Kamis, 10 Agustus 2017

Family Project #1

Hari ini mama akan bercerita tentang proses pemilihan dan perencanaan proyek keluarga kami yang pertama.

Sebenarnya sudah sejak bulan lalu mama memiliki ide untuk membuat kids reading corner di rumah.
Beranjak dari kesukaan abang membolak-balik buku untuk melihat gambarnya, maka mama berinisiatif untuk memfasilitasi hobinya ini. Saat ini, kami hanya memiliki ambalan di dinding yang tingginya setinggi orang dewasa, pada ambalan dinding inilah kami menata buku koleksi kami. Ketika memulai proses homeschooling harian untuk neng dan abang maka mama harus mengambilkan beberapa buku yang menarik. Kekurangan dari metode ini adalah duo Z tidak bisa ikut aktif memilih dan mengembalikan buku yang sudah dibaca. Akhirnya buku malah berakhir di laci meja tv.

Berangkat dari sinilah akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan kids reading corner ini sebagai family project #1.

Tahapan pertama adalah mengumpulkan dana untuk membeli rak buku susun. Kami sudah survei di giant ekstra ada menjual rak buku susun 4 dengan harga 299.900 rupiah.
Yang menjadi money maker disini adalah kakak Z. Mama berperan sebagai investor. Progress selanjutnya dari tahap pengumpulan dana ini akan mama ceritakan pada tantangan besok ya.

Tahapan kedua adalah proses pembelian rak susun ini. Pimpro tahap ini adalah Bapak ;) butuh tenaga ekstra untuk prosea angkut rak susun ini dan sekalian kami minta diajak jalan-jalan hehehe...
Sebenarnya Bapak siap membelikan rak susun ini tapi mama lebih memilih menjadikan pengadaan ini sebagai proses dari family project kami.

Tahapan ketiga adalah proses menata kids reading corner kami.Rencananya, rak susun akan ditaruh di pojokan rumah kemudian diletakkan sofa tidur frozen milik kak Z. Sehingga sambil membaca trio Z bisa sambil leyeh-leyeh cari posisi wuenak.

Tahapan keempat adalah proses pengisian rak susun. Kak Z sudah memberi saran terlebih dahulu agar nanti raknya dijatah dan diberi nama. Lalu mengisi buku secukupnya saja, jangan terlalu padat. Disini semua anggota keluarga akan mainkan peran untuk menentukan buku yang akan di display di rak susun.

Tahapan kelima adalah mengapresiasi kinerja seluruh anggota keluarga. Ketika trio Z sudah nyaman dengan reading corner mereka maka kami bisa lanjut ke family project berikutnya untuk meningkatkan budaya membaca mereka.

#Day1

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

Kamis, 03 Agustus 2017

Anakku Homeschooling!

Sekitar tahun 2013, aku dan tim kecil membidani lahirnya sebuah pendidikan formal swasta tingkat SMA. Dari tim kecil inilah aku mulai mendengar tentang homeschooling. Awalnya aku menganggap aneh pemikiran teman-temanku yang ingin menjalankan homeschooling untuk anaknya. Saat itu aku benar-benar buta dengan yang namanya homeschooling, tak ada satupun praktisi hs yang kukenal.

Tahun 2017, ketika aku melakukan proses tazkiyatun nafs, seolah-olah sedang menonton jalan hidupku sendiri. Dari TK hingga SMA, aku selalu berada di sekolah favorit, kuliah di jurusan keguruan, kuliah sambil ngajar bimbel dan les privat, lulus kuliah langsung kerja di sekolah islam swasta. Di tempat kerjaku proses belajar dan mematangkan diri terus berlangsung, disediakan pelatihan keguruan dari tinggal daerah, nasional, bahkan internasional. Seolah-olah aku memang sudah di-setting hidup di jalan pendidikan formal.

Perubahan mindset kudapatkan ketika mengikuti kelas matrikulasi institut ibu profesional. Mulai dari materi-materi sederhana namun menggelitik nurani, hingga materi padat berisi yang mampu menggoyahkan prinsip hidupku. Dari sini aku mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh senior bidang pendidikan. Mulai dari keluarga yahud padepokan margosari, Ustadz Harry Santosa dan tim FbE-nya, Abah Rama Royani dengan talents mappingnya. Mereka ini seperti keran air. Semakin ingin aku menyerap ilmu dari mereka semakin banyak ku mengenal orang-orang baru di sekeliling mereka. Tapi paling tidak aku sudah bisa fokus mana kebutuhanku dan mana yang hanya suplemen untukku. Dari sinilah aku bisa membentengi diri dari banjir informasi seputar parenting.

Proses pertama berdamai dengan diriku, DONE!

Proses kedua, saatnya memperkaya wawasan mengenai HS. Pemberhentian pertamaku ada pada fb dan web rumah inspirasi. Cukup pada kunjungan pertama aku langsung disuguhi form info milis 30 hari mengenal hs. Thanks to mas aar dan mba lala karena sudah proaktif mengampanyekan hs ini. Inilah awal aku membangun mindset pendidikan untuk anakku. Tak hanya mataku yang sudah melek dengan HS, mata hatiku pun terbuka untuk melihat kelebihan anak-anakku serta menyiasati kekurangannya.

Proses kedua, DONE!

Proses ketiga adalah proses sounding keluarga kami. Alhamdulillah, suami ternyata sangat mendukung program hs ini. Entah apa yang ada dalam benaknya, namun Bapak senantiasa memberikan link-link pendukung untuk memperkaya wawasanku. Sounding berikutnya tentu dengan anak-anak, karena mereka adalah tokoh utamanya.
Si sulung masih memiliki keinginan untuk menjadi dokter sehingga memutuskan untuk tetap berada di jalur pendidikan formal. Melanjutkan pendidikannya di sekolah islam sekarang kak Z duduk di kelas 4.
Si tengah, neng Z, yang seyogyanya naik ke TK B akhirnya kami arahkan untuk HS. Banyak alasan yang melatarbelakangi kami sehingga mengerahkan neng Z untuk HS.
Si bungsu, bang Z, tentu senang sekali ada teman main di rumah. Terasa sekali bondingnya si bungsu dengan si tengah lebih erat bila dibandingkan ke si sulung.
Lingkaran terdekat keluarga kami yang berikutnya adalah orang tuaku. Alhamdulillah mereka pun tidak melancarkan protes :)
Lingkungan terdekatku mungkin mafhum...oh wajar aja toh ibunya guru.
Proses ketiga, DONE!

Proses satu, dua, tiga sudah kulalui saatnya action! Karena niat tanpa eksekusi adalah hal yang mustahil untuk terwujud. Maka, mengambil momen tahun ajaran baru 2017/2018 inilah aku memulai homeschooling untuk anakku.

Yes, anakku homeschooling!

Apa hanya 4 proses? Oh, tentu tidak. Aku masih harus terus belajar agar mampu menumbuhkan semua fitrah anak-anakku dan yang pasti aku senang karena bisa berkembang bersama mereka.

Review Materi#2 Kelas Bunsay#2 Kalimantan

Review Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang #2 Materi #2

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang “MELATIH KEMANDIRIAN ANAK”.

Pekan ini kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama dengan anak-anak di rumah.

Yang pertama, kami akan mengapresiasi bunda semua  yang sudah komitmen melakukan tantangan 10 hari ini :

�� Selamat untuk para Bunda, yang berhasil menyelesaikan tantangan 10 hari ini sampai dengan tanggal 29 Maret 2017, dengan berbagai kondisi, ada yang konsisten setiap hari, lompat-lompat, maupun dirapel.

Bunda berhak memperoleh badge *YES,  I CAN* ������

( pengumuman nama-nama yang mendapatkan badge Yes, I CAN)

�� Daaan…inilah Bunda-Bunda yang berhasil konsisten menjalankan tantangan 10 hari secara berturut-turut sampai akhir, baik praktek maupun mempostingnya setiap hari tanpa jeda,

Bunda berhak menyematkan badge

��You’re EXCELLENT

( Pengumuman nama-nama yang mendapatkan badge “You’re EXCELLENT”)

Sekali lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai  tercapai tujuan akhir.

Sikap/sifat yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.

KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada  seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.

Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri.

Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa  life skill yang perlu dimiliki oleh anak.

Ketika hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka

*_Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah_*

Hasilnya akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal inlah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik kemandirian anak kita.

Karena kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.

Gejala-gejala tersebut seperti contoh di bawah ini:
a. Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku  tidak konsisten.

b. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.

c.Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Kalau melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak  sekarang, sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.

Berikut beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan anak-anak kita secara global.

�� Ciri khas kemandirian anak :
a. Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran.

b. Anak mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil sebelum berbuat.

c. Anak percaya terhadap penilaian sendiri, sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan.

d. Anak memiliki  kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya

Menurut Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam lima komponen sbb :

a. MERDEKA, anak bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung orang lain

b. PROGRESIF, berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.

c. INISIATIF , mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif

d. TERKENDALI DARI DALAM,  individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .

e. KEMANTAPAN DIRI, memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

Kemandirian-kemandirian tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan kemandirian yang  lebih untuk mencapainya.

Sumber Bacaan :
Masrun dkk, Jurnal Kemandirian Anak, diakses melalui www.lib.ug.co.id, pada tanggal 13 Februari 2016

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016

Trilling dan Fadel, 21st century skills, 2009

Cemilan Kemandirian #3

������������
Cemilan Rabu 3

��MENDIDIK KEMANDIRIAN EMOSI��

Seorang lelaki duduk beristirahat dibawah pohon. Matanya menatap seksama kepompong kecil yang tergantung di cabang pohon tempatnya berteduh. Kepompong itu bergerak-gerak, nampaknya ada yang berusaha keluar dari dalam kepompong itu. Sungguh kesempatan langka, pikir si lelaki. dan iapun memperhatikan dengan lebih seksama. Cukup lama juga, kepompong itu terus bergerak-gerak, hingga akhirnya sedikit tersobek di salah satu sisinya. sobekan itu masih sangat kecil, belum cukup untuk pintu keluar bagi si penghuni kepompong. Maka iapun masih terus mengeluarkan tenaga, yang menyebabkan kepompongnya terus berguncang.

Lama kelamaan, si lelaki merasa jatuh kasihan, begitu banyak tenaga sudah dikeluarkannya, belum juga si penghuni berhasil keluar. Dilihatnya kepompong itu lebih dekat. Rupanya sobekannya masih juga terlalu kecil. Akhirnya diambilnya inisiatif untuk menolong si penghuni itu untuk bisa segera keluar. Segera diguntingnya kepompong tersebut sehingga terbuka lebar sisinya, agar si calon kupu-kupu bisa segera keluar.

Tapi sungguh diluar dugaan, yang keluar dari kepompong itu bukanlah kupu-kupu cantik, tetapi kupu-kupu dengan bentuk aneh. Kepala dan perutnya besar, sementara sayapnya lemah tak bisa terentang. Kupu-kupu cacat itu langsung terjatuh ke tanah, dan hanya bisa menggelepar-gelepar tak berdaya.

Ternyata tindakan si lelaki untuk menolong dengan menggunting kepompong itu yang justru menyebabkan cacatnya kupu-kupu itu. Sesungguhnya susah payahnya si kupu-kupu keluar dari kepompong, termasuk proses akhir pertumbuhan bandannya. Melalui kerja kerasnya mengguncang kepompong sampai tersobek itulah yang justru akan mengecilkan kepala dan badannya hingga ke ukuran yang pas. Sementara otot sayapnya menjadi kuat sehingga cukup kuat untuk mengepakkan sayapnya.

Tetapi campur tangan seseorang mengeluarkannya terlalu cepat, maka proses pertumbuhan terakhir itu tak sempat dilewatinya. Yang terlahir adalah kupu-kupu berkepala dan badan yang bengkak, dengan sayap yang loyo tak berkekuatan.

��CAMPUR TANGAN YANG MERUSAK��

Seperti kupu-kupu itu pulalah nasib anak-anak kita, jika orang tua terlalu banyak ikut campur tangan dalam pembentukan kemandirian emosi mereka. Ketika anak sudah sampai pada tahap pengendalian diri maka hampir seluruh upaya mereka lakukan sendiri. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator saja.

Saat anak berupaya mengendalikan emosi kemarahan, kesedihan atau kekecewaan yang menyerang dirinya, maka ayah ibu hanya bisa memotivasi saja, sementara si anaklah yang harus memutuskan sendiri, apakah ia akan lakukan atau tidak. Jika orang tua memberikan campur tangan dan bantuan untuk menyelesaikan masalah anak, maka anak tidak akan memperoleh pembelajaran hidup.

Ketika dua orang anak bertengkar, bukanlah tugas orang tua untuk melerai dan memutuskan siapa yang bersalah dan harus minta maaf. tetapi semestinya anak-anak itu sendirilah yang menyelesaikannya. Yang bisa dilakukan orang tua adalah memotivasi kedua anak yang sedang berseteru untuk berempati satu sama lainnya, sehingga perseretuan bisa diakhiri. Masing-masing bisa menghormati hasil fikiran temannya serta saling menghormati.

Bisa saja orang tua memaksa salah satu pihak yang dianggapnya salah untuk mengaku  salah dan minta maaf, tetapi bukannya menyelesaikan masalah, justru akan memperburuk masalah. Bukannya empati yang timbul dihati anak tapi justru rasa iri, merasa dipojokkan , pilih kasih  yang menimbulkan rasa dendam.

Disinilah orang tua belajar tega untuk tidak buru-buru menolong anak yang sedang berjuang menempuh ujian kehidupan. sehingga orang tua tidak terlibat dalam campur tangan yang merugikan. Sepintas nampaknya menolong anak keluar dari kesulitan yang dihadapi, akan tetapi justru menggagalkan pengembangan kemandirian emosi anak.

Salam ibu profesional
/Tim Fasilitator Bunsay 2/

Sumber Inspirasi
    Istadi, Irawati. Melipat Gandakan Kecerdasan Emosi Anak. Bekasi. Pustaka Inti:2006

Cemilan Kemandirian #2

���� Cemilan Rabu #2 ����

*CIRI ANAK MANDIRI DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN*

Kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa.

```Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan dengan tugas perkembangan.```

Adapun tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini antara lain belajar *berjalan, belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan lingkungan, pembentukan pengertian, dan belajar moral*

❤❤❤❤❤❤❤❤❤Empat ciri kemandirian anak yang perlu diketahui:

�� Anak dapat melakukan segala aktivitasnya secara sendiri meskipun tetap dengan pengawasan orang dewasa.

�� Anak dapat membuat keputusan dan pilihan sesuai dengan pandangan, pandangan itu sendiri diperolehnya dari melihat perilaku atau perbuatan orang-orang di sekitarnya.

��Anak mampu bersosialisasi dengan orang lain tanpa perlu ditemani orang tua.

��Anak bisa mengontrol emosinya bahkan dapat berempati terhadap orang lain.

��������������������
*Lima tahapan perkembangan kemandirian anak yaitu:*

1⃣ Anak mampu mengatur kehidupan dan diri anak sendiri, misalnya: makan, ke kamar mandi, mencuci, membersihkan diri, dan memakai pakaian sendiri.

2⃣Anak bisa melaksanakan ide-ide anak sendiri dan menentukan arah permainan.

3⃣Anak bisa mengurus hal-hal yang ada dalam rumah dan bertanggung jawab terhadap sejumlah pekerjaan domestik, mengatur bagaimana menyenangkan dan menghibur diri sendiri dalam alur yang diperbolehkan, dan mengelola uang saku sendiri.

4⃣Anak bisa mengatur diri sendiri di luar rumah, misalnya di sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah, menyiapkan segala keperluan kehidupan sosial di luar rumah.

5⃣Anak mampu untuk mengurus orang lain baik di dalam rumah maupun di luar rumah, misalnya menjaga adiknya ketika orang tua sedang mengerjakan sesuatu yang lain.

❣❣❣❣❣❣❣❣❣❣

Dalam mendidik anak mandiri ini dibutuhkan kesabaran dan pengetahuan yang cukup.  Jangan lupa bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa.  Oleh karena itu anak tidak boleh dituntut menjadi orang dewasa sebelum waktunya.

��������������������

Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

�� Sumber bacaan :
http://www.al-maghribicendekia.com/2013/09/ciri-anak-mandiri-dan-tahapan

Cemilan Kemandirian #1

☘☘ *Cemilan Rabu 1*☘☘
12 Juli 2017

*KEMANDIRIAN*

Kemandirian atau bergantung pada diri sendiri adalah konsep yang harus diperhatikan untuk ditanamkan pada jiwa anak.
Banyak anak yang menjadi kurang mandiri pada era sekarang ini. Hal ini nampak jelas dirumah-rumah karena mereka sering kali bergantung pada pembantu. Begitu juga dalam mengerjakan tugas - tugas dan belajar. Sikap tersebut membuat nilai kemandirian pada anak berkurang.
Dengan demikian, pada orangtua dan pendidik harus melatih anak agar belajar percaya diri serta dapat mandiri dalam perkara ibadah dan kehidupan.

Berikut beberapa hal yang dapat membantu untuk menanamkan nilai kemandirian pada diri anak.

*1.* *_Membiasakan Anak untuk Mengerjakan Urusan Rumah Sendiri_*

Misalnya, merapikan kamar, belajar dan mengerjakan tugas dengan tetap memberikan perhatian untuk membantunya pada saat tertentu.

*2.*  *_Membiasakan  Anak untuk Membeli Sesuatu dari Toko (Warung) dan Memberi Mereka Tugas Kecil_*

Misalnya  memberikan mereka catatan belanja dan membiarkan mereka belanja sendiri, lakukan berkali-kali sampai akhirnya mereka terlatih.

*3.* *_Pemilihan Baju_*

Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih bajunya sendiri. Saat tidak cocok kita bisa bertanya dan mengarahkannya saja.

*4.* *_Kemandirian Iman_*

Kemandirian Iman maksudnya adalah kita mengajari anak untuk menjaga ibadahnya sendiri. Ini juga tidak berarti membiarkannya, dan kita tetap harus mengawasi dengan tepat dan dan mengingatkannya  untuk beribadah.

*5.* *_Mengajarinya Perencanaan Sederhana_*

Misal membuat jadwal yang harus anak kerjakan setiap harinya dengan sederhana saja. Hal ini akan membantunya merencanakan aktivitasnya dengan baik, dengan demikian anak bisa belajar cara mengatur waktunya dan menjaganya agar efektif.

*6.* *_Mengambil Manfaat dari Rekreasi dan Perjalanan dalam Menanamkan Konsep  Kemandirian_*

Misal menjadikannya penanggung jawab dalam hal merapikan kamar atau mengelola sejumlah uang. Hal ini akan membantunya mandiri dalam mencari cara untuk menyelesaikan sesuatu yang dituntut darinya.

*7.* *_Kerjasama_*

Agar dalam kemandirian tidak menimbulkan hal-hal yang kurang baik seperti individualisme, sombong, dan rasa tidak memerlukan orang lain, perlu ditanamkan konsep bekerja sama dengan orang lain dalam bentuk yang baik.

Itulah beberapa cara yang dapat membantu kita menanamkan konsep kemandirian dan bergantung pada diri sendiri di jiwa anak. Jika konsep ini dilakukan dengan baik,  akan lahir generasi positif dengan izin Allah ta'ala.semoga bermanfaat... ���

Salam Ibu Profesional
/Tim Fasilitator Bunda Sayang /

Sumber
Dr.  Yaser Nashr, _Mencetak Anak Berkarakter Positif, Unggul, Kreatif dan Berakhlak Mulia_

Materi#2 Kelas Bunsay#2 Kalimantan

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

��Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
��‍��‍��‍�� Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
��‍��‍��‍�� Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
��‍��‍��‍��Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

��Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
��‍��‍��‍��Hargai keinginan anak-anak
��‍��‍��‍��Jangan buru-buru memberikan pertolongan
��‍��‍��‍�� Terima ketidaksempurnaan
��‍��‍��‍�� Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
��‍��‍��‍�� Berbagi peran bersama anak
��‍��‍��‍�� Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

��Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
��‍��‍��‍��Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
��‍��‍��‍��Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
��‍��‍��‍��Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
��‍��‍��‍��Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
��Berkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita

Salam,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber bacaan:

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014
Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara
Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi