Senin, 22 Oktober 2018

Keinginan vs Kebutuhan


Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh…
Tantangan level 8 ini sangat membekas di hati. Mengusung tema “cerdas finansial” tantangan ini lebih ditujukan kepada ibu daripada anaknya ;) Level 8 ini mengandung warning agar orang tua berproses bersama anak agar cerdas finansial dengan metode learning by teaching.
Pada jurnal belajar level 8 ini, saya akan mengupas sisi “Membedakan Antara Keinginan vs Kebutuhan”. Inilah tantangan terberat saya dalam hal finansial. Selama menjalani tantangan ini saya menggunakan prinsip ”For Things To Change, I Must Change First”.

 Picture credit to madestya harsa, edited via snapseed.

Apa sih sebenarnya keinginan itu? Apa bedanya dengan kebutuhan? Terus mengapa dengan bisa membedakan keduanya kita bisa menjadi sedikit lebih cerdas finansial? Cermati.com memberikan penjelasan keinginan dan kebutuhan sebagai berikut :
“Secara bahasa, kebutuhan adalah segala hasrat yang timbul dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi dapat mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Barang yang termasuk dalam kelompok kebutuhan juga memberikan aspek psikologis yang menjadi dasar atau alasan makhluk hidup dalam menjalankan aktivitas-aktivitasnya. Sebab, pada dasarnya manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
Apa saja barang yang masuk dalam kelompok kebutuhan? Mungkin kamu pernah mendengar istilah “sandang, pangan, dan papan” atau pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Apa hanya itu saja? Tidak, masih banyak lagi, seperti kesehatan, pendidikan, pendapatan, dan lainnya yang bisa mempengaruhi kehidupan kita.
Bertolak belakang dengan kebutuhan, keinginan adalah segala hasrat yang timbul dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi tidak mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Keinginan sebenarnya juga harus dipenuhi, agar manusia merasa lebih puas guna meningkatkan kesejahteraan. Tapi kalaupun tidak terpenuhi, maka kesejahteraan manusia tersebut tidak akan berkurang dan tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidupnya.
Apa saja produk yang termasuk dalam keinginan? Banyak sekali! Bahkan pakaian pun bisa berubah menjadi produk yang termasuk keinginan. Hal ini disebabkan karena tujuan pembeliannya hanya untuk memenuhi hasrat akan kesukaannya pada produk itu, bukan karena dia sudah tidak punya baju lagi atau butuh.”

Nah, sekarang sudah mulai ada pencerahan seputar perbedaan keinginan vs kebutuhan. Saatnya melatih diri menanamkan konsep keinginan dan kebutuhan ini dalam diri kita sebagai ibu yang juga merangkap sebagai manajer keuangan keluarga. Sambil belajar untuk diri kita sendiri yuk ajarkan juga untuk anak-anak kita. Waah, belajar untuk diri sendiri aja belum tuntas, mosok mesti ajarin anak juga? Eits jangan salah… menurut Bambang Trim dalam bukunya Kids on Business, “dua konsep kata sifat ini (keinginan & kebutuhan) harus sejak dini dipahami anak agar anak benar-benar dapat memilih prioritas, yaitu apa yang paling dibutuhkannya, bukan apa yang paling diinginkannya”. Bila kita bisa memahamkan pada anak-anak kita, insyaallah mereka akan tumbuh dengan pemahaman yang benar dan berpeluang menjadi orang yang cerdas finansial.

Oke, sekarang saya sudah paham teorinya perbedaan keingan vs kebutuhan. Saatnya kita eksekusi dalam kehidupan sehari-hari. Coba kita cek dengan ilustrasi berikut :
Ilustrasi 1 :
Weekend lalu, saya dan si bungsu sedang berjalan ke mall. Si bungsu sedang asyik bermain lego di salah satu toko mainan. Ternyata saat itu sedang ada diskon 50% untuk lego jenis tertentu. Bila ditimbang-timbang harga diskon saat itu jauh lebih murah dibandingkan dengan jastip lego dengan teman yang sedang di Jepang. Wah… dilema sekali perasaan saya saat itu. Pegang… taruh… maju mundur mau ke kasir :D apakah akhirnya saya membeli lego diskonnya?
Ilustrasi 2 :
Beberapa tahun yang lalu, saat si sulung masih kelas 2 SD (sekarang kelas 5). Keluarga besar kami sedang jalan ke mall. Dengan niat membelikan si tengah sepatu baru karena mulai masuk PG. Ternyata, toko sepatu itu juga menjual berbagai macam tas. Alhasil si sulung mulai merengek minta dibelikan tas sekolah model trolley. Kebayang gak gimana dia merengek sepanjang mall di depan keluarga besar pula??? Akhirnya neneknya tidak tega dan mengabulkan keinginan si sulung. Si sulung sukses pulang dengan membawa tas baru serta senyumnya yang merekah sepanjang jalan.

Dari dua ilustrasi diatas, apakah ada teman-teman yang pernah mendapatkan pengalaman serupa? Bagaimana teman-teman menyikapinya? Sekarang mari kita hubungkan dengan konsep keinginan vs kebutuhan yang tadi sudah kita bahas di atas.

Dalam ilustrasi 1, akhirnya saya tetap teguh tidak membeli lego diskonan tersebut. Alhamdulillah, karena sudah melalui level 8 kelas bunda sayang jadi sudah tahu ilmunya, sekarang saatnya konsisten dalam mengamalkan ilmu yang sudah didapat. Selama si bungsu bermain lego, saya merenung bahwa membeli lego diskon saat itu adalah keinginan saya semata, toh si bungsu tidak meminta dibelikan lego itu. Jelas bahwa lego itu, walaupun sedang diskon, bukalah suatu kebutuhan bagi saya.

Sementara itu, kejadian di ilustrasi 2, memberikan pelajaran berharga bagi saya dan si sulung. Tas model trolley yang diinginkannya tidak cukup sesuai dengan kondisi jalan sekolahnya yang lapangan parkirnya berhiaskan batu koral. Alhasil kadang ia harus menggotong tasnya, alih-alih merasa nyaman dengan mendorong tas yang ada rodanya. Dari kejadian inilah, saya sangat setuju jika anak diajarkan konsep keinginan vs kebutuhan sedari dini. Jika saja saat itu saya lebih berilmu, mungkin saya akan menerapkan tips dari pak Bambang Trim dalam bukunya Kids On Business, latih anak untuk mendapatkan keinginannya dengan cara menabung. Ini sejalan dengan prinsip yang disarankan pada level ini yaitu: latih – percayai – jalani – supervisi – latih lagi.

Kalau kebutuhan itu memang harus dipenuhi, bukan berarti keinginan tidak boleh dipenuhi. Tentu saja boleh, asalkan dengan cara yang benar ;)
Selamat belajar menjadi lebih cerdas finansial. Karena cerdas finansial ibu berpengaruh pada anak.
Wassalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh.

#BunsayLeader
#JurnalBelajar
#Level8
#CerdasFinansial
#KuliahBunsayIIP



Referensi :
1.      Trim, Bambang. 2010. Kids On Business: Vaksin Wirausaha Untuk Ananda. Jakarta: Tiga Kelana.
2.      https://www.cermati.com/artikel/mengelola-kebutuhan-dan-keinginan-terdengar-mudah-tapi-sulit-1 diakses pada tanggal 23 ktober 2018 Pukul 10.41 Wita.
3.    Bayinah, Ai Nur. 2013.  Ladies, Belanjakan Saja Semua Uangmu. Jakarta : Visimedia.