Kamis, 31 Agustus 2017

Review Materi#3 Kelas Bunsay#2 Kalimantan

Review Game level  #3

FAMILY PROJECT DAN KECERDASAN ANAK

Setelah kita memahami secara detil tentang apa itu Family Project dan sudah menjalankannya dengan tantangan 10 hari, maka kali ini kita akan kembali membahas bagaimana  family project ini bisa menjadi sarana kita untuk melihat sisi-sisi kecerdasan anak yang harus kita amati.

Family Project dan Kecerdasan Intellectual

Family Project adalah sarana anak-anak belajar sesuatu, belajar hal baru melalui berbagai tema-tema yang kita kemas dalam berbagai project. Di dalam ilmu pembelajaran kita bisa mempelajarinya lebih lanjut tentang Project Based Learning.

Selama menjalankan Family project ini kita bisa melihat apakah :

a.  Apakah rasa Ingin tahu anak-anak terhadap sesuatu menjadi semakin tinggi?

b. Apakah Kreativitas dan Daya Imajinasinya menjadi semakin besar?

c. Apakah muncul gairah belajar dan inovasi baru yang anak-anak dapatkan selama menjalankan family project?

d. Bagaimana anak-anak menyikapi pengetahuan baru, pengalaman baru yang mereka dapatkan selama menjalankan Family Project?

e. Apakah anak-anak menemukan gairah untuk selalu berkarya dan menemukan hal baru demi kehidupan mereka yang lebih baik?

Family Project dan Kecerdasan Emosional

a. Apakah selama menjalankan Family Project muncul kesadaran diri secara penuh dari anak-anak?

b. Apakah anak-anak makin mengenal emosi yang muncul  ( senang, bahagia, sedih) selama menjalankan Family Project?

c. Apakah emosi anak stabil/meledak-ledak ketika menghadapi tantangan selama Family Project berjalan?

d.Apakah anak bisa mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lainpun merasa senang dan dimengerti perasaannya?

e. Apakah anak sanggup mengelola emosi yang dia dapatkan dari orang lain, sehingga tercipta ketrampilan sosial yang tinggi?

Family Project dan Kecerdasan Spiritual

Family project sebagaimana kita tahu adalah pemberian makna yang mendalam terhadap aktivitas sehari-hari yang kita lakukan di rumah. Sehingga aktivitas keluarga sehari-hari + management dan organisasi = Family Project  = Aktivitas keluarga yang penuh makna.

Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna ( value), kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.

Dengan menjalankan Family Project kita akan bisa melihat hal-hal sebagai berikut:

a. Apakah anak-anak bisa makin mengenal ciptaan Allah dan makin menyayangi antara sesama makhluk ciptaan Allah selama menjalankan Family Project ini?

b. Apakah anak-anak makin melihat dirinya dan keluarganya sebagai sesuatu yang unik yang diciptakan Allah berbeda dengan yang lain,  selama menjalankan Family Project ini?

c. Apakah rasa syukur anak-anak makin meningkat selama menjalankan Family Project?

d. Apakah anak-anak makin ridho dan konsisten dengan segala perintah dan laranganNya selama menjalankan Family Project?

e. Apakah anak-anak mendapatkan berbagai akhlak mulia yang bisa dia dapatkan untuk dipraktekkan selama menjalankan Family project?

f. Apakah anak-anak semakin tunduk dan taat terhadap kehendak penciptaNya, selama menjalankan Family Project?

g. Apakah anak-anak semakin bergairah untuk menebar benih manfaat di muka bumi ini, dan sadar perannya sebagai Khalifah di muka bumi ini, selama menjalankan Family project?

Family Project dan Kecerdasan Menghadapi Tantangan ( AI)

Selama menjalankan Family Project pasti kita dan anak-anak menghadapi berbagai macam tantangan dan cobaan. Dari sinilah kita paham seberapa kuat anak-anak kita menghadapi tantangan hidup.

a. Apakah selama menjalankan Family Project anak-anak mampu mengontrol dirinya ?

b. Bagaimana reaksi anak-anak ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang dia inginkan seama menjalankan Family project?

c. Apakah anak-anak sanggup membangun konsistensi dan komitmen terhadap kesepakatan yang sudah dia putuskan bersama selama menjalankan Family Project?

d. Apakah anak-anak menunjukkan inisiatif besar untuk aktivitas yang dia inginkan, dan sanggup menanggung semua resiko yang akan muncul selama menjalankan Family Project?

e. Bagaimana reaksi anak-anak setiap menjumpai “tantangan” selama family project berjalan, apakah mereka bisa mengubahnya menjadi sebuah peluang?

f. Apakah anak-anak tidak mudah putus asa?

g.Apakah anak-anak berani mengakui sebuah kesalahan dan mau belajar dari kesalahan yang dia buat selama menjalankan Family Project?

h.Apakah kemandirian anak mulai terlihat selama menjalankan Family project?

Dari berbagai kasus yang kita dapatkan selama menjalankan Family project ini sebenarnya selain untuk melihat kecerdasan anak-anak, kita juga bisa mengamati kecerdasan diri kita dan pasangan. Sehingga kita semakin paham bagaimana cara kita “memantaskan diri” agar semakin layak mendidik anak-anak hebat. Dan hal-hal apa saja yang harus kita tambahkan selama perjalanan di Universitas Kehidupan.

Salah satu contoh hal kecil ketika menjalankan tantangan 10 hari di Game –game kelas Bunda Sayang ini, kita mengalami kesulitan dalam mengatur waktu sehingga tidak sanggup menuliskan tantangan 10 hari tersebut secara berturut-turut, apakah kita langsung menyerah berhenti disini saja? Kalau iya kecerdasan menghadapi tantangan kita masuk kategori Quitters, Apakah kita cukup menuliskan poin-poin penting saja dan tidak usah menyempurnakannya, yang penting mengumpulkan tugas? Kalau iya, berarti ita tipe campers. Atau kita termasuk orang yang berusaha mengubah manajemen waktu kita, mencari strategi terbaik, membuat sistem penulisan, sehingga memudahkan kita untuk menuliskannya setiap hari? Kalau iya, selamat  berarti kecerdasan anda memasuki tahap Climbers.

Silakan amati kecerdasan-kecerdasan yang lainnya yang ada pada diri kita selama mengerjakan Tantangan-tantangan 10 Hari di kelas Bunda Sayang ini.

Dan untuk bisa mendapatkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik ke anak - anak dan keluarga kita, mulailah dari diri kita terlebih dahulu

for things to CHANGE, I must CHANGE first

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

��Sumber Bacaan:

D.Paul Relly, “Success is Simple, Gramedia, Jakarta

Stoltz, Paul G, PhD, 1992, Adversity Intellegence, Mengubah  Hambatan Menjadi peluang

Melva Tobing. Mpsi, Daya Tahan Anak menghadapi Kesulitan, Jakarta, 2013

Materi Tentang Kecerdasan anak dan Kebahagiaan Hidup, IIP, bunda sayang

https://www.youtube.com/watch?v=n9LNFH4TW7k

Cemilan Family Project #4

*Cemilan Rabu ke-4, 30 Agustus 2017*

*Ragam Kegiatan Penstimulus Kecerdasan Anak*

Anak-anak tumbuh dengan cepat dan belajar banyak hal daripada yang bisa kita lihat. Anak-anak, terutama di bawah usia 5 tahun, belajar dari hal yang dekat dengannya, dan dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana.

Menurut Tony Buzan, dalam bukunya _Buku Pintar Mind Map (2006)_ , anak berusia 0-5 tahun lebih banyak belajar serta lebih banyak mengetahui hal-hal baru daripada seorang mahasiswa yang kuliah dan menyelesaikan gelar sarjananya.
Usia 0-5 tahun ini kita kenal dengan _the golden years_.

Ketika anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, orang tua hendaknya memberikan aktivitas sehari-hari yang dapat menstimulus kecerdasan, kreativitas, dan kepercayaan diri anak. Beragam aktivitas ini tentu disesuaikan dengan usia dan tahap tumbuh kembangnya.

*1. Mengekspresikan wajah di depan cermin*
Ketika bercermin anak mulai mengembangkan kesadaran siapa dirinya, belajar mengontrol dan mengenali ekspresi, dab membantu rasa percaya dirinya dengan pengetahuan akan dirinya. Kegiatan ini bisa dilakukan sejak anak masih bayi.

*2. Bermain bola*
Bermain bola membantu perkembangan koordinasi mata dan tangan serta kemampuan motorik kasar secara keseluruhan.

*3. Bermain Puzzle*
Permainan ini mampu merangsang perkembangan otak belahan kiri dan kanan anak sekaligus. Saat bermain puzzle, kecerdasan spasial anak dilatih, dengan membongkar dan memasang ulang dalam kesesuaian bentuk, pola atau warna.

*4. Menggambar, melukis, atau mewarnai*
Kegiatan ini dapat mengasah motorik halus, melatih fokus, emosional, kreativitas dan menjaga keseimbangan otak belahan kanan dan kiri anak.
Menurut Asri Nugroho, seorang pelukis dan pengajar, usia yang paling ideal bagi anak untuk diajarkan mengambar adalah 4 tahun.

*5. Berenang*
Ada ungkapan bahwa olah raga terbaik adalah berenang. Dengan berenang seluruh bagian tubuh digerakkan dan mendapat manfaat yang sama, baik organ luar maupun organ dalam tubuh.
Sebuah penelitian di Melbourne menyebutkan bahwa gerakan anggota badan anak ketika berada dalam air dapat merangsang pertumbuhan saraf otaknya sehingga IQ-nya tumbuh lebih cepat dan lebih baik.

*6. Memperkenalkan peta pada anak*
Memperkenalkan peta pada anak berarti mendorong mereka untuk memahami tentang ruang dan bagaimana berpikir global tentang dunia di alam semesta dilihat dari sudut pandang yang lebih besar. Hal ini akan memperluas wawasan anak tentang dunia tempatnya tinggal.

*7. Bersepeda*
Bersepeda merupakan kegiatan yang dapat merangsang kemampuan dan kecerdasan anak. Ketika bersepeda, berbagai kemampuan anak dilatih sekaligus, seperti kemampuan motorik kasar dan halus, kemampuan keseimbangan, kemampuan membaca ruang, serta kemampuan berkonsentrasi.

*8. Berkebun*
Anak-anak yang diajari berkebun sejak dini akan terlatih untuk merawat dan mencintai lingkungan. Mereka akan belajar tentang kebersihan, keteraturan, dan keindahan.

*9. Memasak*
Melibatkan anak memasak memberikan banyak manfaat bagi rangsangan kecerdasan anak.
▶ mengajarkan disiplin
Anak akan tau memasak membutuhkan tahapan dan proses. Ada urutan langkah dalam proses memasak yang perlu dipatuhi agar masakan menjadi lezat.
▶ melatih motorik
Ketika memasak motorik anak akan dilatih saat melakukan kagiatan mangaduk, menuang, memotong dan menumbuk
▶ Belajar matematika sederhana.
Ketika anak menakar, mencampur bahan dan bumbu masakan, maka saat itu ia belajar tentang perbandingan. Melalui perbandingan itu anak belajar berhitung dan mengasah kecerdasan otaknya.
▶ Melatih konsentrasi
Memasak tidak boleh ditinggal begitu saja, tetapi perlu dipantau dan dijaga. Ini akan melatih anak untuk berkonsentrasi.

Salam ibu profesional

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2 /

�� Sumber:
�� Astuti Yuli, Cara mudah asah otak anak; 2016.
�� Pramono Octavia, Temukan sedini mungkin keajaiban potensi anak anda; 2015

Cemilan Family Project #3

Cemilan Rabu ke-3
16 Agustus 2017

*Mengelola kecerdasan Emosional*

Kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.

*Stimulasi EQ pada anak*
Kenalkan jenis emosi pada anak.
Minta anak untuk menggambarkan apa yang ia rasakan.
Minta anak menyampaikan apa yang diinginkan.
Hormati fase egosentris anak.
Beri teladan dari orangtua dalam pengelolaan emosi, terutama saat menghadapi anak.
Beri kesempatan dan motivasi untuk belajar hal baru.
Beri kesempatan anak untuk mandiri dan bertanggungjawab.
Memberi pujian atas pencapain anak.
Ajak anak bersosialisasi dengan lingkungan.
Libatkan anak dalam aktivitas.

*Tips Mengelola Emosi untuk Orang Dewasa*
Kenali perubahan emosi dan alarm tubuh.
Mengubah fokus pikiran negatifpositif
Berlibur sejenak dari aktivitas.
Berkata baik atau diam.
Ubah posisi menjadi lebih rendah. BerdiriDuduk, DudukBerbaring
Atur nafas dan perhatikan postur tubuh. Dengan postur yang tepat Anda bisa mengubah emosi negatif menjadi emosi positif.

Salam, Ibu Profesional

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

Sumber bacaan:
_Wikipedia, Kecerdasan Emosional._
_Diskusi fasilitator Bunda Sayang #2_
_Ideo, Watiek. Aku Cerdas Mengelola Emosi_
_Kuliah WhatsApp tentang Neuro-linguistic programming_

Cemilan Family Project #2

�� *Cemilan Rabu 2* ��
7 Juni 2017

*FAMILY FORUM*

��Apa sih family forum itu?
➡Family forum adalah kegiatan ngobrol bersama keluarga inti,  yang dibangun untuk saling mengalirkan rasa,  mengetahui hobi anak-anak, aktivitas harian mereka, trend pengetahuan dan berita yang ada saat ini, kebutuhan seluruh anggota keluarga dan masalah atau tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi oleh seluruh anggota keluarga serta harapan dan cita-cita dari masing-masing anggota keluarga. Family forum merupakan salah satu sarana pendukung terjadinya komunikasi produktif di dalam keluarga.

��Siapa saja yang terlibat dalam Family Forum?
➡Keluarga inti: Ayah,  ibu,  dan anak-anak.

��Kenapa kita perlu mengadakan family forum?
-Sebagai sarana untuk mengalirkan rasa
-Menyamakan Frame of Experience dan Frame of Reference
-Melancarkan komunikasi diantara anggota keluarga
- Sarana belajar bagi anggota keluarga untuk dapat berbicara dan mendengar dengan baik.
- Menggagas ide,  menyamakan visi misi keluarga, merencanakan dan menetapkan cita-cita bersama

��Kapan, dimana dan bagaimana kita bisa melaksanakan family forum?
➡ Boleh kapan dan dimana saja. Bentuknya pun beragam, seperti di meja makan dg sebutan "meja peradaban", bisa juga selepas jamaah maghrib menjadi " maghrib time", ngeteh bersama "tea time", ngopi bersama "coffee break", ngegame bersama "play on", ngemil bersama "snack time", bahkan bisa dilakukan jarak jauh dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini, dll.
Ketika anggota keluarga sedang berkumpul semua, maupun saat salah satu anggota keluarga berada dalam kondisi berjauhan, masih tetap bisa dilakukan kegiatan family forum.

_Sebagai sarana pendukung komunikasi produktif dalam keluarga, perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan_.

```Selamat membuat forum keluarga```.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

Sumber Bacaan:
Hasil Belajar Kelas Bunda Sayang Koordinator Nasional dg Ibu Septi Peni Wulandani
Review 1 Game Level 3, Kelas Bunda Sayang 1

Cemilan Family Project #1

��APA ITU “FAMILY PROJECT”?

Family Project  adalah aktivitas  yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama   oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.

Sehingga rumusnya adalah sebagai berikut

*ACTIVITY + MANAGEMENT AND ORGANIZATION = PROJECT*

��MANFAAT FAMILY PROJECT

Family Project merupakan salah satu sarana pendidikan bagi seluruh anggota keluarga. Saat ini semakin sedikit keluarga yang menerapkan konsep pendidikan di dalam rumahnya, banyak diantara mereka menjadikan rumah sebagai sarana berkumpulnya anggota keluarga saja tanpa adanya aktivitas pendidikan. Sehingga makna berkumpulpun menjadi hambar, kadang berlalu begitu saja tanpa arti.

Family Project juga menjadi salah satu sarana untuk membangun “bonding” di dalam keluarga. Tercipta ikatan batin antar anggota keluarga, sehingga hubungan menjadi semakin indah dan harmonis.

Family Project bisa juga digunakan sebagaisarana “Check Temperature” keluarga kita. Apakah dalam kondisi suhu normal atau sedang memanas.

Family Project sarana menguatkan core values keluarga. Core Values tidak bisa hanya dituliskan besar-besar di kertas dan di tempel di dinding rumah. Core Values harus diujikan untuk mendapatkan sebuah keyakinan bahwa hal tersebut layak diperjuangkan. Ujian itu lewat family project.

Family Project apabila dijalankan denga sungguh-sungguh maka akan menjadi pijakan kita dan keluarga ke surga. Apabila keluarga kita memang sedang berjalan menuju surga, maka tidak perlu menunggu sampai di akherat untuk merasakannya, kita bisa merasakannya sekarang saat di dunia bersama keluarga kita.

��CIRI-CIRI FAMILY PROJECT

a. Fokus pada proses, bukan pada hasil

b. Sederhana

c. Menyenangkan

d. Mudah – Menantang

e. Ditentukan durasinya

��KOMPONEN FAMILY PROJECT

a. Sasaran

SMART : Specific, Measurable, Achiveable, Reasonable, Timebound

Maksimum 3 sasaran.

b. Sarana

Alat dan Bahan yang diperlukan

Dana yang diperlukan ( apabila ada)

c. Sumber Daya Manusia

Penanggungjawab

Pelaksanan

d. Waktu

Jadwal Pelaksanaan

Durasi

e. Nama Projek

Berikan nama khusus terhadap projek yang dikerjakan keluarga.

��BAGAIMANA CARA MEMBESARKAN FAMILY PROJECT ANDA?

Diperlukan 2 hal yang  penting untuk membesarkan Family Project yaitu KONSISTENSI dan KOMUNIKASI

*KONSISTENSI*

Konsistensi itu sangat bergantung pada hal-hal berikut ini:

a. Apakah family project ini membahagiakan seluruh anggota keluarga? ( Fun)

b. Apakah family project sejalan dengan values yang  diperjuangkan dalam keluarga? ( values)

c. Seberapa unik family project anda dibandingkan family project yang lain? ( uniqueness)

d. Apa alasan kuat dari seluruh anggota keluarga untuk menjalankan family project ini? ( Reason)

*KOMUNIKASI*

Komunikasi menjadi hal yang utama dalam memperbesar family project kita, karena akan sangat bermanfaat untuk memantau dan membesarkan perjalanan family project dan membangun portofolio keluarga dalam menjalankan family project. Di dalam komunikasi ini diperlukan dua hal yaitu MEDIA dan KONTEN

��MEDIA KOMUNIKASI

FAMILY FORUM
Family forum adalah forum-forum ngobrol keluarga yang dibangun untuk mengetahui hobi anak-anak, aktivitas harian mereka, tren pengetahuan dan berita yang ada saat ini, kebutuhan seluruh anggota keluarga dan masalah atau tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi oleh seluruh anggota keluarga.

Family forum ini bentuknya bisa beragam mulai dari ngeteh bersama (tea time), ngopi bersama (coffee break), ngegame bersama (play on), ngemil bersama (snack time) dll.

��KONTEN KOMUNIKASI

*Lakukan APRESIASI bukan EVALUASI*

Apabila sudah menjalankan projek keluarga yang memiliki durasi lebh dari 1 bulan, maka segera buat forum apresiasi keluarga diantara jeda projek tersebut, . Apabila projek hanya berdurasi 1-3 hari, maka lakukan pada akhir projek berjalan.

 
*NO EVALUATION, JUST APRECIATION*

Anak-anak belum memerlukan evaluasi, yang kita lakukan hanya memberikan apresiasi saja, karena hal ini penting untuk menjaga suasana selalu menyenangkan dan  membuat anak senantiasa bersemangat dalam mengerjakan projek selanjutnya.

Apabila ada hal-hal  yang kita rasa penting untuk diperbaiki atau diubah strateginya, maka cukup anda catat saja, simpan dengan baik bersama satu file catatan projek ini, dan buka kembali saat kita dan anak-anak akan merencanakan projek berikutnya. Hal ini akan lebih membuat perencanaan kita lebih efektif, karena anak-anak akan melakukan perubahan menjelang  melakukan projek, bukan diberitahu kesalahan setelah melakukan sebuah projek. Efek yang muncul akan sangat berbeda.

*BAGAIMANA CARA MENGAPRESIASI*

Perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan. Di Padepokan Margosari, forum keluarga seperti ini terkenal dengan nama “MASTER MIND”. Bagaimana cara menjalankan master mind, ciptakan suasana yang santai di rumah, kemudian tanyakan 3 hal saja:

a. Ada yang punya pengalaman menarik selama menjalankan projek ini?

b. Apa yang sudah baik?

c. Minggu depan hal baik apa yang akan kita lakukan?

CONTOH FAMILY PROJECT

Nama Projek  : WARNAI DUNIA WARNAMU

Gagasan : Sudah 2 tahun cat tembok rumah tidak pernah berganti, kali ini anak-anak punya ide, dengan diskusi pertanyaan berikut, mengapa cat rumah itu kok satu warna? Bagaimana jika rumah itu warna-warni? Mengapa tidak kita cat tembok rumah kita warna warni?

Pelaksanaan : Tentukan durasi waktunya, misal  hari Minggu, 26 Maret 2017, tentukan penanggungjawabnya (PIC), kasih jabatan misal  “Jendral Cat Warna”. Berikan ruang sang jendral untuk mengambil keputusan terhadap segala tantangan yang muncul selama projek berjalan.

Nama Projek :  SUNDAY LIBRARY

Gagasan : Anak-anak sangat senang membaca, banyak buku yang sudah terbaca, tidak dibaca lagi. Anak-anak ingin berbagi manfaat . Mengapa perpustakaan itu harus bentuk bangunan? Bagaimana jika perpustakaan itu bergerak dari satu tempat ke tempat lain? Mengapa tidak kita membuat perpustakaan keliling setiap minggu di event Car Free Day?

Pelaksanaan : Tentukan waktunya, setiap hari minggu, tentukan PIC mingguannya, kasih jabatan misal “Library man”, berikan ruang sang library man dan tim untuk menghadapi tantangan  yang muncul selama projek berjalan

*AMATI, TERLIBAT, TULIS*

��AMATI

Tentukan aspek-aspek perkembangan anak yang ingin kita amati melalui family project, Misal saat ini kita ingin menguatkan komunikasi produktif , kemandirian dan faktor kecerdasan anak-anak, maka tentukan hal-hal sbb:

*Aspek Komunikasi Produktif*

Bagaimanakah pola komunikasi anak-anak kita selama menjalankan sebuah projek?

*Aspek Kemandirian*

Apakah sudah makin terlihat tingkat kemandirian anak-anak dalam mengerjakan projek?

*Aspek Kecerdasan*

Bagaimana cara anak meningkatkan rasa ingin tahunya? (IQ), bagaimana cara anak mengelola emosi selama projek berjalan ?(Emotional Intellegence/EI), Bagaimana cara anak meningkatkan kebermanfaatan dirinya dengan projek tersebut? (Spiritual Intelligence. SI), Bagaimana cara anak mengubah masalah menjadi peluang (Adversity Intellegence,AI)

��TERLIBAT

Dalam setiap projek yang dibuat libatkan diri kita, para orangtua, untuk menjadi bagian anggota tim, asyik menjalankan bersama sebagai pembelajaran. Belajarlah menjadi follower yang taat pada keputusan leader. Saat menyelenggarakan master mind, bergantilah peran menjadi fasilitator yang baik.

��TULIS

Tulis pengalaman kita setiap hari baik cerita gagal maupu cerita sukses dalam menjalankan projek demi projek., baik cerita bahagia maupun cerita mengharubiru. Alirkan rasa anda setiap hari. Alih-alih sebagai kenangan yang sangat indah apabila kita buka kembali beberapa tahun ke depan, konsistensi kita dalam menuliskan setiap family project yang kita lakukan ini juga akan membuahkan portofolio keluarga yang bisa bermanfaat bagi keluarga kita sendiri maupun keluarga yang lain. Selamat memasuki Ramadhan dengan Family Project yang penuh berkah.

Ditulis oleh Septi Peni Wulandani
Disarikan dari materi session my family my team yang dibawakan oleh bapak Dodik Mariyanto di PERAK 2017

https://padepokanmargosari.com/2017/04/02/catatan-perak-2017-1-family-project/

Materi#3 Kelas Bunsay#2Kalimantan

Institut Ibu Profesional

Materi Bunda Sayang sesi #3

❤ PENTINGNYA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK DEMI KEBAHAGIAAN HIDUP ❤

Dalam kehidupan ini ada dua kata yang selalu diinginkan manusia dalam hidup yaitu *SUKSES*dan *BAHAGIA*

☘ Makna SUKSES

Menurut D. Paul Reily dalam bukunya Succes is Simple mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan dan cita-cita yang berharga

Sedangkan menurut Lela Swell dalam bukunya _Success_mengemukakan pendapatnya bahwa sukses adalah  _peristiwa atau pengalaman yang kita akan mengingatnya sebagai pemuasan diri_

☘ Makna BAHAGIA

Menurut Prof. Martin Selligman dalam bukunya _Authentic Happiness_ mendefinisikan kebahagiaan hidup dalam tiga kategori :

A. Hidup yang penuh kesenangan (Pleasant Life )

Hidup yg penuh kesenangan, ialah kondisi kehidupan dimana pencarian kesenangan hidup, kepuasan nafsu, keinginan dan berbagai bentuk kesenangan lain nya, menjadi tujuan hidup manusia

Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat material.

B. Hidup nyaman ( Good Life)

Hidup yg nyaman, ialah kehidupan, dimana segala keperluan kehidupan manusia secara jasmani, rohani dan sosial telah terpenuhi.. Hidup yg aman, tentram, damai. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat mental

C. Hidup Bermakna ( Meaningful Life)

Hidup yang bermakna, lebih tinggi lagi dari tingkat kehidupan yang nyaman, selain segala keperluan hidupnya telah terpenuhi, ia menjalani hidup ini dengan penuh pemahaman tentang makna dan tujuan kehidupan. Selain untuk diri dan keluarga nya, ia juga memberikan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Rasa kebahagiaan yg timbul ketika banyak orang lain mendapatkan kebahagiaan karena usaha kita, _pleasure in giving, kebahagiaan dalam berbagi. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat spiritual_

Untuk mencapai kategori hidup SUKSES dan BAHAGIA kita perlu memiliki berbagai macam kecerdasan hidup.

☘ KECERDASAN

Para ahli berpendapat untuk tidak membicarakan atau memberikan batasan yang jelas tentang kecerdasan. Karena kecerdasan itu merupakan status mental yang tidak memerlukan definisi.Para ahli lebih memusatkan perhatian pada perilaku kecerdasan seperti kemampuan memahami dan menyelesaikan masalah dengan cepat, kemampuan mengingat dan daya kreativitas serta imajinasi yang terus berkembang.

MACAM-MACAM KECERDASAN

A. Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient)

Adalah  kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar memahami gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya.

Howard Gardner pakar psikologi perkembangan, menjelaskan ada sembilan macam kecerdasan manusia. Kecerdasan tersebut meliputi kecerdasan bahasa (linguistic), musik (musical), logika-matematika (logical-mathematical), spasial (spatial), kinestetis-tubuh (bodily-kinesthetic), intrapersonal (intrapersonal), interpersonal (interpersonal), naturalis (naturalits) dan eksistensial (existensial)

B. Kecerdasan Emosional (Emotional Intelleigence)

kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.

Komponen-komponen dasar kecerdasan emosional adalah :

1.  Kemampuan Mengenali Emosi diri sendiri (kesadaran diri).

2.  Kemampuan Mengelola Emosi.

3.  Kemampuan Memotivasi Diri Sendiri (Motivasi).

4.  Kemampuan Mengenali Emosi Orang lain (Empati).

5.  Membina Hubungan Dengan Orang Lain (Ketrampilan sosial).

C. Kecerdasan Spiritual ( Spiritual Intelligence)

Kemampuan untuk mengenal Allah  dan memahami posisinya sebagai hamba Allah. Inilah yang disebut dalam agama sebagai fitrah keimanan.

Secara ilmiah Kecerdasan Spiritual pertama kali dicetuskan oleh Donah Zohar dari Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford University, yang diperoleh berdasarkan penelitian ilmiah yang sangat komprehensif.  Pada tahun 1977. Seorang Ahli Syaraf, V.S Ramachandran bersama timnya menemukan keberadaan God Spot dalam jaringan otak manusia dan ini adalah pusat spiritual ( spiriitual center) yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak.

Dari spiritual center ini menghasilkan suara hati yang memiliki kekmampuan lebih dalam menilai suatu kebenaran bila dibandingkan dengan panca indra.

Ada Tiga prinsip dalam kecerdasan Spiritual yaitu :

��Prinsip Kebenaran

��Prinsip keadilan

��Prinsip kebaikan

D. Kecerdasan Menghadapi Tantangan  (Adversity Intelligence)

Kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi peluang.

Ada tiga tipe  menurut Stoltz yaitu :

1.  Quitters adalah kemampuan seseorang yang memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur dan berhenti bila menghadapi kesulitan.

2. Campers adalah kemampuan seseorang yang pernah mencoba menyelesaikan suatu kesulitan, atau sedikit berani menghadapi tantangan, tatapi tidak berani menghadapi resiko secara tuntas.

3. Climbers adalah sebutan untuk orang yang seumur hidup selalu menghadapi kesulitan sebagai suatu tantangan dan terus berusaha untuk menyelesaikan hambatan tersebut hingga mencapai suatu keberhasilan.

Kecerdasan Intellektual : Membuat anak pandai, sehingga bisa menjadi sarana meraih kebahagiaan hidup yang penuh kesenangan (pleasant life). Seperti masuk universitas ternama, mendapat pekerjaan dan jabatan yang tinggi. Memiliki rumah, mobil dan kesenangan materi yang lain.

Kecerdasan Emosional : membuat anak bisa mengenali dan mengendalikan emosi diri serta emosi orang lain. Kecerdasan ini sangat diperlukan agar seseorang bisa mencapai taraf kebahagiaan di ranah nyaman ( good life), karena kebutuhan jasmani, rohani dan spiritualnya terpenuhi.

Kecerdasan Spiritual : membuat hidup penuh arti, anak akan mampu memberi makna pada kehidupan, dan paham apa misi Allah menciptakan diri kita di dunia ini. Membuat anak berpikir secara luas makna sebuah kesuksesan. Hal ini akan mendorong anak-anak mencapai kebahagian hakiki yaitu kehidupan penuh makna ( meaningful life).

Kecerdasan Menghadapi Tantangan : Menentukan seberapa tangguh anak ini untuk mencapai tingkat kebahagiaan hidup yang dia inginkan.

Terlampir beberapa indikator kecerdasan anak yang bisa kita jadikan acuan unt mendampingi perjalanan kita mendidik mereka.

Selamat melatih kecerdasan anak-anak, sehingga mereka bisa menemukan jalan sukses dan bahagianya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasiitator Bunda Sayang/

Sumber Bacaan :

Stoltz, Paul G, PhD, 1997 Adversity Quotient, Mengubah hambatan menjadi Peluang, Jakarta , Grasindo

Melva Tobing, MPsi, Daya Tahan Anak Hadapi Kesulitan, Jakarta

D. Paul Reily, "Success is Simple”, Gramedia, Jakarta

Lela Swell, Success, Grasindo, Jakarta

Martin Selligman, Authentic Happiness, Jakarta      

Sabtu, 26 Agustus 2017

One step ahead!

Tak terasa sudah hari ke 17. Berarti sebentar lagi wrap up materi level#3 ini.
Hari jumat kemarin adalah hari terakhir sang money maker berjualan. Total uang yang berhasil dikumpulkan oleh kakak, sang money maker, adalah 292.000 rupiah. Alhamdulillah, rak susun impian akan segera hadir di rumah kami.
Walaupun tantangan game level 3 ini telah usai, namun family project #1 masih terus kami jalankan hingga terwujud kids reading corner impian kami :)

#Day11
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari

Senin, 21 Agustus 2017

Progress Family Project

Akhirnya mama sampai pada hari ke 10 dari tantangan 10 hari. Sudah kelewat 3 hari dari jadwal seharusnya :(
Mama ingin menceritakan progress family project di rumah. this kinda like false celebration for me :(

Family Project#1 total uang yang telah dihasilkan oleh money maker adalah 210.000 rupiah. Tantangannya sekarang adalah kakak tidak boleh lagi berjualan di sekolah selain waktu bussiness day. Hari jumat nanti baru ada jadwal bussiness day untuk kelas kakak. Jadi hari jumat nanti akan menjadi hari terakhit pengumpulan uang kami untuk membeli rak susun dan mewujudkan reading kids corner di rumah.

Family Project#2 "Bintangku" mengalami tantangan pada konsistensi. Kalau ingat bintangnya ditempel kalau lagi lupa atau males ya dibiarin aja. Bahkan sekarang neng Z mulai minta mama untuk bikin susunya. Mama masih mememikirkan kira-kira apa yang bisa membuat duoZ ini semangat lagi.

#Day10
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari

Minggu, 20 Agustus 2017

Family "seminar HSF" Project

Hari Sabtu, tanggal 19.08.2017 mama punya agenda seminar HSF. Agenda ini sudah disounding sejak hari Rabu, namun secara resmi kami menjalankan peran untuk kesuksesan project ini baru terjadi pada hari Jumat.
Jumat pagi, si tengah ikut bersama mama jalan ke toko ATK menyiapkan perlengkapan berupa seminar kit. Setelah itu lanjut ke percetakan untuk mengambil spanduk, pin sekaligus cetak materi seminar. Neng Z ikut mendampingi mama jadi seksi sibuk.
Jumat sore, kami pergi ke ruanggiat untuk cek setting ruangan dan segala perlengkapannya. TrioZ senang mencoba mainan di playland. Disinilah mulai ketertarikan mereka untuk datang lagi ke ruanggiat.
Awalnya kami sudah membagi peran pengasuhan. Si bungsu akan diasuh oleh nenek. Sedangkan untuk si tengah dan sulung akan ikut bapak ke klinik. Ternyata di pagi hari H, sulung dan tengah kompak bilang mau ikut mama seminar. Oke kalau begitu kita ulang pembagian tugasnya. Kakak yang memang punya sense caring yang tinggi dengan anak kecil mendapat tugas untuk bermain bersama anak-anak peserta lain. Sementara untuk neng, mama minta agar ia berusaha melatih kemandirian dalam hal tidak menyusu dot dan ke toilet tanpa mama.
Ternyata DuoZ ini bertahan hingga jam 2 siang. Saat mulai lelah, neng mulai mencari dot sehingga akhirnya dijemput pulang oleh om.

Sore harinya ketika mama sampai di rumah yang paling heboh adalah si bungsu. Ternyata walaupun sudah diberi pengertian kalau hari itu ia akan berpisah seharian dari mama tetap saja ia butuh jam menempel bersama mama sama banyak seperti hari lain. Bahkan ia memolorkan jam tidurnya agar bisa bersama mama lebih lama. Ahh... trioZ ini memang very limited edition, mereka berkembang dengan keunikannya masing-masing.

#Day9
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari

Kamis, 17 Agustus 2017

Family "independent day" Project

17 Agustus 2017, hari ini tepat 72 tahun negara Indonesia telah mendeklarasikan kemerdekaannya.

Pagi hari, Bapak mengajak trioZ untuk "upacara" pengibaran bendera di depan rumah. Berhubung benderanya baru dibeli kemarin jadilah baru dipasang saat 17 Agustus.

Hari ini kami safar ke muara badak. Agenda dengan tetangga satu cluster adalah merayakan kemerdekaan dengan mengadakan lomba-lomba di pantai. Jadilah ini family project #3. Yang berbeda adalah anggota keluarga yang terlibat di project ini. Bapak yang tidak bisa ikut karena harus jaga klinik akhirnya digantikan oleh om yang bertugas sebagai mahram sekaligus supir selama perjalanan. Hadir juga nenek trioZ yang menemani safar kami.

Sejak turun dari mobil mama sudah membagi tugas siapa yang harus bertanggungjawab membawa barang. Semua mendapat bagiannya masing-masing sesuai dengan porsi tubuhnya. Untuk sampai di pantai tujuan, kami harus menyeberang dengan menggunakan kapal kecil. Setelah turun dari kapal pun kami masih harus berjalan kaki sekitar 1 km untuk mencapai pantai. Setelah sampai di pantai tak perlu ditanya lagi betapa senangnya trioZ.

Dari kondisi perjalanan family project #3 ini mama menangkap beberapa peristiwa berharga, diantaranya :
1. Kemandirian trioZ sudah cukup terlatih. TrioZ mampu jalan kaki sambil membawa barang tanpa mengeluh.
2. Keberanian dalam naik turun kapal. Yang mana saat pulang kami sempat pindah kapal di tengah lautan.
3. Saling menjaga satu sama lain.

Mama senang sekali dengan game level 3 ini. Ternyata dengan family project banyak hal penting terjadi dalam setiap prosesnya. Benarlah quotes "proses tidak akan pernah mengkhianati hasil". Serpihan pengalaman inilah yang akan membentuk diri mereka.

#Day8
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari

Rabu, 16 Agustus 2017

Family Project's Day#7

Wah... mama loncat sehari nih kumpul tugas kelas bunsaynya. 2 malam ini lumayan hectic jadilah baru kumpul tugas pagi hari.
Karena kemarin lusa kakak lupa membeli jajan untuk dijual lagi jadi kemarin kakak hanya menjual sisa jajan yang ada dirumah.
Yang menjadi pelajaran untuk pengalaman kemarin adalah tentang HUTANG. Dari 3 hari yang lalu, di catatan kakak masih ada piutang ke teman-temannya sebesar 50.000 rupiah. Setiap malam mama selalu mengingatkan kakak agar besok mengingatkan teman-temannya untuk bayar hutang. Karena salah satu kewajiban muslim adalah menagih hutang. Ternyata setelah 3 hari ini tidak ada teman-temannya yang membayar hutang kepada kakak. Akhirnya, mama menanyakan kakak "apa kakak bisa ikhlaskan?" Kalau kakak ikhlaskan insyaa Allah terhitung sebagai pahala sedekah untuk kakak. Kakak juga mencegah teman-teman kakak memakan makanan haram. Yang akhirnya membuat ibadah teman-teman kakak tetap diterima oleh Allah (insyaa Allah). Yang penting kakak sudah melakukan tugas kakak yaitu mengingatkan teman-teman kakak akan hutang mereka.
Alhamdulillah kakak mau dan bisa mengikhlaskan hutang teman-temannya.
Ini menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan family project #1 kami.
Barakallahu kakak Z sayang, semoga selalu Allah limpahkan rezeki yang halal dan hati yang ikhlas untukmu.

#Day7
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari

Selasa, 15 Agustus 2017

Family Project's Story Day#6

Kemarin sepulang sekolah kakak, kami main ke percetakan mba adis untuk mengurus spanduk persiapan seminar HSF. Jadwal sepulang sekolah itu seharusnya adalah membeli jajan kakak untuk dijual lagi di sekolah keesokan harinya. Akhirnya kami pun lupa membeli jajan.
Alhamdulillah sampai kemarin sudah terkumpul uang 180.000 rupiah. Masih kurang 119.000 rupiah lagi untuk memboyong rak susun untuk proyek kids reading corner dirumah.
Mama dan kakak susun strategi berjualan lebih banyak untuk hari Jumat karena pada hari itu tidak ada pembelajaran di sekolah hanya lomba-lomba memperingati 17 Agustus.

Sedangkan untuk family project#2 mama masih tekun belajar bahasa arab. Kali ini kakak memberikan tanya jawab agar proses belajar mama lebih interaktif. Wah... sepertinya kakak cukup berbakat untuk menjadi guru ;)

#Day6
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari

Sabtu, 12 Agustus 2017

Family Projects's Story Day#5

Tak terasa sudah masuk tantangan day#5 di game level#3 ini.
Hari ini mama akan menceritakan perkembangan family project #1 & #2.

Family project#1 masih jalan terus dengan rutinitas money maker. Alhamdulillah sampai hari ini kami sudah mengumpulkan uang 117.000 rupiah. Yang berbeda adalah kali ini kakak Z akan mencoba menjual jajan dengan harga yang lebih murah karena kemasannya lebih kecil.

Family project#2 punya cerita uniknya sendiri. Jadi, perjanjiannya adalah jika kakak dan neng berhasil mengumpulkan 10 bintang maka akan mendapatkan hadiah berupa uang 10.000 rupiah. Uang ini akan mereka gunakan untuk membeli squishy. Si neng mulai mandiri secara rutin membuat susunya sendiri. Ketidaksabarannya dalam mengumpulkan bintang membuatnya langsung menempelkan 10 bintang pada kolom namanya :D lalu dengan santainya "mah, itu sudah 10 bintang" hahaha... ternyata mama harus mengeluarkan jurus materi#1 komunikasi produktif dalam menghadapi cerdasnya si neng ini.
Hari ini mama juga mulai diajari kakak bahasa arab. Ada sekitar 20 kosakata dan mama hanya berhasil menghafal 8 kosakata dalam waktu 10 menit belajar bahasa arab bersama kakak. Wah... ternyata butuh energi ekstra untuk belajar bahasa baru. Semangaat....

#Day5
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari

Jumat, 11 Agustus 2017

Family Project #1's Story Day#2

Kali ini mama akan bercerita tentang job desc. money maker. Kakak Z memegang peran kunci dalam family project#1 ini, dia adalah money maker. Dari uang yang dihasilkannya kami akan membeli rak buku susun 4 idaman kami :)

Kak Z memang memiliki bakat dalam hal berjualan. Darah chinese kai-nya mengalir lompatin mama (yang gak bakat banget berjualan) dan langsung menuju kakak.
Jadi setiap berangkat sekolah kakak membawa jajanan untuk dijual ke teman-temannya. Sepulang sekolah kakak bersama mama akan membeli lagi jajanan untuk dijual besok. Disini mama mengambil peran sebagai investor. Modal awal yang mama berikan adalah 30.000 rupiah. Hari pertama kakak membawa pulang uang 64.000 rupiah dan kami belanja lagi sebesar 73.000 rupiah. Belum ada dana yang bisa kami simpan karena masih diputar untuk modal.
Hari kedua kakak membawa pulang uang sebesar 104.000 rupiah. Dari sini kami sudah bisa menabung 30.000 rupiah dan sisanya diputar untuk modal.
Yang menarik dari pengalaman kakak hari ini adalah adanya sistem hutang dan pre order. Jadi ada beberapa temannya yang beli jajan namun uangnya kurang, akhirnya jajan tetap dijual oleh kakak dan kekurangan pembayarannya dicatat. Ada pula beberapa teman yang tidak kebagian jajan sehingga sudah pesan duluan untuk hari senin.
Mama lihat catatan kakak cukup rapi dan detil. Sebagai investor mama senang bekerja sama dengan kakak karena laporannya jelas dan prospek BEP lebih cepat.
Mama juga belajar membuat catatan pembukuan sederhana agar tahu perputaran uang untuk modal dan saving.

Ahhh... menjalankan family project memang menyenangkan. Tidak hanya target yang akan tercapai, tapi proses menjalaninya pun penuh dengan pengalaman mengesankan.

#Day2
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari

Kamis, 10 Agustus 2017

Family Project #1

Hari ini mama akan bercerita tentang proses pemilihan dan perencanaan proyek keluarga kami yang pertama.

Sebenarnya sudah sejak bulan lalu mama memiliki ide untuk membuat kids reading corner di rumah.
Beranjak dari kesukaan abang membolak-balik buku untuk melihat gambarnya, maka mama berinisiatif untuk memfasilitasi hobinya ini. Saat ini, kami hanya memiliki ambalan di dinding yang tingginya setinggi orang dewasa, pada ambalan dinding inilah kami menata buku koleksi kami. Ketika memulai proses homeschooling harian untuk neng dan abang maka mama harus mengambilkan beberapa buku yang menarik. Kekurangan dari metode ini adalah duo Z tidak bisa ikut aktif memilih dan mengembalikan buku yang sudah dibaca. Akhirnya buku malah berakhir di laci meja tv.

Berangkat dari sinilah akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan kids reading corner ini sebagai family project #1.

Tahapan pertama adalah mengumpulkan dana untuk membeli rak buku susun. Kami sudah survei di giant ekstra ada menjual rak buku susun 4 dengan harga 299.900 rupiah.
Yang menjadi money maker disini adalah kakak Z. Mama berperan sebagai investor. Progress selanjutnya dari tahap pengumpulan dana ini akan mama ceritakan pada tantangan besok ya.

Tahapan kedua adalah proses pembelian rak susun ini. Pimpro tahap ini adalah Bapak ;) butuh tenaga ekstra untuk prosea angkut rak susun ini dan sekalian kami minta diajak jalan-jalan hehehe...
Sebenarnya Bapak siap membelikan rak susun ini tapi mama lebih memilih menjadikan pengadaan ini sebagai proses dari family project kami.

Tahapan ketiga adalah proses menata kids reading corner kami.Rencananya, rak susun akan ditaruh di pojokan rumah kemudian diletakkan sofa tidur frozen milik kak Z. Sehingga sambil membaca trio Z bisa sambil leyeh-leyeh cari posisi wuenak.

Tahapan keempat adalah proses pengisian rak susun. Kak Z sudah memberi saran terlebih dahulu agar nanti raknya dijatah dan diberi nama. Lalu mengisi buku secukupnya saja, jangan terlalu padat. Disini semua anggota keluarga akan mainkan peran untuk menentukan buku yang akan di display di rak susun.

Tahapan kelima adalah mengapresiasi kinerja seluruh anggota keluarga. Ketika trio Z sudah nyaman dengan reading corner mereka maka kami bisa lanjut ke family project berikutnya untuk meningkatkan budaya membaca mereka.

#Day1

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

Kamis, 03 Agustus 2017

Anakku Homeschooling!

Sekitar tahun 2013, aku dan tim kecil membidani lahirnya sebuah pendidikan formal swasta tingkat SMA. Dari tim kecil inilah aku mulai mendengar tentang homeschooling. Awalnya aku menganggap aneh pemikiran teman-temanku yang ingin menjalankan homeschooling untuk anaknya. Saat itu aku benar-benar buta dengan yang namanya homeschooling, tak ada satupun praktisi hs yang kukenal.

Tahun 2017, ketika aku melakukan proses tazkiyatun nafs, seolah-olah sedang menonton jalan hidupku sendiri. Dari TK hingga SMA, aku selalu berada di sekolah favorit, kuliah di jurusan keguruan, kuliah sambil ngajar bimbel dan les privat, lulus kuliah langsung kerja di sekolah islam swasta. Di tempat kerjaku proses belajar dan mematangkan diri terus berlangsung, disediakan pelatihan keguruan dari tinggal daerah, nasional, bahkan internasional. Seolah-olah aku memang sudah di-setting hidup di jalan pendidikan formal.

Perubahan mindset kudapatkan ketika mengikuti kelas matrikulasi institut ibu profesional. Mulai dari materi-materi sederhana namun menggelitik nurani, hingga materi padat berisi yang mampu menggoyahkan prinsip hidupku. Dari sini aku mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh senior bidang pendidikan. Mulai dari keluarga yahud padepokan margosari, Ustadz Harry Santosa dan tim FbE-nya, Abah Rama Royani dengan talents mappingnya. Mereka ini seperti keran air. Semakin ingin aku menyerap ilmu dari mereka semakin banyak ku mengenal orang-orang baru di sekeliling mereka. Tapi paling tidak aku sudah bisa fokus mana kebutuhanku dan mana yang hanya suplemen untukku. Dari sinilah aku bisa membentengi diri dari banjir informasi seputar parenting.

Proses pertama berdamai dengan diriku, DONE!

Proses kedua, saatnya memperkaya wawasan mengenai HS. Pemberhentian pertamaku ada pada fb dan web rumah inspirasi. Cukup pada kunjungan pertama aku langsung disuguhi form info milis 30 hari mengenal hs. Thanks to mas aar dan mba lala karena sudah proaktif mengampanyekan hs ini. Inilah awal aku membangun mindset pendidikan untuk anakku. Tak hanya mataku yang sudah melek dengan HS, mata hatiku pun terbuka untuk melihat kelebihan anak-anakku serta menyiasati kekurangannya.

Proses kedua, DONE!

Proses ketiga adalah proses sounding keluarga kami. Alhamdulillah, suami ternyata sangat mendukung program hs ini. Entah apa yang ada dalam benaknya, namun Bapak senantiasa memberikan link-link pendukung untuk memperkaya wawasanku. Sounding berikutnya tentu dengan anak-anak, karena mereka adalah tokoh utamanya.
Si sulung masih memiliki keinginan untuk menjadi dokter sehingga memutuskan untuk tetap berada di jalur pendidikan formal. Melanjutkan pendidikannya di sekolah islam sekarang kak Z duduk di kelas 4.
Si tengah, neng Z, yang seyogyanya naik ke TK B akhirnya kami arahkan untuk HS. Banyak alasan yang melatarbelakangi kami sehingga mengerahkan neng Z untuk HS.
Si bungsu, bang Z, tentu senang sekali ada teman main di rumah. Terasa sekali bondingnya si bungsu dengan si tengah lebih erat bila dibandingkan ke si sulung.
Lingkaran terdekat keluarga kami yang berikutnya adalah orang tuaku. Alhamdulillah mereka pun tidak melancarkan protes :)
Lingkungan terdekatku mungkin mafhum...oh wajar aja toh ibunya guru.
Proses ketiga, DONE!

Proses satu, dua, tiga sudah kulalui saatnya action! Karena niat tanpa eksekusi adalah hal yang mustahil untuk terwujud. Maka, mengambil momen tahun ajaran baru 2017/2018 inilah aku memulai homeschooling untuk anakku.

Yes, anakku homeschooling!

Apa hanya 4 proses? Oh, tentu tidak. Aku masih harus terus belajar agar mampu menumbuhkan semua fitrah anak-anakku dan yang pasti aku senang karena bisa berkembang bersama mereka.

Review Materi#2 Kelas Bunsay#2 Kalimantan

Review Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang #2 Materi #2

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang “MELATIH KEMANDIRIAN ANAK”.

Pekan ini kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama dengan anak-anak di rumah.

Yang pertama, kami akan mengapresiasi bunda semua  yang sudah komitmen melakukan tantangan 10 hari ini :

�� Selamat untuk para Bunda, yang berhasil menyelesaikan tantangan 10 hari ini sampai dengan tanggal 29 Maret 2017, dengan berbagai kondisi, ada yang konsisten setiap hari, lompat-lompat, maupun dirapel.

Bunda berhak memperoleh badge *YES,  I CAN* ������

( pengumuman nama-nama yang mendapatkan badge Yes, I CAN)

�� Daaan…inilah Bunda-Bunda yang berhasil konsisten menjalankan tantangan 10 hari secara berturut-turut sampai akhir, baik praktek maupun mempostingnya setiap hari tanpa jeda,

Bunda berhak menyematkan badge

��You’re EXCELLENT

( Pengumuman nama-nama yang mendapatkan badge “You’re EXCELLENT”)

Sekali lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai  tercapai tujuan akhir.

Sikap/sifat yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.

KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada  seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.

Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri.

Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa  life skill yang perlu dimiliki oleh anak.

Ketika hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka

*_Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah_*

Hasilnya akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal inlah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik kemandirian anak kita.

Karena kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.

Gejala-gejala tersebut seperti contoh di bawah ini:
a. Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku  tidak konsisten.

b. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.

c.Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Kalau melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak  sekarang, sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.

Berikut beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan anak-anak kita secara global.

�� Ciri khas kemandirian anak :
a. Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran.

b. Anak mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil sebelum berbuat.

c. Anak percaya terhadap penilaian sendiri, sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan.

d. Anak memiliki  kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya

Menurut Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam lima komponen sbb :

a. MERDEKA, anak bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung orang lain

b. PROGRESIF, berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.

c. INISIATIF , mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif

d. TERKENDALI DARI DALAM,  individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .

e. KEMANTAPAN DIRI, memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

Kemandirian-kemandirian tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan kemandirian yang  lebih untuk mencapainya.

Sumber Bacaan :
Masrun dkk, Jurnal Kemandirian Anak, diakses melalui www.lib.ug.co.id, pada tanggal 13 Februari 2016

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016

Trilling dan Fadel, 21st century skills, 2009

Cemilan Kemandirian #3

������������
Cemilan Rabu 3

��MENDIDIK KEMANDIRIAN EMOSI��

Seorang lelaki duduk beristirahat dibawah pohon. Matanya menatap seksama kepompong kecil yang tergantung di cabang pohon tempatnya berteduh. Kepompong itu bergerak-gerak, nampaknya ada yang berusaha keluar dari dalam kepompong itu. Sungguh kesempatan langka, pikir si lelaki. dan iapun memperhatikan dengan lebih seksama. Cukup lama juga, kepompong itu terus bergerak-gerak, hingga akhirnya sedikit tersobek di salah satu sisinya. sobekan itu masih sangat kecil, belum cukup untuk pintu keluar bagi si penghuni kepompong. Maka iapun masih terus mengeluarkan tenaga, yang menyebabkan kepompongnya terus berguncang.

Lama kelamaan, si lelaki merasa jatuh kasihan, begitu banyak tenaga sudah dikeluarkannya, belum juga si penghuni berhasil keluar. Dilihatnya kepompong itu lebih dekat. Rupanya sobekannya masih juga terlalu kecil. Akhirnya diambilnya inisiatif untuk menolong si penghuni itu untuk bisa segera keluar. Segera diguntingnya kepompong tersebut sehingga terbuka lebar sisinya, agar si calon kupu-kupu bisa segera keluar.

Tapi sungguh diluar dugaan, yang keluar dari kepompong itu bukanlah kupu-kupu cantik, tetapi kupu-kupu dengan bentuk aneh. Kepala dan perutnya besar, sementara sayapnya lemah tak bisa terentang. Kupu-kupu cacat itu langsung terjatuh ke tanah, dan hanya bisa menggelepar-gelepar tak berdaya.

Ternyata tindakan si lelaki untuk menolong dengan menggunting kepompong itu yang justru menyebabkan cacatnya kupu-kupu itu. Sesungguhnya susah payahnya si kupu-kupu keluar dari kepompong, termasuk proses akhir pertumbuhan bandannya. Melalui kerja kerasnya mengguncang kepompong sampai tersobek itulah yang justru akan mengecilkan kepala dan badannya hingga ke ukuran yang pas. Sementara otot sayapnya menjadi kuat sehingga cukup kuat untuk mengepakkan sayapnya.

Tetapi campur tangan seseorang mengeluarkannya terlalu cepat, maka proses pertumbuhan terakhir itu tak sempat dilewatinya. Yang terlahir adalah kupu-kupu berkepala dan badan yang bengkak, dengan sayap yang loyo tak berkekuatan.

��CAMPUR TANGAN YANG MERUSAK��

Seperti kupu-kupu itu pulalah nasib anak-anak kita, jika orang tua terlalu banyak ikut campur tangan dalam pembentukan kemandirian emosi mereka. Ketika anak sudah sampai pada tahap pengendalian diri maka hampir seluruh upaya mereka lakukan sendiri. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator saja.

Saat anak berupaya mengendalikan emosi kemarahan, kesedihan atau kekecewaan yang menyerang dirinya, maka ayah ibu hanya bisa memotivasi saja, sementara si anaklah yang harus memutuskan sendiri, apakah ia akan lakukan atau tidak. Jika orang tua memberikan campur tangan dan bantuan untuk menyelesaikan masalah anak, maka anak tidak akan memperoleh pembelajaran hidup.

Ketika dua orang anak bertengkar, bukanlah tugas orang tua untuk melerai dan memutuskan siapa yang bersalah dan harus minta maaf. tetapi semestinya anak-anak itu sendirilah yang menyelesaikannya. Yang bisa dilakukan orang tua adalah memotivasi kedua anak yang sedang berseteru untuk berempati satu sama lainnya, sehingga perseretuan bisa diakhiri. Masing-masing bisa menghormati hasil fikiran temannya serta saling menghormati.

Bisa saja orang tua memaksa salah satu pihak yang dianggapnya salah untuk mengaku  salah dan minta maaf, tetapi bukannya menyelesaikan masalah, justru akan memperburuk masalah. Bukannya empati yang timbul dihati anak tapi justru rasa iri, merasa dipojokkan , pilih kasih  yang menimbulkan rasa dendam.

Disinilah orang tua belajar tega untuk tidak buru-buru menolong anak yang sedang berjuang menempuh ujian kehidupan. sehingga orang tua tidak terlibat dalam campur tangan yang merugikan. Sepintas nampaknya menolong anak keluar dari kesulitan yang dihadapi, akan tetapi justru menggagalkan pengembangan kemandirian emosi anak.

Salam ibu profesional
/Tim Fasilitator Bunsay 2/

Sumber Inspirasi
    Istadi, Irawati. Melipat Gandakan Kecerdasan Emosi Anak. Bekasi. Pustaka Inti:2006

Cemilan Kemandirian #2

���� Cemilan Rabu #2 ����

*CIRI ANAK MANDIRI DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN*

Kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa.

```Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan dengan tugas perkembangan.```

Adapun tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini antara lain belajar *berjalan, belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan lingkungan, pembentukan pengertian, dan belajar moral*

❤❤❤❤❤❤❤❤❤Empat ciri kemandirian anak yang perlu diketahui:

�� Anak dapat melakukan segala aktivitasnya secara sendiri meskipun tetap dengan pengawasan orang dewasa.

�� Anak dapat membuat keputusan dan pilihan sesuai dengan pandangan, pandangan itu sendiri diperolehnya dari melihat perilaku atau perbuatan orang-orang di sekitarnya.

��Anak mampu bersosialisasi dengan orang lain tanpa perlu ditemani orang tua.

��Anak bisa mengontrol emosinya bahkan dapat berempati terhadap orang lain.

��������������������
*Lima tahapan perkembangan kemandirian anak yaitu:*

1⃣ Anak mampu mengatur kehidupan dan diri anak sendiri, misalnya: makan, ke kamar mandi, mencuci, membersihkan diri, dan memakai pakaian sendiri.

2⃣Anak bisa melaksanakan ide-ide anak sendiri dan menentukan arah permainan.

3⃣Anak bisa mengurus hal-hal yang ada dalam rumah dan bertanggung jawab terhadap sejumlah pekerjaan domestik, mengatur bagaimana menyenangkan dan menghibur diri sendiri dalam alur yang diperbolehkan, dan mengelola uang saku sendiri.

4⃣Anak bisa mengatur diri sendiri di luar rumah, misalnya di sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah, menyiapkan segala keperluan kehidupan sosial di luar rumah.

5⃣Anak mampu untuk mengurus orang lain baik di dalam rumah maupun di luar rumah, misalnya menjaga adiknya ketika orang tua sedang mengerjakan sesuatu yang lain.

❣❣❣❣❣❣❣❣❣❣

Dalam mendidik anak mandiri ini dibutuhkan kesabaran dan pengetahuan yang cukup.  Jangan lupa bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa.  Oleh karena itu anak tidak boleh dituntut menjadi orang dewasa sebelum waktunya.

��������������������

Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

�� Sumber bacaan :
http://www.al-maghribicendekia.com/2013/09/ciri-anak-mandiri-dan-tahapan

Cemilan Kemandirian #1

☘☘ *Cemilan Rabu 1*☘☘
12 Juli 2017

*KEMANDIRIAN*

Kemandirian atau bergantung pada diri sendiri adalah konsep yang harus diperhatikan untuk ditanamkan pada jiwa anak.
Banyak anak yang menjadi kurang mandiri pada era sekarang ini. Hal ini nampak jelas dirumah-rumah karena mereka sering kali bergantung pada pembantu. Begitu juga dalam mengerjakan tugas - tugas dan belajar. Sikap tersebut membuat nilai kemandirian pada anak berkurang.
Dengan demikian, pada orangtua dan pendidik harus melatih anak agar belajar percaya diri serta dapat mandiri dalam perkara ibadah dan kehidupan.

Berikut beberapa hal yang dapat membantu untuk menanamkan nilai kemandirian pada diri anak.

*1.* *_Membiasakan Anak untuk Mengerjakan Urusan Rumah Sendiri_*

Misalnya, merapikan kamar, belajar dan mengerjakan tugas dengan tetap memberikan perhatian untuk membantunya pada saat tertentu.

*2.*  *_Membiasakan  Anak untuk Membeli Sesuatu dari Toko (Warung) dan Memberi Mereka Tugas Kecil_*

Misalnya  memberikan mereka catatan belanja dan membiarkan mereka belanja sendiri, lakukan berkali-kali sampai akhirnya mereka terlatih.

*3.* *_Pemilihan Baju_*

Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih bajunya sendiri. Saat tidak cocok kita bisa bertanya dan mengarahkannya saja.

*4.* *_Kemandirian Iman_*

Kemandirian Iman maksudnya adalah kita mengajari anak untuk menjaga ibadahnya sendiri. Ini juga tidak berarti membiarkannya, dan kita tetap harus mengawasi dengan tepat dan dan mengingatkannya  untuk beribadah.

*5.* *_Mengajarinya Perencanaan Sederhana_*

Misal membuat jadwal yang harus anak kerjakan setiap harinya dengan sederhana saja. Hal ini akan membantunya merencanakan aktivitasnya dengan baik, dengan demikian anak bisa belajar cara mengatur waktunya dan menjaganya agar efektif.

*6.* *_Mengambil Manfaat dari Rekreasi dan Perjalanan dalam Menanamkan Konsep  Kemandirian_*

Misal menjadikannya penanggung jawab dalam hal merapikan kamar atau mengelola sejumlah uang. Hal ini akan membantunya mandiri dalam mencari cara untuk menyelesaikan sesuatu yang dituntut darinya.

*7.* *_Kerjasama_*

Agar dalam kemandirian tidak menimbulkan hal-hal yang kurang baik seperti individualisme, sombong, dan rasa tidak memerlukan orang lain, perlu ditanamkan konsep bekerja sama dengan orang lain dalam bentuk yang baik.

Itulah beberapa cara yang dapat membantu kita menanamkan konsep kemandirian dan bergantung pada diri sendiri di jiwa anak. Jika konsep ini dilakukan dengan baik,  akan lahir generasi positif dengan izin Allah ta'ala.semoga bermanfaat... ���

Salam Ibu Profesional
/Tim Fasilitator Bunda Sayang /

Sumber
Dr.  Yaser Nashr, _Mencetak Anak Berkarakter Positif, Unggul, Kreatif dan Berakhlak Mulia_

Materi#2 Kelas Bunsay#2 Kalimantan

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

��Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
��‍��‍��‍�� Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
��‍��‍��‍�� Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
��‍��‍��‍��Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

��Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
��‍��‍��‍��Hargai keinginan anak-anak
��‍��‍��‍��Jangan buru-buru memberikan pertolongan
��‍��‍��‍�� Terima ketidaksempurnaan
��‍��‍��‍�� Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
��‍��‍��‍�� Berbagi peran bersama anak
��‍��‍��‍�� Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

��Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
��‍��‍��‍��Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
��‍��‍��‍��Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
��‍��‍��‍��Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
��‍��‍��‍��Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
��Berkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita

Salam,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber bacaan:

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014
Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara
Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi