Sekitar tahun 2013, aku dan tim kecil membidani lahirnya sebuah pendidikan formal swasta tingkat SMA. Dari tim kecil inilah aku mulai mendengar tentang homeschooling. Awalnya aku menganggap aneh pemikiran teman-temanku yang ingin menjalankan homeschooling untuk anaknya. Saat itu aku benar-benar buta dengan yang namanya homeschooling, tak ada satupun praktisi hs yang kukenal.
Tahun 2017, ketika aku melakukan proses tazkiyatun nafs, seolah-olah sedang menonton jalan hidupku sendiri. Dari TK hingga SMA, aku selalu berada di sekolah favorit, kuliah di jurusan keguruan, kuliah sambil ngajar bimbel dan les privat, lulus kuliah langsung kerja di sekolah islam swasta. Di tempat kerjaku proses belajar dan mematangkan diri terus berlangsung, disediakan pelatihan keguruan dari tinggal daerah, nasional, bahkan internasional. Seolah-olah aku memang sudah di-setting hidup di jalan pendidikan formal.
Perubahan mindset kudapatkan ketika mengikuti kelas matrikulasi institut ibu profesional. Mulai dari materi-materi sederhana namun menggelitik nurani, hingga materi padat berisi yang mampu menggoyahkan prinsip hidupku. Dari sini aku mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh senior bidang pendidikan. Mulai dari keluarga yahud padepokan margosari, Ustadz Harry Santosa dan tim FbE-nya, Abah Rama Royani dengan talents mappingnya. Mereka ini seperti keran air. Semakin ingin aku menyerap ilmu dari mereka semakin banyak ku mengenal orang-orang baru di sekeliling mereka. Tapi paling tidak aku sudah bisa fokus mana kebutuhanku dan mana yang hanya suplemen untukku. Dari sinilah aku bisa membentengi diri dari banjir informasi seputar parenting.
Proses pertama berdamai dengan diriku, DONE!
Proses kedua, saatnya memperkaya wawasan mengenai HS. Pemberhentian pertamaku ada pada fb dan web rumah inspirasi. Cukup pada kunjungan pertama aku langsung disuguhi form info milis 30 hari mengenal hs. Thanks to mas aar dan mba lala karena sudah proaktif mengampanyekan hs ini. Inilah awal aku membangun mindset pendidikan untuk anakku. Tak hanya mataku yang sudah melek dengan HS, mata hatiku pun terbuka untuk melihat kelebihan anak-anakku serta menyiasati kekurangannya.
Proses kedua, DONE!
Proses ketiga adalah proses sounding keluarga kami. Alhamdulillah, suami ternyata sangat mendukung program hs ini. Entah apa yang ada dalam benaknya, namun Bapak senantiasa memberikan link-link pendukung untuk memperkaya wawasanku. Sounding berikutnya tentu dengan anak-anak, karena mereka adalah tokoh utamanya.
Si sulung masih memiliki keinginan untuk menjadi dokter sehingga memutuskan untuk tetap berada di jalur pendidikan formal. Melanjutkan pendidikannya di sekolah islam sekarang kak Z duduk di kelas 4.
Si tengah, neng Z, yang seyogyanya naik ke TK B akhirnya kami arahkan untuk HS. Banyak alasan yang melatarbelakangi kami sehingga mengerahkan neng Z untuk HS.
Si bungsu, bang Z, tentu senang sekali ada teman main di rumah. Terasa sekali bondingnya si bungsu dengan si tengah lebih erat bila dibandingkan ke si sulung.
Lingkaran terdekat keluarga kami yang berikutnya adalah orang tuaku. Alhamdulillah mereka pun tidak melancarkan protes :)
Lingkungan terdekatku mungkin mafhum...oh wajar aja toh ibunya guru.
Proses ketiga, DONE!
Proses satu, dua, tiga sudah kulalui saatnya action! Karena niat tanpa eksekusi adalah hal yang mustahil untuk terwujud. Maka, mengambil momen tahun ajaran baru 2017/2018 inilah aku memulai homeschooling untuk anakku.
Yes, anakku homeschooling!
Apa hanya 4 proses? Oh, tentu tidak. Aku masih harus terus belajar agar mampu menumbuhkan semua fitrah anak-anakku dan yang pasti aku senang karena bisa berkembang bersama mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar