Selasa, 18 Juli 2017

Tantangan Kemandirian Day#6

Sudah 2 hari ini si kakak sulung kembali bersekolah. Walaupun program full day schoolnya belum berjalan karena selama masa orientasi ini kakak pulang jam 1.

Sejak hari Senin, mama sengaja membiarkan kakak menyiapkan sendiri segala kebutuhan sekolahnya. Bahkan uang untuk menebus buku pelajaran pun mama titipkan ke kakak untuk diberikan ke petugas front office. Alhamdulillah kakak bertanggungjawab dalam hal ini.
Dulu... mama strict banget soal perlengkapan sekolah kakak. Sibuk ingatin bahkan ikut menyiapkan perlengkapan buat sekolah besok. Apalagi kalau musim ulangan, wah mama bisa tiba-tiba jadi jam weker yang berbunyi tiap jam :D
Sekarang mama sudah insyaf. Alhamdulillah mama dikasih kesempatan belajar untuk memperbaiki diri. Sekarang saatnya melatih kemandirian kakak dalam mempersiapkan perlengkapan dan agenda sekolahnya sendiri. Hasil akhir yang mama harapkan adalah kakak mampu bertanggungjawab atas pendidikan yang dijalaninya.

#Day6
#Level2
#MelatihKemandirian
#BunsayIIP
#Tantangan10Hari

Tantangan Kemandirian Day5

Si abang bungsu ini punya sifat unik yang baru mama sadari saat ia berusia sekitar 1,5 tahun.
Bermula saat membelikannya sendal baru. Dengan gesture ia menunjukkan keengganannya memakai sendal baru tersebut. Akhirnya sendal itu nangkring di rak sepatu tak tersentuh. Setelah sebulan sampai dua bulan barulah si abang mau memakai sendal itu.
Kejadian yang sama terulang ketika membelikannya sepatu. Abang berontak tak mau mencoba sepatu apapun selama di toko sepatu. Akhirnya mama berinisiatif mencari sepatu yang sama persis dengan sepatunya yang lama hanya size-nya lebih besar. Entah apakah ini konsisten atau persisten tapi mama mulai mencari celah agar drama ini tidak terulang lagi.

Mama lanjut bercerita tentang melatih kemandirian si abang dalam memakai alas kaki. Si abang ini hobi nyeker klo mainan di luar rumah. Sekarang sudah rajin pakai sendal. Hobinya pakai sendal jepit. Alhamdulillah... pakai sendal sudah tidak pernah tertukar kiri-kanan lagi. Lancar jaya klo pakai sendal jepitnya. Nah sekarang mama lagi melatih kemandirian abang dalam memakai sepatu sendiri serta melepas sepatu yang benar. Si abang mah kalau lepas sepatu suka dihentak sampai sepatunya terbang :D

#Day5
#Level2
#MelatihKemandirian
#BunsayIIP
#Tantangan10Hari

Minggu, 16 Juli 2017

Tantangan Kemandirian Day4

Hari minggu telah tiba... tandanya liburan hendak usai. Progress kemandirian si kakak dalam hal menjemur pakaian meningkat pesat setelah kami menjalani couple time menjemur berdua :)

Kebetulan hari ini mama mengecilkan baju neng yang kebesaran dengan jahit tangan. Setelah selesai dengan baju si neng. Mama mengajak kakak untuk menjahit sendiri boneka bantalnya yang robek. Saat kelas 3 lalu, kakak sudah pernah latihan menjahit di sekolahnya, jadi kali ini mama ingin melihat action menjahit kakak di rumah. Taraa.... beginilah hasil jahitan tangan kakak Z

#Day4
#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari

Sabtu, 15 Juli 2017

Tantangan Kemandirian Day3

Hari ini mama mau bercerita tentang si tengah, neng Z (5 tahun).
Hari ini neng membuat mama terpesona dengan kemandirian yang ditunjukkannya. Setelah mandi langsung pakai baju sendiri plus sisiran dan jemur handuknya sendiri :) sementara si abang habis mandi langsung ngetem di depan TV. Melihat abang yang masih telanjang membuat neng berinisiatif mengambilkan baju abang. Baru deh si abang berusaha pakai baju dengan dibantu neng.

Sampai disini mama jadi ngeh klo sebenernya neng itu bisa mandiri bahkan bisa bantu kebutuhan adiknya. Neng hanya butuh kepercayaan, keistiqomahan, dan pujian dari mama. Program melatih kemandirian untuk neng Z ini mengasah kemampuan mama berkomunikasi produktif dengannya. Karena bonding kami yang kurang di masa 2 tahun awal usianya membuat kami harus mulai membangun kembali kepercayaan dan kenyamanan satu sama lain.

#Day3
#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari

Jumat, 14 Juli 2017

Tantangan Kemandirian Day2

Kali ini giliran mama bercerita tentang melatih kemandirian si bungsu. Walaupun statusnya bungsu di keluarga kami ia dipanggil abang. Mengingat ialah putra kami satu-satunya.

Abang (2 tahun, 4 bulan) saat ini menunjukkan keinginannya untuk mandiri dalam hal berpakaian. Mama lupa ketika usia berapa abang mulai bisa memilih baju sendiri lalu mulai bisa mengambil pakaian lengkap dari celana dalam, kaos dalam, baju, dan celana.
Saat ini abang belajar menggunakan celana sendiri. Untuk menggunakan baju sendiri masih agak ribet karena ada 3 lubang, kadang masih suka salah masuk :D

#Level2
#Day2
#MelatihKemandirian
#BunsayIIP
#Tantangan10Hari

Kamis, 13 Juli 2017

Tantangan Kemandirian Day1

Selamat datang di game level 2 kelas bunsay IIP. Tema materi #2 ini adalah melatih kemandirian. Seperti sebelumnya akan ada tantangan 10 hari untuk mama melatih kemandirian di rumah.

Minggu ini adalah minggu terakhir liburan sekolah. Insyaa Allah, senin pekan depan, si sulung sudah mulai lagi kegiatan full day schoolnya.

Sudah 2 hari ini kakak (9 tahun) membantu mama menjemur pakaian. Rencananya sih sekalian mama jadikan program melatih kemandirian kakak hingga liburan usai :)

Kakak sudah bisa memilah pakaian dalam dan pakaian luar serta menjemur kedua jenis pakaian ini di tempat yang berbeda. Hari pertama melihat hasil jemuran kakak, cukup membuat mama mengerutkan kening sambil istighfar biar gak keluar kritikan pedas (inget udah dapet badge komprod lho!). Hasil jemurannya kakak itu seperti pakaian yg ditaruh di atas tiang jemuran tumplek blek gak pake dirapikan sama si kakak, dijamin deh dijemur sampe sore pun gak akan kering :D Nah hari ini, lebih mendingan... sudah mulai rapi susunan pakaiannya. Harapan mama besok sudah rapi total jadi tantangan kemandirian tema laundry untuk kakak bisa mama tingkatkan lagi.

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari

Senin, 26 Juni 2017

Review materi#1 KomProd kelas BunSay#2

*_Review Tantangan 10 Hari_*
_Materi Bunda Sayang #1 :_
_Institut Ibu Profesional_
*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

*KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI*

Dari “TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas.

Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita :

*a. Tahap Anomi* : Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.

*b.Tahap Heteronomi* : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.

*c. Tahap Sosionomi* : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.

*d. Tahap Autonomi* : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak  hanya berhenti pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda.
“10 Hari” adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.

Maka komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Tentukan limit anda setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui. Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.

_The greater danger of most of us is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach it_ – Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainya – Michael angelo

*KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN*

Dalam prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi anda dengan pasangan
yaitu :

*a. Faktor Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)*

Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya..

contoh : Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP).

Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).

*b. Faktor Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)*
Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif,masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

contoh : Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.

*c. Faktor Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)*
Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..

contoh : Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber¬sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang dewasa.

Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.

*ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI*

*a. TRANSAKSI KOMPLEMENTER*
jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

Contoh :
ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis.( ego dewasa)
suami : : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)
istri : “ayo kita  cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana? ( menggunakan e go dewasa)

*b. TRANSAKSI SILANG*
terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah¬pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

Contoh :
ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan  ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.

Suami : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)

Istri : “Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak,  masih diminta ngurus arloji” ( menggunakan ego anak-anak )

pasti akan menyulut respon emosi.

*c. TRANSAKSI TERSEMBUNYI*
jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar¬pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter¬sembunyi.

Contoh:
Seorang ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga).

Penjual itu kemudian menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: “Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal.

Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”.