BERBEDA.
Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak Learning Styles) dan
memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik (Teaching Styles) karena kedua hal tersebut
di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak (Working Styles).
Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20,
yang didefinisikan Alvin Toffler sbb :
_Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca
dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali
belajar._
Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih
dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.
*Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu :*
a.Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak ( Intellectual Curiosity)
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya ( Creative Imagination)
c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu ( Art of
Discovery and Invention)
d.Meningkatkan akhlak mulia anak-anak ( Noble Attitude)
*Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar.* Buatlah pengamatan
secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah?
Apakah
kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita/selama di sekolah?
Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar Aha! (Moment teriakan “Aha! Aku
tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah
semakin meningkatkan akhlak mulianya?
Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami
berbagai gaya belajar anak-anak.Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika
diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih
baik.
Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai
gaya belajar yang berbeda-beda.
Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang kita miliki.
*Tiga macam modalitas belajar anak:*
☘Auditory : modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita,
dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair,
dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Visual : modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik,
serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan
hal-hal lain yang terkait.
Mari kita pahami gaya belajar tersebut secara detil, kita pahami ciri-cirinya dan bagaimana
strategi kita untuk mendampingi anak-anak dengan gaya belajarnya masing-masing.
GAYA BELAJAR VISUAL ( Belajar dengan cara melihat)
Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi anak yang bergaya belajar visual,
mata / penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar, dalam hal ini metode
pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan /
media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan
cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan
tulis.
Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka
gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar
dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan
belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku
pelajaran bergambar, dan video.
*Ciri-ciri gaya belajar visual :*
Bicara agak cepat
Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
Tidak mudah terganggu oleh keributan
Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
Lebih suka membaca dari pada dibacakan
Pembaca cepat dan tekun
Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
Lebih suka musik
Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta
bantuan orang untuk mengulanginya.
*Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :*
Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
GAYA BELAJAR AUDITORI (belajar dengan cara mendengar)
Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara. Anak yang bertipe auditori mengandalkan
kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka ibu/ guru
sebaiknya harus memperhatikan siswa/anaknya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang
mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal
dan mendengarkan apa yang guru/ibu katakan.
Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi
rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang
mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibandngkan dengan mendengarkannya.
Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan
keras dan mendengarkan kaset.
*Ciri-ciri gaya belajar auditori :*
Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
Penampilan rapi.
Mudah terganggu oleh keributan
Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
Biasanya ia pembicara yang fasih
Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
Berbicara dalam irama yang terpola
Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
*Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :*
Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam
keluarga.
Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk
mendengarkannya sebelum tidur.
GAYA BELAJAR KINESTETIK (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar
kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk
duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah
kuat. Anak yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.
*Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :*
Berbicara perlahan
Penampilan rapi
Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
Belajar melalui memanipulasi dan praktek
Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
Menyukai permainan yang menyibukkan
Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka.
Menggunakan kata-kata yang
mengandung aksi.
*Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:*
Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca
sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.
Ketika belajar memahami anak-anak, sejatinya kita sedang belajar memahami diri kita sendiri.
Apabila bunda semuanya bisa melihat gaya belajar anak-anak karena sering mengamati
perkembangan mereka, maka kitapun akan dengan mudah mengamati gaya belajar kita, gaya
mengajar kita dan gaya bekerja kita.
Hal ini akan lebih membuat kita bahagia menjalankan proses belajar. Dijamin proses belajar
juga tidak akan pernah berhenti dari buaian sampai ke liang lahat.
Anak-anak sangat menyukai bermain, karena energi yang dimunculkan ketika bermain tidak
akan pernah habis. Apabila kita bisa memaknai belajar dan bekerja selayaknya anak-anak
bermain, sudah dapat dibayangkan betapa asyiknya belajar dan bekerja dalam kehidupan ini.
Karena setiap saat anak-anak akan menemukan energi yang terbarukan dalam proses
belajarnya dan kita akan mendapatkan energi yang terbarukan dalam proses bekerja.
_Don’t Teach me , I Love to Learn_
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Sumber Bacaan:
Gordon Dryden and JeanetteVos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009
Barbara Prashing, The Power of Learning Styles, Kaifa, 2014
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Memahami Gaya Belajar Anak, GazaMedia, 2016
Sabtu, 02 September 2017
Aliran rasa game level#3
Alhamdulillah, walaupun sempat mengalami kendala teknis namun mama tetap berkomitmen lulus game level#3. Sekarang giliran aliran rasa ini yang molor sehari dari jadwal. Mohon maaf ya mbak-mbak semua....
Menjalani bulan Agustus dengan tantangan family project membuat mama serasa berada di gunung tertinggi. Mendaki gunung family projectnya berbekal komunikasi produktif dan latihan kemandirian.
Family project#1 adalah big project kami. Kami berusaha mewujudkan kids reading corner di rumah. Alhamdulillah di akhir bulan, project ini terwujud. Selanjutnya adalah project-project kecil yang kami lakukan bersama selama tantangan game level#3.
Kebetulan di bulan Agustus ini mama mengikuti seminar homeschooling fasilitator, sedikit banyak ini mempengaruhi pola pikir dan pandangan kami sebagai orang tua kedepannya. Dengan menerapkan komunikasi produktif bersama bapak, akhirnya kami merevisi value keluarga. Ketika kami berdua sudah sepakat maka kami sampaikan ke anak-anak di family forum. Dengan ilmu di level#3 ini, sekarang kami punya family forum saat sarapan bersama :)
Gunung family project telah berhasil didaki. Saatnya melanjutkan mendaki gunung yang lebih tinggi. I'm ready to climb level#4, insyaa Allah :)