Senin, 26 Juni 2017

Cemilan komprod #3

��Cemilan Rabu 3��
14 Juni 2017

_Ratna dan Galih bersiap untuk pergi ke resepsi pernikahan sahabat Ratna. Ratna telah membeli gaun baru dan ingin tampil sempurna. Dia memegang dua pasang sepatu, yang pertama berwarna biru, dan yang kedua berwarna keemasan. Kemudian Ratna mengajukan pertanyaan pada Galih, pertanyaan yang paling ditakuti para pria, “Sayang, sepatu yang mana yang cocok untuk gaun ini?”_

_Rasa dingin menjalari punggung Galih. Ia tahu ia dalam kesulitan. “Ahh … umm … yang mana saja yang kamu suka, sayang,” jawabnya dengan tergagap._

_“Ayolah, mas,” desak istrinya dengan tidak sabar. “Yang mana yang lebih bagus … Yang biru atau yang keemasan?_

_“Keemasan!” sahut Galih gugup._

_“Emangnya apa yang salah dengan sepatu biru ini?” tanya Ratna. “Kamu memang ngga suka kan aku beli sepatu ini, Mas!”_

_Bahu Galih melorot. “Kalau kami ngga terima pendapatku, jangan bertanya dong!” katanya. Galih pikir istrinya bertanya untuk menyelesaikan “masalah”, tetapi ketika ia memberikan jawaban, istrinya sama sekali tidak berterima kasih._

����������

Apakah Bunda pernah mengalami hal serupa di atas? ��

Jika YA, sampaikan tips ini pada suami Bunda ya. Bantulah suami memahami kebutuhan dan keinginan Bunda dengan cara yang positif.

�� *TIPS MENGATASI SEPATU BIRU ATAU MERAH* ��

Apa yang harus dilakukan pria jika mendapatkan pertanyaan “sepatu biru atau merah”?

❎ Tidak “terjebak” memilih
✅ Balik bertanya ➡ “Kamu sudah memilihkan, sayang?”
✅ Puji apapun pilihan akhir wanita

*OTAK DAN BICARA*

Dr. Tonmoy Sharma, kepala pengajar psikofarmakologi di Institut Psikiatri, London, pada tahun 1999 melakukan scan otak MRI. Hasilnya, pria memiliki sedikit titik penting dalam otak untuk fungsi bicara, yaitu seluruh belahan otak kiri aktif, namun MRI tidak dapat menemukan banyak pusat bicara.

Sedangkan pada wanita, keterampilan berbicara berada dibelahan otak kiri depan, dan masih ditambah di area yang lebih kecil dibelahan kanan.

Karena memiliki area berbicara di kedua belahan, selain membuat wanita pandai berkomunikasi, hal ini membuat wanita menikmati berbicara dan banyak melakukannya. Hal ini memungkinkan wanita dapat mengerjakan pekerjaan lain sambil terus bicara ( _multi tasking_ ).

*WANITA BUTUH BICARA*

Otak pria terbagi-bagi dan memiliki kemampuan untuk memisahkan dan menyimpan informasi. Pada akhir hari yang penuh masalah, otak pria yang _mono-tracking_ dapat menyimpan semua masalah tersebut.

Berbeda dengan otak wanita, masalah wanita terus berputar di dalam kepalanya. Satu-satunya cara wanita melepaskan masalah dari kepalanya adalah membicarakan masalah tersebut untuk mengungkapkannya. Karena itu, saat seorang wanita bicara diakhir harinya, tujuannya adalah untuk melepaskan ganjalan hatinya, bukan untuk mendapatkan kesimpulan atau solusi.

*BERPIKIR*

Apa yang dilakukan oleh pria jika mendapatkan tantangan?

Jawaban populer : _“Serahkan padaku”_ atau _“Akan Aku pikirkan”_.

Pria berpikir dalam diam, curhat tanpa suara dengan diri sendiri, dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.

*Kelemahan :*
Wanita salah sangka menganggap pria tersebut pendiam, murung dan tidak ingin bersamanya.

Apa yang dilakukan wanita ketika berpikir?

Berpikir keras-keras = berbicara secara acak sekaligus mendaftar segala kemungkinan dan pilihan solusi.

*Kelemahan :*
Pria salah paham menganggap wanita “memberinya” sederet masalah dan mengharapkan solusi. Hal ini membuat pria cemas, marah, atau mencoba memberikan solusi. dalam dunia kerja, pria menilai wanita yang berpikir keras-keras sebagai wanita yang tidak disiplin dan tidak cerdas.

����������

Dalam sehari, wanita memiliki 21.000 kata yang harus dikeluarkannya. Bandingkan dengan pria yang hanya memiliki ⅓-nya yaitu 7.000 kata. Perbedaan ini menjadi jelas dipenghujung hari ketika pria dan wanita bertemu setelah aktivitas harian masing-masing. Pria yang telah menghabiskan 7.000 katanya di tempat kerja tidak berkeinginan berbicara lagi. Sementara wanita tergantung aktifitasnya hari itu. Jika ia menghabiskan hari dengan berbicara dengan orang lain, mungkin ia telah menggunakan jatah katanya hari tersebut dan hanya sedikit berkeinginan berbicara lagi dengan pria pasangannya (berbicara bagi wanita adalah membangun hubungan). Jika wanita itu di rumah saja bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil, wanita itu akan beruntung jika dia sudah menggunakan 2.000 - 3.000 katanya. Ia masih memiliki sekitar 15.000 kata lagi yang bisa diucapkannya!

Proses wanita berbicara pada pasangan di penghujung hari dengan sisa kata yang ada sering disalah artikan oleh pasangannya sebagai cerewet dan omelan. Hal ini karena pria yang telah kehabisan kata tersebut menginginkan kedamaian dan ketenangan. Masalah muncul ketika wanita mulai kesal karena merasa tidak ditanggapi dan diabaikan.

*Ketika pria tidak berkata apa-apa (diam), serta merta wanita merasa dirinya tidak dicintai.*

Tujuan wanita berbicara adalah bicara.

Tetapi, menurut pria, ketika wanita menceritakan masalahnya tanpa henti maka itu adalah sebuah kode permohonan untuk mendapatkan solusi. Dengan otak analitisnya, pria akan memotong pembicaraan pasangannya dan memberikan solusi.

Kabar baik bagi pria :

*Ketika seorang wanita berbicara untuk mengeluarkan kata-kata yang belum sempat diucapkannya hari itu, dia tidak ingin disela dengan solusi untuk masalahnya. WANITA HANYA INGIN DIDENGARKAN.*

Ketika seorang wanita telah selesai berbicara dia akan merasa lega dan bahagia. Wanita akan menilai pasangannya sebagai pasangan yang hebat karena mau menyimak.

Dengan membicarakan masalah sehari-hari, wanita modern mengatasi rasa tertekannya. Mereka menilai percakapan yang terjalin antara mereka sebagai sebuah hubungan dan dukungan.

74% wanita bekerja dan 98% wanita yang tidak bekerja, menyebutkan kegagalan terbesar pasangan mereka adalah mereka enggan berbicara, terutama di penghujung hari sepulang dari aktivitas.

Generasi wanita sebelumnya tidak pernah mengalami ini karena mereka selalu mempunyai begitu banyak anak dan wanita-wanita lainnya yang dapat diajak bicara dan saling mendukung. Sekarang, para ibu yang tinggal di rumah sepertinya tampak kesepian karena ketiadaan teman bicara. Akan tetapi, dengan kemampuan otak yang luar biasa, wanita dapat belajar keterampilan baru yang dibutuhkan untuk bertahan.

*MEMBUAT PRIA MENDENGARKAN/MENYIMAK*

✅Tentukan waktu
✅Tegaskan bahwa Anda butuh/tidak butuh solusi

_“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang pengalamanku hari ini. Setelah makan malam ya. Aku tidak perlu solusi darimu, Aku hanya ingin Kamu mendengarkanku.”_

Kebanyakan pria akan memenuhi permintaan seperti ini karena jelas waktunya dan tujuannya ➡ sesuai dengan otak pria.

Sebaliknya, jika Anda membutuhkan solusi/masukan, perhatikan :

✅Choose the right time
✅Penuhi kebutuhannya
✅Tegaskan kebutuhan Anda akan solusi

_“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang perkembangan belajar Arya. Setelah Arya tidur ya. Aku butuh masukanmu sayang.”_

*WANITA DAN SUARA*
Penelitian menunjukkan, dalam dunia kerja, seorang wanita yang bersuara lebih dalam dianggap lebih cerdas, berwibawa dan dapat dipercaya. Untuk mendapatkan suara yang lebih dalam, Anda dapat berlatih merendahkan dagu, berbicara lebih lambat dan monoton.

Di lapangan, untuk mendapatkan kewibawaan, banyak wanita yang menaikkan suaranya, padahal hal tersebut justru memberi kesan agresif dan kontraproduktif.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

�� Sumber Bacaan :
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan,
Allan + Barbara Pease

Cemilan komprod #2

�� *Cemilan Rabu 2* ��
7 Juni 2017

*FAMILY FORUM*

��Apa sih family forum itu?
➡Family forum adalah kegiatan ngobrol bersama keluarga inti,  yang dibangun untuk saling mengalirkan rasa,  mengetahui hobi anak-anak, aktivitas harian mereka, trend pengetahuan dan berita yang ada saat ini, kebutuhan seluruh anggota keluarga dan masalah atau tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi oleh seluruh anggota keluarga serta harapan dan cita-cita dari masing-masing anggota keluarga. Family forum merupakan salah satu sarana pendukung terjadinya komunikasi produktif di dalam keluarga.

��Siapa saja yang terlibat dalam Family Forum?
➡Keluarga inti: Ayah,  ibu,  dan anak-anak.

��Kenapa kita perlu mengadakan family forum?
-Sebagai sarana untuk mengalirkan rasa
-Menyamakan Frame of Experience dan Frame of Reference
-Melancarkan komunikasi diantara anggota keluarga
- Sarana belajar bagi anggota keluarga untuk dapat berbicara dan mendengar dengan baik.
- Menggagas ide,  menyamakan visi misi keluarga, merencanakan dan menetapkan cita-cita bersama

��Kapan, dimana dan bagaimana kita bisa melaksanakan family forum?
➡ Boleh kapan dan dimana saja. Bentuknya pun beragam, seperti di meja makan dg sebutan "meja peradaban", bisa juga selepas jamaah maghrib menjadi " maghrib time", ngeteh bersama "tea time", ngopi bersama "coffee break", ngegame bersama "play on", ngemil bersama "snack time", bahkan bisa dilakukan jarak jauh dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini, dll.
Ketika anggota keluarga sedang berkumpul semua, maupun saat salah satu anggota keluarga berada dalam kondisi berjauhan, masih tetap bisa dilakukan kegiatan family forum.

_Sebagai sarana pendukung komunikasi produktif dalam keluarga, perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan_.

```Selamat membuat forum keluarga```.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

Sumber Bacaan:
Hasil Belajar Kelas Bunda Sayang Koordinator Nasional dg Ibu Septi Peni Wulandani
Review 1 Game Level 3, Kelas Bunda Sayang 1
Pengalaman pribadi fasil Bunda Sayang 2

Cemilan komprod #1

�� *Cemilan Rabu #1* ��
31 Mei 2017

*Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif*

Seberapa pentingnya komunikasi? Dari komunikasi, orang dewasa dan anak-anak belajar tentang agama, values, dan sebagainya. Komunikasi juga menentukan konsep diri anak/ _self concept_ yang nantinya akan menentukan harga diri/ _self value_ dan percaya diri/ _self confidence_ anak. Inilah mengapa materi Komunikasi Produktif menjadi awal dari segala materi.

Kunci dalam komunikasi ialah *perasaan*.  Jika ingin nasehat atau pesan kita diterima oleh orang lain terutama anak kita, yang diperlukan ialah memahami perasaannya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya, manusia memiliki lima kebutuhan dasar dalam komunikasi yaitu agar perasaannya Di dengar, Di kenali, Di terima, Di mengerti, dan Di hargai (5D) yang merupakan kunci komunikasi.

Kadang secara tidak sengaja kita salah berbicara kepada anak untuk mendapatkan hasil instan (misal: agar anak cepat diam dari tangisnya). Kesalahan Komunikasi ini menimbulkan dampak yang disebut dengan *Verbal Abuse*, meski terjadi secara tidak sengaja tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang.

Berikut akibat kesalahan komunikasi pada anak:
♻ Melemahkan konsep diri
♻ Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama
♻ Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
♻ Kemampuan berfikir menjadi rendah
♻ Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
♻ Iri
♻ Menjadi generasi yang BLAST (teori Mark Kaselmen) merupakan singkatan dari Boring-Lonely-Angry/Afraid-Stress-Tired yang akhirnya mengakibatkan beberapa penyimpangan sosial.

Selain kata-kata, yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi ialah bahasa tubuh. *“Action is louder than words”*

Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan menyenangkan pada anak ? (Langkah-langkah berikut ini pada dasarnya bisa digunakan kepada siapa saja lawan bicara kita)

*1. Jangan bicara tergesa-gesa*
Siapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu “sempit” atau “sedikit”? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. Hindari bicara tergesa-gesa,  apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak!

*2. Ingat: Setiap pribadi unik*
Hargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allah telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain.

*3. Kenali diri sendiri dan anak*
Kebanyakan orang yang belum mengenal diri masih terpaku dengan rutinitas.
Masih ingat aktifitas dinamis? Orang yang telah banyak mengelola aktifitas dinamis bisa jadi telah lebih dulu mengenal siapa dirinya (be do have). Sehingga mereka cenderung mudah memanage diri, waktu dan kondisi di sekitar mereka.
Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak/pasangan.

*4. Pahami perbedaan _needs_ dan _wants_*
Setiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya.

*5. Pahami “Masalah Siapa?”*
Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Saya atau anda? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan orang lain, atau masalah orang lain dengan kita. Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Misal ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

*6. Baca bahasa tubuh*
Bahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan.

*7. Dengarkan Perasaan*
Kunci komunikasi ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, “Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?”, “Adik sedih ya karna mainannya hilang?”. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut.

*8. Mendengarkan dengan aktif*
Jadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, “Oooh.. Begitu ya?” “Terus?” “Kamu kesal sekali ya?”. Sediakan ruang bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita.

*9. Hindari 12 gaya populer (parenthogenic)*

Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa TIDAK percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.

Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer:
1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

��Mengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

1⃣1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

1⃣2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.

*10. Gunakan “Pesan Saya”*
Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah “pesan saya” atau “i-message” yaitu dengan:

“Ayah/Ibu merasa …. (isi perasaan kita) Kalau kamu …. (isi perilaku anak) Karena… (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain”

Contoh: “Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga“.

“Pesan saya” memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan “pesan kamu”. Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, “Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!“. Dalam “pesan kamu”, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

Sumber Informasi:
_Catatan Seminar Elly Risman, artikel_
_Cemilan Rabu Bunda Sayang Batch #1_

Rabu, 21 Juni 2017

Aliran Rasa Materi Komunikasi Produktif

Materi pertama kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional adalah komunikasi produktif. Sejujurnya materi inilah yang memotivasi saya agar "naik" kelas karena hasil tes psikologi saya menyatakan kalau saya tipe orang yang asertif-submisif. Dari tahun 2010 saat menerima hasil tes psikologi ini, saya mencoba belajar tentang ilmu komunikasi namun puncaknya dimana saya merasa sangat nyaman untuk dipraktekkan ya setelah mendapat materi komprod ini.
Semua rumus komunikasi produktif baik untuk pasangan maupun anak sangat mudah diterapkan. Dampaknya untuk saya pribadi, saya bisa meredam emosi sebelum membuka mulut saya. Alhasil tidak ada lagi nada tinggi karena emosi terluapkan. Saya lebih memilih diam dan menarik nafas sambil berpikir rumus mana yang akan saya gunakan baru setelah itu berkomunikasi dengan anak.
Sementara itu, saya berhasil menemukan mantra yang dapat membantu  mengurangi sikap submisif saya. Mantra itu adalah I'm responsible for my communication result.

#aliranrasa

#komunikasiproduktif

#kelasbunsayIIP


Jumat, 09 Juni 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Day#10

Hari ini memasuki hari ke-10 mama menjalani tantangan 10 hari dalam melaksanakan komunikasi produktif dari kelas bunda sayang. Setelah mendapat materi komunikasi produktif seluruh peserta kelas bunsay ditantang untuk melaksanakan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ini saya maknai sejalan dengan pesan ibu Septi "mengikat ilmu dengan amal".

Hari ini mama akan bercerita tentang mantra komprod "mengelola emosi". Sebenarnya saat berkomunikasi hampir sebagian besar mantra komprod bisa kita lakukan secara bersamaan tinggal mantra mana yang menjadi fokus kita saat itu.

Mantra mengelola emosi ini harus mama terapkan ketika berkendara berdua dengan si bungsu. Si bungsu ini bisa usil maksimal kalau sedang bosan. Mulai dari gear, hand brake, wiper, radio, lampu sen bisa dia mainkan sementara mama masih terus mengemudi. Kalau saat berhenti di lampu merah mama sering mengajak si bungsu bercanda sambil menasehati "abang duduk disamping mama aja. Selama mama nyupir abang temani mama ya ". Biasanya mama meyiapkan buku, mainan dan cemilan supaya si bungsu tidak cepat bosan. Namun jika sudah selesai dengan buku, mainan, dan cemilannya maka mama harus bersiap mengelola emosi jangan sampai terpancing oleh tingkah usinya si bungsu. Seringkali ketika lampu merah si bungsu minta duduk di pangkuan mama. Inilah yang membuat mama terpaku karena sesungguhnya yang ia butuhkan adalah mama yang engage dengannya walaupun sedang berkendara. Inilah yang menjadi refleksi mama ubtuk mengelola emosi ketika si bungsu mulai usil. Tak dapat dipungkiri, ketika suasana high traffic kadang emosi mama bisa melonjak sehingga mengambil jalan pintas dengan membentak agar si bungsu tak lagi usil.
Walau tantangan 10 hari sudah berakhir namun sesungguhnya tantangan berkomunikasi produktif dengan trio Z selalu hadir setiap hari. Semoga dengan mama berlatih cara berkomunikasi yang produktif dapat memberikan kesan pola asuh yang bermakna untuk kalian bertiga.

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan Komunikasi Produktif Day#9

Kali ini mama ingin bercerita mengenai mantra komprod "choose the right time". Selama ramadan ini kami bisa berkumpul bersama dengan kondisi full team. Alhamdulillah ini salah satu bentuk berkah ramadan bagi keluarga kami.
Menjelang berbuka puasa, bapak mengumpulkan kami semua lalu membuka family forum. Komunikasi diantara kami lebih fokus pada impian dan harapan kami. Harapan dan impian ini kami sebutkan satu per satu yang kemudian diamini oleh kami berlima.
Right time selanjutnya adalah couple time untuk kami berdua. Mendiskusikan apa saja dari tema yang ringan hingga tema berat semuanya kami bahas di meja makan.
Alhamdulillah materi komunikasi produktif menjadikan ramadan kami lebih bermakna

#level1
#day9
#komunikasiproduktif
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP

Kamis, 08 Juni 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Day#8

Si bungsu lagi suka sukanya manjat. Selain teralis pintu, panjatan favoritnya adalah bahu bapak dan mamanya. Kadang saat kami sedang santai ia tiba-tiba datang dan memanjat ke bahu bapak/mama. Momen manjatnya ini gak kenal waktu, malah seringnya pas lagi sholat. Begitu mama sujud si bungsu langsung manjat dari belakang sambil mengalungkan tangannya ke leher mama.
Setelah sholat mama mencoba untuk berkomunikasi dengan abang Z.
Mama berusaha mengatakan harapan mama terhadap abang alih-alih melarangnya manjat bahu mama saat sholat.
Mama : "bang, mama seneng deh kalau abang ikut sholat sama mama".
Sambil menatap mata abang Z.
"Kalau abang sudah selesai duluan sholatnya, tetap duduk disamping mama ya bang. Tunggu mama sampai selesai sholat".
Respon si abang cukup menggelikan, ia hanya menatap balik kepada mama lalu melengos dan kembali ke aktivitasnya. Sepertinya komunikasi ini harus diintensifkan agar tertanam pemahaman pada diri bang Z. Sehingga sholat kami menjadi lebih khusuk dan semakin bermakna.

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasi produktif
#kuliahbunsayIIP