September ceria!
Begitulah mood si sulung jika kalender telah memasuki bulan September. Harap maklum, karena ia dilahirkan di bulan ini, jadi September selalu menjadi bulan spesial untuknya.
Sulungku ZRF genap berusia 10 tahun pada tahun 2018 ini. Banyak hal yang sudah dilaluinya, suka maupun duka. Konsep diri, frame of experience dan frame of refference-nya mulai terbentuk, ditambah pula ia memasuki masa balighnya di tahun ini. September 2018 menjadi ultah pertamanya sebagai seorang dewasa. Kami sebagai orang tua berupaya mengantarkannya aqil bersamaan dengan baligh-nya. Semoga Allah memberkahi segala upaya kami ini. Aamiin.
Banyak hal yang bisa diceritakan mengenai perjalanan membesarkan dan mendidik ZRF. Kali ini Saya mengambil tema tentang "Membangun Konsep Diri Sulungku". Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas jurnal belajar level 7, kelas Bunda Sayang Leader. Tulisan ini murni menceritakan pengalaman pribadi saya dalam membantu ZRF membangun konsep dirinya sesuai dengan langkah-langkah yang direkomendasikan pada saat perkuliahan IIP. Adapun referensi dari pihak luar saya gunakan sebagai dasar teori untuk memperkuat pengalaman sebelumnya.
Materi level #7 di kelas Bunda Sayang mengenai "Semua Anak Adalah Bintang", ketika menerima materi ini rasanya dihadapkan pada cermin besar yang memantulkan semua perilaku parenting dan efeknya pada anak. Anak sulung seringkali dianggap sebagai kelinci percobaan orangtuanya, karena keterbatasan ilmu menjadi orang tua, innerchild yang belum tuntas, dsb. Hal ini membuat saya berpikir ulang kalau membesarkan anak saja tidak cukup, tapi ortu harus mengambil peran sebagai pendidik. Nah agar bisa menunaikan peran mendidik anak ini, maka orang tua harus sudah selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Review materi level #7 membahas mengenai proses discovering ability oleh ibu kepada anaknya dalam 4 ranah, yaitu :
a. Ranah Intrapersonal (Konsep Diri)
b. Ranah Interpersonal (Hubungan dengan sesama)
c. Ranah Change Factor (Hubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perubahan)
d. Ranah Spiritual (Hubungan dengan Sang PenciptaNya)
"Tahapan ini adalah perjalanan hidup manusia, maka baik dewasa maupun anak-anak, seharusnya mengalaminya. Karena sejatinya ranah ini adalah perjalanan menuju insan kamil."
Kutipan diatas bersumber dari jawaban Bu Septi atas pertanyaan seputar review materi ini. Dengan memberikan stimulasi dan penguatan pada 4 ranah ini maka harapannya akan terbentuklah manusia utuh sebagai insan kamil.
Perjalanan menuju manusia yang insan kamil ternyata sangat panjang ya, namun pijakan pertama dimulai dari konsep diri. Pijakan ini harus settle terlebih dahulu agar diri ini mantap menjejak ke ranah berikutnya.
image source : thinkstockphotos.com.au
Banyak pihak yang telah merumuskan pengertian konsep diri. Anda tinggal masuk ke search engine lalu berikan key word konsep diri atau self concept maka akan keluar jutaan sumber yang membahas hal ini. Saya pribadi lebih memilih menggunakan pengertian konsep diri yang disusun oleh tim Institut Ibu Profesional karena lebih simple serta mudah dipahami. Mengutip pengertian konsep diri dari Institut Ibu Profesional, "Konsep diri pada anak adalah suatu persepsi tentang diri dan kemampuan anak yang merupakan suatu kenyataan bagaimana mereka memandang dan menilai diri mereka sendiri". Menurut artikel psikologi di web www.psikologikita.com, beberapa pihak yang dapat mempengaruhi konsep diri antara lain orang tua, teman sebaya dan masyarakat, Sementara faktor lain yang juga dapat mempengaruhi konsep diri adalah pola asuh, kegagalan, dan kritik diri.
Dari teori yang saya jelaskan diatas, maka jelas bahwa orang tua dan pola asuhnya menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan konsep diri anak. Bagaimana interaksi orang tua dengan anak dapat membentuk konsep diri anak yang positif maupun negatif. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua haruslah senantiasa belajar dan mau berubah menjadi orang tua yang lebih baik.
Dalam review tantangan 10 hari sesi #7 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional diberikan beberapa langkah-langkah yang wajib dilakukan orang tua dalam rangka mengenalkan konsep diri kepada anak. Langkah-langkah ini akan kita bahas sambil merefleksikan peran saya sebagai orang tua yang membentuk pola asuh kepada anak-anak saya, terutama si sulung ZRF.
Langkah ke-1 : Mengenalkan Tuhan dan ciptaanNya.
image source : Dani Kaizen
"Anak yang makin mengenal dirinya pasti akan makin mengenal siapa penciptaNya"
Sejak
dalam kandungan kami sebagai orang tua mulai memperdengarkan ayat suci
Al Qur'an kepada ZRF. Kala itu sempat tertarik dengan musik klasik
semacam Beethoven dan kawan-kawannya namun akhirnya lebih memilih
menggunakan ayat-ayat Al Qur'an. Semakin bertambah usianya, semakin
besar keingintahuannya akan penciptaNya. Kami sebagai orang tuanya
berusaha meletakkan pondasi aqidah yang benar sesuai tuntunan Qur'an dan
hadist. Jangan dikira selalu berjalan mulus, kadang kami dihujani
pertanyaan hingga badai protes mengapa begini? mengapa begitu?
Alhamdulillah, saat ini kami dan ZRF mampu menjadi partner untuk saling
mengingatkan dan saling menguatkan. Semoga ini pertanda fitrah
keimanannya berkembang dengan baik.
image source : insites-consulting.com
"Dua fase penting dalam hidup anak kita adalah ketika mereka dilahirkan dan ketika mereka menemukan jawaban mengapa mereka dilahirkan".
Maka bantu anak-anak untuk meyakinkan dirinya sebagai ciptaan Allah yang terindah dan khalifah di muka bumi ini. Begitulah pesan dari Ibu Septi mengenai penerapan langkah ke-2 ini. Apa saja yang sudah kami terapkan pada ZRF? Kami membangun afirmasi positif tentang dirinya. kami berusaha memenuhi tangki cintanya. Membaca diri disini juga termasuk membantu anak mengenali potensi diri anak. Potensi diri ZRF berupa kecerdasan majemuk serta bakatnya senantiasa kami pantau dan kami berikan support system yang baik. Kami tidak ingin tergesa memberi label namun akan selalu kami dampingi ia agar fitrah bakatnya tumbuh paripurna.
Ketika usianya belum genap 4 tahun, ia mendapatkan seorang adik perempuan. Dimulailah peran barunya sebagai kakak perempuan. Hingga kini, sifat ngemong anak kecil melekat pada dirinya. Ketika IPers Samarinda kopdar, ZRF sering mengambil peran bermain sekaligus momong dengan adik-adik usia dini. Walaupun begitu, gesekan-gesekan dengan adik-adik kandungnya ketika di rumah cukup sering terjadi. Perbedaan sifat dan selisih usia yang tidak begitu jauh membuat duo cewek di rumah ini sering berantem mulut. Nah ini masih menjadi PR kami sebagi ortu untuk melatih emosi anak. Harapannya anak-anak mampu membaca dirinya dengan baik serta berpikir sebelum bertindak. Agar tidak banyak penyesalan atas tindakan yang mereka ambil.
Langkah ke-3 : Anak dilatih untuk membaca alam.
image source :LPM Profesi
"Anak-anak dilatih untuk memahami mengapa mereka ditempatkan Allah di alam dimana mereka tinggal saat ini. Memahami kearifan lokal dimana mereka dibesarkan".
Jujur, langkah ke-3 ini belum efektif kami kenalkan pada anak-anak. Sejak mengikuti kelas matrikulasi IIP dan bersinggungan dengan tokoh-tokoh yang pemikirannya diimplementasikan di Padepokan Margosari membuat saya ikutan kepo mengenai FBE dan Talents Mapping. Konsep memahami kearifan lokal ini termuat dalam FBE dan menjadi PR kami menyusun program pendidikan mengenalkan kearifan lokal tempat mereka lahir dan besar hingga sekarang.
Langkah ke-4 : Anak dilatih untuk membaca zaman.
image source : Gadis
"Anak-anak bukanlah milik kita, mereka adalah milik zamannya. Maka didiklah anak-anak kita sesuai zamannya".
Mereka akan belajar mengapa mereka dilahirkan di zaman seperti ini dan tantangan jaman apa saja yang harus mereka hadapi. Bantu anak-anak untuk mempersiapkan dirinya sehingga percaya diri menghadapi jamannya. Kalimat terakhir merupakan kunci menerapkan langkah ke-4 ini. Dari gambar the generations di atas, saya tersadar bahwa di rumah,kami memiliki anak yang berada pada 2 generasi berbeda. Si sulung dan tengah adalah generasi Z, sementara si bungsu generasi alpha. Lagi-lagi ini menjadi catatan kami untuk membekali trioZ sesuai zamannya.
Berikut tips dari Bu Septi untuk menerapkan langkah ke-4 ini, "Untuk mengajak anak berpikir tentang jamannya, kalau anak pre aqil baligh, dikayakan wawasan dan aktivitasnya, kemudian latih logika berpikirnya, ijinkan anak-anak melatih pola pikirnya. Jangan didikte dengan konsep kita".
Bagi teman-teman yang belajar di Institut Ibu Profesional tentu tidak asing dengan penerapan pola belajar keluarga Padepokan Margosari. Pola belajar ini diterapkan oleh Bu Septi dan Pak Dodik kepada ketiga anaknya. Secara singkat pola didikan keluarga Padepokan Margosari terangkum pada framework berikut :
Dengan pola didikan seperti itulah, besar harapan setelah aqil baligh anak siap memimpin jamannya. Framework ini dibuat sebagai panduan, penerapan dan hasilnya akan bervariasi karena sejatinya setiap keluarga itu unik.
Langkah ke-5 : Membaca kehendak Allah.
image source : NaimKhan.com
"Anak-anak yang sudah dilatihkan segala macam konsep diri dengan metode Iqra' seperti yang sudah dijelaskan di atas (membaca diri, membaca alam, membaca jaman) maka akan menjadi orang yang ikhlas dengan segala kehendak Tuhan padanya".
Selama 10 tahun kehidupan ZRF, bersama kami, orang tuanya, ia telah banyak mengalami up and down. Ia turut merasakan pasang surut gelombang yang membawa bahtera keluarganya ini. Bersamanya kami belajar untuk menerapkan ikhlas inside. Ridha atas ketetapan Allah bagi keluarga kami baik saat senang maupun saat susah.
Harapan akhir dari pentingnya penguatan konsep diri ini tertuang dalam flowchart berikut :
Anak yg memiliki konsep diri positif ➡ membuat/gabung komunitas positif ➡ membawa perubahan positif ➡ menjadi makhluk spiritual yang totalitas mengabdi pada Allah
Seperti yang telah dipaparkan di atas, penguatan pada pondasi konsep diri akan memudahkan pijakan ke ranah berikutnya. Semoga tulisan ini dapat membantu kita memperkuat konsep diri kita sendiri hingga akhirnya mampu membimbing anak-anak kita hingga memiliki konsep diri yang kokoh.
Jazakumullahu khairan katsira telah membaca hingga akhir.
Wassalamu'alaykum wr wb.
#JurnalBelajar
#BunsayLeader
#Level7
#BunsayLeader
#Level7
Referensi :
1. Review tantangan 10 hari sesi #7 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, dibagikan via google classron di kelas Bunda Sayang Leader.
2. Kasali, Rhenard. (2016). "Agility, Bukan Singa Yang Mengembik". Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
3. http://www.pesona.co.id/article/tiga-hal-yang-mengubah-manusia
3. http://www.pesona.co.id/article/tiga-hal-yang-mengubah-manusia
5. http://www.psikologikita.com/?q=psikologi/konsep-diri







Tidak ada komentar:
Posting Komentar