Assalamu’alaykum
warohmatullahi wabarokatuh…
Tantangan
level 8 ini sangat membekas di hati. Mengusung tema “cerdas finansial” tantangan ini lebih ditujukan kepada ibu
daripada anaknya ;) Level 8 ini mengandung warning agar orang tua berproses bersama anak agar cerdas finansial
dengan metode learning by teaching.
Pada jurnal
belajar level 8 ini, saya akan mengupas sisi “Membedakan Antara Keinginan vs
Kebutuhan”. Inilah tantangan terberat saya dalam hal finansial. Selama
menjalani tantangan ini saya menggunakan prinsip ”For Things To Change, I Must
Change First”.
Picture
credit to madestya harsa, edited via snapseed.
Apa sih
sebenarnya keinginan itu? Apa bedanya dengan kebutuhan? Terus mengapa dengan
bisa membedakan keduanya kita bisa menjadi sedikit lebih cerdas finansial?
Cermati.com memberikan penjelasan keinginan dan kebutuhan sebagai berikut :
“Secara bahasa, kebutuhan adalah segala
hasrat yang timbul dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi dapat
mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Barang yang termasuk dalam kelompok
kebutuhan juga memberikan aspek psikologis yang menjadi dasar atau alasan
makhluk hidup dalam menjalankan aktivitas-aktivitasnya. Sebab, pada dasarnya
manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
Apa saja barang yang masuk dalam kelompok
kebutuhan? Mungkin kamu pernah mendengar istilah “sandang, pangan, dan papan”
atau pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Apa hanya itu saja? Tidak, masih
banyak lagi, seperti kesehatan, pendidikan, pendapatan, dan lainnya yang bisa
mempengaruhi kehidupan kita.
Bertolak belakang dengan kebutuhan, keinginan
adalah segala hasrat yang timbul dalam diri manusia yang jika tidak terpenuhi
tidak mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Keinginan sebenarnya juga harus
dipenuhi, agar manusia merasa lebih puas guna meningkatkan kesejahteraan. Tapi
kalaupun tidak terpenuhi, maka kesejahteraan manusia tersebut tidak akan
berkurang dan tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidupnya.
Apa saja produk yang termasuk dalam
keinginan? Banyak sekali! Bahkan pakaian pun bisa berubah menjadi produk yang
termasuk keinginan. Hal ini disebabkan karena tujuan pembeliannya hanya untuk
memenuhi hasrat akan kesukaannya pada produk itu, bukan karena dia sudah tidak
punya baju lagi atau butuh.”
Nah,
sekarang sudah mulai ada pencerahan seputar perbedaan keinginan vs kebutuhan.
Saatnya melatih diri menanamkan konsep keinginan dan kebutuhan ini dalam diri
kita sebagai ibu yang juga merangkap sebagai manajer keuangan keluarga. Sambil
belajar untuk diri kita sendiri yuk ajarkan juga untuk anak-anak kita. Waah,
belajar untuk diri sendiri aja belum tuntas, mosok mesti ajarin anak juga? Eits
jangan salah… menurut Bambang Trim dalam bukunya Kids on Business, “dua konsep kata sifat ini (keinginan &
kebutuhan) harus sejak dini dipahami anak agar anak benar-benar dapat memilih
prioritas, yaitu apa yang paling dibutuhkannya, bukan apa yang paling
diinginkannya”. Bila kita bisa memahamkan pada anak-anak kita, insyaallah
mereka akan tumbuh dengan pemahaman yang benar dan berpeluang menjadi orang
yang cerdas finansial.
Oke,
sekarang saya sudah paham teorinya perbedaan keingan vs kebutuhan. Saatnya kita
eksekusi dalam kehidupan sehari-hari. Coba kita cek dengan ilustrasi berikut :
Ilustrasi 1
:
Weekend lalu,
saya dan si bungsu sedang berjalan ke mall. Si bungsu sedang asyik bermain lego
di salah satu toko mainan. Ternyata saat itu sedang ada diskon 50% untuk lego jenis
tertentu. Bila ditimbang-timbang harga diskon saat itu jauh lebih murah
dibandingkan dengan jastip lego dengan teman yang sedang di Jepang. Wah… dilema
sekali perasaan saya saat itu. Pegang… taruh… maju mundur mau ke kasir :D apakah
akhirnya saya membeli lego diskonnya?
Ilustrasi 2
:
Beberapa tahun
yang lalu, saat si sulung masih kelas 2 SD (sekarang kelas 5). Keluarga besar
kami sedang jalan ke mall. Dengan niat membelikan si tengah sepatu baru karena
mulai masuk PG. Ternyata, toko sepatu itu juga menjual berbagai macam tas. Alhasil
si sulung mulai merengek minta dibelikan tas sekolah model trolley. Kebayang
gak gimana dia merengek sepanjang mall di depan keluarga besar pula??? Akhirnya
neneknya tidak tega dan mengabulkan keinginan si sulung. Si sulung sukses
pulang dengan membawa tas baru serta senyumnya yang merekah sepanjang jalan.
Dari dua
ilustrasi diatas, apakah ada teman-teman yang pernah mendapatkan pengalaman
serupa? Bagaimana teman-teman menyikapinya? Sekarang mari kita hubungkan dengan
konsep keinginan vs kebutuhan yang tadi sudah kita bahas di atas.
Dalam ilustrasi
1, akhirnya saya tetap teguh tidak membeli lego diskonan tersebut. Alhamdulillah,
karena sudah melalui level 8 kelas bunda sayang jadi sudah tahu ilmunya,
sekarang saatnya konsisten dalam mengamalkan ilmu yang sudah didapat. Selama si
bungsu bermain lego, saya merenung bahwa membeli lego diskon saat itu adalah
keinginan saya semata, toh si bungsu tidak meminta dibelikan lego itu. Jelas bahwa
lego itu, walaupun sedang diskon, bukalah suatu kebutuhan bagi saya.
Sementara itu,
kejadian di ilustrasi 2, memberikan pelajaran berharga bagi saya dan si sulung.
Tas model trolley yang diinginkannya tidak cukup sesuai dengan kondisi jalan
sekolahnya yang lapangan parkirnya berhiaskan batu koral. Alhasil kadang ia
harus menggotong tasnya, alih-alih merasa nyaman dengan mendorong tas yang ada
rodanya. Dari kejadian inilah, saya sangat setuju jika anak diajarkan konsep
keinginan vs kebutuhan sedari dini. Jika saja saat itu saya lebih berilmu,
mungkin saya akan menerapkan tips dari pak Bambang Trim dalam bukunya Kids On Business,
latih anak untuk mendapatkan keinginannya dengan cara menabung. Ini sejalan
dengan prinsip yang disarankan pada level ini yaitu: latih – percayai – jalani –
supervisi – latih lagi.
Kalau kebutuhan
itu memang harus dipenuhi, bukan berarti keinginan tidak boleh dipenuhi. Tentu saja
boleh, asalkan dengan cara yang benar ;)
Selamat belajar
menjadi lebih cerdas finansial. Karena cerdas finansial ibu berpengaruh pada
anak.
Wassalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh.
#BunsayLeader
#JurnalBelajar
#Level8
#CerdasFinansial
#KuliahBunsayIIP
Referensi :
1.
Trim,
Bambang. 2010. Kids On Business: Vaksin Wirausaha Untuk Ananda. Jakarta: Tiga
Kelana.
2.
https://www.cermati.com/artikel/mengelola-kebutuhan-dan-keinginan-terdengar-mudah-tapi-sulit-1 diakses pada tanggal 23 ktober 2018 Pukul
10.41 Wita.
3. Bayinah, Ai Nur. 2013. Ladies, Belanjakan Saja Semua Uangmu. Jakarta : Visimedia.
