Senin, 26 Juni 2017

Review materi#1 KomProd kelas BunSay#2

*_Review Tantangan 10 Hari_*
_Materi Bunda Sayang #1 :_
_Institut Ibu Profesional_
*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

*KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI*

Dari “TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas.

Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita :

*a. Tahap Anomi* : Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.

*b.Tahap Heteronomi* : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.

*c. Tahap Sosionomi* : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.

*d. Tahap Autonomi* : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak  hanya berhenti pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda.
“10 Hari” adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.

Maka komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Tentukan limit anda setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui. Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.

_The greater danger of most of us is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach it_ – Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainya – Michael angelo

*KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN*

Dalam prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi anda dengan pasangan
yaitu :

*a. Faktor Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)*

Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya..

contoh : Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP).

Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).

*b. Faktor Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)*
Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif,masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

contoh : Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.

*c. Faktor Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)*
Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..

contoh : Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber¬sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang dewasa.

Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.

*ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI*

*a. TRANSAKSI KOMPLEMENTER*
jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

Contoh :
ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis.( ego dewasa)
suami : : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)
istri : “ayo kita  cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana? ( menggunakan e go dewasa)

*b. TRANSAKSI SILANG*
terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah¬pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

Contoh :
ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan  ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.

Suami : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)

Istri : “Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak,  masih diminta ngurus arloji” ( menggunakan ego anak-anak )

pasti akan menyulut respon emosi.

*c. TRANSAKSI TERSEMBUNYI*
jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar¬pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter¬sembunyi.

Contoh:
Seorang ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga).

Penjual itu kemudian menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: “Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal.

Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”.

Cemilan komprod #3

��Cemilan Rabu 3��
14 Juni 2017

_Ratna dan Galih bersiap untuk pergi ke resepsi pernikahan sahabat Ratna. Ratna telah membeli gaun baru dan ingin tampil sempurna. Dia memegang dua pasang sepatu, yang pertama berwarna biru, dan yang kedua berwarna keemasan. Kemudian Ratna mengajukan pertanyaan pada Galih, pertanyaan yang paling ditakuti para pria, “Sayang, sepatu yang mana yang cocok untuk gaun ini?”_

_Rasa dingin menjalari punggung Galih. Ia tahu ia dalam kesulitan. “Ahh … umm … yang mana saja yang kamu suka, sayang,” jawabnya dengan tergagap._

_“Ayolah, mas,” desak istrinya dengan tidak sabar. “Yang mana yang lebih bagus … Yang biru atau yang keemasan?_

_“Keemasan!” sahut Galih gugup._

_“Emangnya apa yang salah dengan sepatu biru ini?” tanya Ratna. “Kamu memang ngga suka kan aku beli sepatu ini, Mas!”_

_Bahu Galih melorot. “Kalau kami ngga terima pendapatku, jangan bertanya dong!” katanya. Galih pikir istrinya bertanya untuk menyelesaikan “masalah”, tetapi ketika ia memberikan jawaban, istrinya sama sekali tidak berterima kasih._

����������

Apakah Bunda pernah mengalami hal serupa di atas? ��

Jika YA, sampaikan tips ini pada suami Bunda ya. Bantulah suami memahami kebutuhan dan keinginan Bunda dengan cara yang positif.

�� *TIPS MENGATASI SEPATU BIRU ATAU MERAH* ��

Apa yang harus dilakukan pria jika mendapatkan pertanyaan “sepatu biru atau merah”?

❎ Tidak “terjebak” memilih
✅ Balik bertanya ➡ “Kamu sudah memilihkan, sayang?”
✅ Puji apapun pilihan akhir wanita

*OTAK DAN BICARA*

Dr. Tonmoy Sharma, kepala pengajar psikofarmakologi di Institut Psikiatri, London, pada tahun 1999 melakukan scan otak MRI. Hasilnya, pria memiliki sedikit titik penting dalam otak untuk fungsi bicara, yaitu seluruh belahan otak kiri aktif, namun MRI tidak dapat menemukan banyak pusat bicara.

Sedangkan pada wanita, keterampilan berbicara berada dibelahan otak kiri depan, dan masih ditambah di area yang lebih kecil dibelahan kanan.

Karena memiliki area berbicara di kedua belahan, selain membuat wanita pandai berkomunikasi, hal ini membuat wanita menikmati berbicara dan banyak melakukannya. Hal ini memungkinkan wanita dapat mengerjakan pekerjaan lain sambil terus bicara ( _multi tasking_ ).

*WANITA BUTUH BICARA*

Otak pria terbagi-bagi dan memiliki kemampuan untuk memisahkan dan menyimpan informasi. Pada akhir hari yang penuh masalah, otak pria yang _mono-tracking_ dapat menyimpan semua masalah tersebut.

Berbeda dengan otak wanita, masalah wanita terus berputar di dalam kepalanya. Satu-satunya cara wanita melepaskan masalah dari kepalanya adalah membicarakan masalah tersebut untuk mengungkapkannya. Karena itu, saat seorang wanita bicara diakhir harinya, tujuannya adalah untuk melepaskan ganjalan hatinya, bukan untuk mendapatkan kesimpulan atau solusi.

*BERPIKIR*

Apa yang dilakukan oleh pria jika mendapatkan tantangan?

Jawaban populer : _“Serahkan padaku”_ atau _“Akan Aku pikirkan”_.

Pria berpikir dalam diam, curhat tanpa suara dengan diri sendiri, dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.

*Kelemahan :*
Wanita salah sangka menganggap pria tersebut pendiam, murung dan tidak ingin bersamanya.

Apa yang dilakukan wanita ketika berpikir?

Berpikir keras-keras = berbicara secara acak sekaligus mendaftar segala kemungkinan dan pilihan solusi.

*Kelemahan :*
Pria salah paham menganggap wanita “memberinya” sederet masalah dan mengharapkan solusi. Hal ini membuat pria cemas, marah, atau mencoba memberikan solusi. dalam dunia kerja, pria menilai wanita yang berpikir keras-keras sebagai wanita yang tidak disiplin dan tidak cerdas.

����������

Dalam sehari, wanita memiliki 21.000 kata yang harus dikeluarkannya. Bandingkan dengan pria yang hanya memiliki ⅓-nya yaitu 7.000 kata. Perbedaan ini menjadi jelas dipenghujung hari ketika pria dan wanita bertemu setelah aktivitas harian masing-masing. Pria yang telah menghabiskan 7.000 katanya di tempat kerja tidak berkeinginan berbicara lagi. Sementara wanita tergantung aktifitasnya hari itu. Jika ia menghabiskan hari dengan berbicara dengan orang lain, mungkin ia telah menggunakan jatah katanya hari tersebut dan hanya sedikit berkeinginan berbicara lagi dengan pria pasangannya (berbicara bagi wanita adalah membangun hubungan). Jika wanita itu di rumah saja bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil, wanita itu akan beruntung jika dia sudah menggunakan 2.000 - 3.000 katanya. Ia masih memiliki sekitar 15.000 kata lagi yang bisa diucapkannya!

Proses wanita berbicara pada pasangan di penghujung hari dengan sisa kata yang ada sering disalah artikan oleh pasangannya sebagai cerewet dan omelan. Hal ini karena pria yang telah kehabisan kata tersebut menginginkan kedamaian dan ketenangan. Masalah muncul ketika wanita mulai kesal karena merasa tidak ditanggapi dan diabaikan.

*Ketika pria tidak berkata apa-apa (diam), serta merta wanita merasa dirinya tidak dicintai.*

Tujuan wanita berbicara adalah bicara.

Tetapi, menurut pria, ketika wanita menceritakan masalahnya tanpa henti maka itu adalah sebuah kode permohonan untuk mendapatkan solusi. Dengan otak analitisnya, pria akan memotong pembicaraan pasangannya dan memberikan solusi.

Kabar baik bagi pria :

*Ketika seorang wanita berbicara untuk mengeluarkan kata-kata yang belum sempat diucapkannya hari itu, dia tidak ingin disela dengan solusi untuk masalahnya. WANITA HANYA INGIN DIDENGARKAN.*

Ketika seorang wanita telah selesai berbicara dia akan merasa lega dan bahagia. Wanita akan menilai pasangannya sebagai pasangan yang hebat karena mau menyimak.

Dengan membicarakan masalah sehari-hari, wanita modern mengatasi rasa tertekannya. Mereka menilai percakapan yang terjalin antara mereka sebagai sebuah hubungan dan dukungan.

74% wanita bekerja dan 98% wanita yang tidak bekerja, menyebutkan kegagalan terbesar pasangan mereka adalah mereka enggan berbicara, terutama di penghujung hari sepulang dari aktivitas.

Generasi wanita sebelumnya tidak pernah mengalami ini karena mereka selalu mempunyai begitu banyak anak dan wanita-wanita lainnya yang dapat diajak bicara dan saling mendukung. Sekarang, para ibu yang tinggal di rumah sepertinya tampak kesepian karena ketiadaan teman bicara. Akan tetapi, dengan kemampuan otak yang luar biasa, wanita dapat belajar keterampilan baru yang dibutuhkan untuk bertahan.

*MEMBUAT PRIA MENDENGARKAN/MENYIMAK*

✅Tentukan waktu
✅Tegaskan bahwa Anda butuh/tidak butuh solusi

_“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang pengalamanku hari ini. Setelah makan malam ya. Aku tidak perlu solusi darimu, Aku hanya ingin Kamu mendengarkanku.”_

Kebanyakan pria akan memenuhi permintaan seperti ini karena jelas waktunya dan tujuannya ➡ sesuai dengan otak pria.

Sebaliknya, jika Anda membutuhkan solusi/masukan, perhatikan :

✅Choose the right time
✅Penuhi kebutuhannya
✅Tegaskan kebutuhan Anda akan solusi

_“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang perkembangan belajar Arya. Setelah Arya tidur ya. Aku butuh masukanmu sayang.”_

*WANITA DAN SUARA*
Penelitian menunjukkan, dalam dunia kerja, seorang wanita yang bersuara lebih dalam dianggap lebih cerdas, berwibawa dan dapat dipercaya. Untuk mendapatkan suara yang lebih dalam, Anda dapat berlatih merendahkan dagu, berbicara lebih lambat dan monoton.

Di lapangan, untuk mendapatkan kewibawaan, banyak wanita yang menaikkan suaranya, padahal hal tersebut justru memberi kesan agresif dan kontraproduktif.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

�� Sumber Bacaan :
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan,
Allan + Barbara Pease

Cemilan komprod #2

�� *Cemilan Rabu 2* ��
7 Juni 2017

*FAMILY FORUM*

��Apa sih family forum itu?
➡Family forum adalah kegiatan ngobrol bersama keluarga inti,  yang dibangun untuk saling mengalirkan rasa,  mengetahui hobi anak-anak, aktivitas harian mereka, trend pengetahuan dan berita yang ada saat ini, kebutuhan seluruh anggota keluarga dan masalah atau tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi oleh seluruh anggota keluarga serta harapan dan cita-cita dari masing-masing anggota keluarga. Family forum merupakan salah satu sarana pendukung terjadinya komunikasi produktif di dalam keluarga.

��Siapa saja yang terlibat dalam Family Forum?
➡Keluarga inti: Ayah,  ibu,  dan anak-anak.

��Kenapa kita perlu mengadakan family forum?
-Sebagai sarana untuk mengalirkan rasa
-Menyamakan Frame of Experience dan Frame of Reference
-Melancarkan komunikasi diantara anggota keluarga
- Sarana belajar bagi anggota keluarga untuk dapat berbicara dan mendengar dengan baik.
- Menggagas ide,  menyamakan visi misi keluarga, merencanakan dan menetapkan cita-cita bersama

��Kapan, dimana dan bagaimana kita bisa melaksanakan family forum?
➡ Boleh kapan dan dimana saja. Bentuknya pun beragam, seperti di meja makan dg sebutan "meja peradaban", bisa juga selepas jamaah maghrib menjadi " maghrib time", ngeteh bersama "tea time", ngopi bersama "coffee break", ngegame bersama "play on", ngemil bersama "snack time", bahkan bisa dilakukan jarak jauh dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini, dll.
Ketika anggota keluarga sedang berkumpul semua, maupun saat salah satu anggota keluarga berada dalam kondisi berjauhan, masih tetap bisa dilakukan kegiatan family forum.

_Sebagai sarana pendukung komunikasi produktif dalam keluarga, perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan_.

```Selamat membuat forum keluarga```.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

Sumber Bacaan:
Hasil Belajar Kelas Bunda Sayang Koordinator Nasional dg Ibu Septi Peni Wulandani
Review 1 Game Level 3, Kelas Bunda Sayang 1
Pengalaman pribadi fasil Bunda Sayang 2

Cemilan komprod #1

�� *Cemilan Rabu #1* ��
31 Mei 2017

*Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif*

Seberapa pentingnya komunikasi? Dari komunikasi, orang dewasa dan anak-anak belajar tentang agama, values, dan sebagainya. Komunikasi juga menentukan konsep diri anak/ _self concept_ yang nantinya akan menentukan harga diri/ _self value_ dan percaya diri/ _self confidence_ anak. Inilah mengapa materi Komunikasi Produktif menjadi awal dari segala materi.

Kunci dalam komunikasi ialah *perasaan*.  Jika ingin nasehat atau pesan kita diterima oleh orang lain terutama anak kita, yang diperlukan ialah memahami perasaannya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya, manusia memiliki lima kebutuhan dasar dalam komunikasi yaitu agar perasaannya Di dengar, Di kenali, Di terima, Di mengerti, dan Di hargai (5D) yang merupakan kunci komunikasi.

Kadang secara tidak sengaja kita salah berbicara kepada anak untuk mendapatkan hasil instan (misal: agar anak cepat diam dari tangisnya). Kesalahan Komunikasi ini menimbulkan dampak yang disebut dengan *Verbal Abuse*, meski terjadi secara tidak sengaja tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang.

Berikut akibat kesalahan komunikasi pada anak:
♻ Melemahkan konsep diri
♻ Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama
♻ Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
♻ Kemampuan berfikir menjadi rendah
♻ Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
♻ Iri
♻ Menjadi generasi yang BLAST (teori Mark Kaselmen) merupakan singkatan dari Boring-Lonely-Angry/Afraid-Stress-Tired yang akhirnya mengakibatkan beberapa penyimpangan sosial.

Selain kata-kata, yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi ialah bahasa tubuh. *“Action is louder than words”*

Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan menyenangkan pada anak ? (Langkah-langkah berikut ini pada dasarnya bisa digunakan kepada siapa saja lawan bicara kita)

*1. Jangan bicara tergesa-gesa*
Siapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu “sempit” atau “sedikit”? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. Hindari bicara tergesa-gesa,  apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak!

*2. Ingat: Setiap pribadi unik*
Hargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allah telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain.

*3. Kenali diri sendiri dan anak*
Kebanyakan orang yang belum mengenal diri masih terpaku dengan rutinitas.
Masih ingat aktifitas dinamis? Orang yang telah banyak mengelola aktifitas dinamis bisa jadi telah lebih dulu mengenal siapa dirinya (be do have). Sehingga mereka cenderung mudah memanage diri, waktu dan kondisi di sekitar mereka.
Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak/pasangan.

*4. Pahami perbedaan _needs_ dan _wants_*
Setiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya.

*5. Pahami “Masalah Siapa?”*
Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Saya atau anda? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan orang lain, atau masalah orang lain dengan kita. Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Misal ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

*6. Baca bahasa tubuh*
Bahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan.

*7. Dengarkan Perasaan*
Kunci komunikasi ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, “Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?”, “Adik sedih ya karna mainannya hilang?”. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut.

*8. Mendengarkan dengan aktif*
Jadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, “Oooh.. Begitu ya?” “Terus?” “Kamu kesal sekali ya?”. Sediakan ruang bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita.

*9. Hindari 12 gaya populer (parenthogenic)*

Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa TIDAK percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.

Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer:
1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

��Mengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

1⃣1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

1⃣2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.

*10. Gunakan “Pesan Saya”*
Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah “pesan saya” atau “i-message” yaitu dengan:

“Ayah/Ibu merasa …. (isi perasaan kita) Kalau kamu …. (isi perilaku anak) Karena… (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain”

Contoh: “Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga“.

“Pesan saya” memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan “pesan kamu”. Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, “Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!“. Dalam “pesan kamu”, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

Sumber Informasi:
_Catatan Seminar Elly Risman, artikel_
_Cemilan Rabu Bunda Sayang Batch #1_

Rabu, 21 Juni 2017

Aliran Rasa Materi Komunikasi Produktif

Materi pertama kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional adalah komunikasi produktif. Sejujurnya materi inilah yang memotivasi saya agar "naik" kelas karena hasil tes psikologi saya menyatakan kalau saya tipe orang yang asertif-submisif. Dari tahun 2010 saat menerima hasil tes psikologi ini, saya mencoba belajar tentang ilmu komunikasi namun puncaknya dimana saya merasa sangat nyaman untuk dipraktekkan ya setelah mendapat materi komprod ini.
Semua rumus komunikasi produktif baik untuk pasangan maupun anak sangat mudah diterapkan. Dampaknya untuk saya pribadi, saya bisa meredam emosi sebelum membuka mulut saya. Alhasil tidak ada lagi nada tinggi karena emosi terluapkan. Saya lebih memilih diam dan menarik nafas sambil berpikir rumus mana yang akan saya gunakan baru setelah itu berkomunikasi dengan anak.
Sementara itu, saya berhasil menemukan mantra yang dapat membantu  mengurangi sikap submisif saya. Mantra itu adalah I'm responsible for my communication result.

#aliranrasa

#komunikasiproduktif

#kelasbunsayIIP


Jumat, 09 Juni 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Day#10

Hari ini memasuki hari ke-10 mama menjalani tantangan 10 hari dalam melaksanakan komunikasi produktif dari kelas bunda sayang. Setelah mendapat materi komunikasi produktif seluruh peserta kelas bunsay ditantang untuk melaksanakan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ini saya maknai sejalan dengan pesan ibu Septi "mengikat ilmu dengan amal".

Hari ini mama akan bercerita tentang mantra komprod "mengelola emosi". Sebenarnya saat berkomunikasi hampir sebagian besar mantra komprod bisa kita lakukan secara bersamaan tinggal mantra mana yang menjadi fokus kita saat itu.

Mantra mengelola emosi ini harus mama terapkan ketika berkendara berdua dengan si bungsu. Si bungsu ini bisa usil maksimal kalau sedang bosan. Mulai dari gear, hand brake, wiper, radio, lampu sen bisa dia mainkan sementara mama masih terus mengemudi. Kalau saat berhenti di lampu merah mama sering mengajak si bungsu bercanda sambil menasehati "abang duduk disamping mama aja. Selama mama nyupir abang temani mama ya ". Biasanya mama meyiapkan buku, mainan dan cemilan supaya si bungsu tidak cepat bosan. Namun jika sudah selesai dengan buku, mainan, dan cemilannya maka mama harus bersiap mengelola emosi jangan sampai terpancing oleh tingkah usinya si bungsu. Seringkali ketika lampu merah si bungsu minta duduk di pangkuan mama. Inilah yang membuat mama terpaku karena sesungguhnya yang ia butuhkan adalah mama yang engage dengannya walaupun sedang berkendara. Inilah yang menjadi refleksi mama ubtuk mengelola emosi ketika si bungsu mulai usil. Tak dapat dipungkiri, ketika suasana high traffic kadang emosi mama bisa melonjak sehingga mengambil jalan pintas dengan membentak agar si bungsu tak lagi usil.
Walau tantangan 10 hari sudah berakhir namun sesungguhnya tantangan berkomunikasi produktif dengan trio Z selalu hadir setiap hari. Semoga dengan mama berlatih cara berkomunikasi yang produktif dapat memberikan kesan pola asuh yang bermakna untuk kalian bertiga.

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan Komunikasi Produktif Day#9

Kali ini mama ingin bercerita mengenai mantra komprod "choose the right time". Selama ramadan ini kami bisa berkumpul bersama dengan kondisi full team. Alhamdulillah ini salah satu bentuk berkah ramadan bagi keluarga kami.
Menjelang berbuka puasa, bapak mengumpulkan kami semua lalu membuka family forum. Komunikasi diantara kami lebih fokus pada impian dan harapan kami. Harapan dan impian ini kami sebutkan satu per satu yang kemudian diamini oleh kami berlima.
Right time selanjutnya adalah couple time untuk kami berdua. Mendiskusikan apa saja dari tema yang ringan hingga tema berat semuanya kami bahas di meja makan.
Alhamdulillah materi komunikasi produktif menjadikan ramadan kami lebih bermakna

#level1
#day9
#komunikasiproduktif
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP

Kamis, 08 Juni 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Day#8

Si bungsu lagi suka sukanya manjat. Selain teralis pintu, panjatan favoritnya adalah bahu bapak dan mamanya. Kadang saat kami sedang santai ia tiba-tiba datang dan memanjat ke bahu bapak/mama. Momen manjatnya ini gak kenal waktu, malah seringnya pas lagi sholat. Begitu mama sujud si bungsu langsung manjat dari belakang sambil mengalungkan tangannya ke leher mama.
Setelah sholat mama mencoba untuk berkomunikasi dengan abang Z.
Mama berusaha mengatakan harapan mama terhadap abang alih-alih melarangnya manjat bahu mama saat sholat.
Mama : "bang, mama seneng deh kalau abang ikut sholat sama mama".
Sambil menatap mata abang Z.
"Kalau abang sudah selesai duluan sholatnya, tetap duduk disamping mama ya bang. Tunggu mama sampai selesai sholat".
Respon si abang cukup menggelikan, ia hanya menatap balik kepada mama lalu melengos dan kembali ke aktivitasnya. Sepertinya komunikasi ini harus diintensifkan agar tertanam pemahaman pada diri bang Z. Sehingga sholat kami menjadi lebih khusuk dan semakin bermakna.

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasi produktif
#kuliahbunsayIIP

Tantangan Komunikasi Produktif Day#7

Si sulung kakak Z ini tipe girly dan kreatif. Baru-baru ini kakak tertarik dengan seni decoupage setelah melihat hasil pouch decoupage buatan mama. Kak Z request kit decoupage untuknya sendiri. Setelah menanti seminggu, paket kit deco-nya datang juga. Awalnya mama carikan video decoupage di youtube sebelum kami mulai beraksi. Lumayan memberikan kak Z pengetahuan step by step decoupage dengan media tas pandan.

Bada subuh tadi kami mulai proyek decoupage kami. Bada subuh menurut kami adalah waktu yang tepat untuk bonding time. Semua alat dan bahan disiapkan oleh kak Z. Bahkan untuk step menggunting dan menipiskan tisu agar siap untuk ditempel serta menyapukan lem pada media bisa kak Z lakukan dengan baik. Sampai disini peran mama hanya sebagai pengamat. Mama hanya memberikan instruksi singkat sebagai konfirmasi dari langkah-langkah yang sebelumnya kak Z tonton di youtube.
Kak Z mulai ragu pada step menempel tisu ke media. Akhirnya kak Z pun meminta bantuan mama.
Kak Z : "mama aja ya, kakak gak berani. Susah".
Mama : "mau coba dulu gak kak? Nanti sambil mama bantu, insyaa Allah kakak bisa".
Mama membantu kak Z dalam menempel tisu yang berukuran besar sementara yang kecil mampu dilakukannya sendiri.
Mama : "kakak hebat sudah berani mencoba sendiri, insyaa Allah hasilnya akan bagus."
"Semangat ya kak! Kita teruskan proyek ini sedikit demi sedikit setiap bada subuh sebelum lebaran insyaa Allah pasti sudah selesai".
Mama mencoba memberikan apresiasi atas usaha kakak dan harapan yang mama inginkan. Semoga proyek ini membuat bonding time kami lebih bermakna.

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP

Rabu, 07 Juni 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Day#6

Malam ini di rumah cukup rusuh. Trio Z bergantian menangis karena keisengan diantara mereka. Mama akan fokus menceritakan tragedi antara si tengah dan si bungsu.

Neng Z sepertinya mulai mengantuk, bawaannya rewel sekali. Berbeda dengan si bungsu abang Z yang masih ON. Si bungsu asyik berlari-larian di dalam kamar dan tak sengaja menabrak punggung neng Z. Neng Z sontak berdiri dan memojokkan si bungsu lalu memukul kepala adiknya dengan botol dot yang sedang dipegangnya sehingga membuat si bungsu menangis. Kami yang melihat kejadian itu sontak terkejut karena itu bukanlah kebiasaan neng Z. Bapak pun melepas emosinya... nada suara sempat meninggi menengur si tengah.  Dalam mengatasi tragedi ini kami langsung berbagi peran. Bapak menenangkan si bungsu sambil memeriksa kepalanya yang terpukul dot tadi. Sementara mama langsung memeluk neng Z. Neng Z sempat menolak dipeluk namun akhirnya tangisnya pun pecah. Ia tak rela disalahkan karena merasa dirinya adalah korban. Pada saat seperti inilah teori komunikasi produktif harus dipraktekkan walaupun rasanya hati ini tak keruan. Sambil tetap memeluk neng dari belakang, mama berbicara dengan intonasi lembut. Mengkritisi tindakan yang telah dilakukannya dan harapan mama agar neng bersedia meminta maaf. Si tengah masih merajuk tidak ingin meminta maaf lebih dulu sementara si bungsu sudah asyik bermain dengan bapak dan si sulung.
Mama mencoba mendekati si bungsu, memintanya untuk meminta maaf pada kakaknya namun belum berhasil. Akhirnya mantra mengatakan harapan dan pujian spesifik pun mama lakukan terhadap si bungsu ini.
Mama : "bang Z anak sholeh, ayo minta maaf sama neng Z. Mama bakal seneng deh punya anak sholeh yang mau minta maaf duluan."
Alhamdulillah si bungsu menyorongkan tangan tanda minta maafnya yang langsung disambut oleh neng Z. Tragedi malam ini berakhir dengan cium sayang dari si bungsu untuk si tengah :)

#level 1
#day 6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Selasa, 06 Juni 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Day#5

Kondisi anggota keluarga kami sedang kurang fit, terutama bapak dan si sulung. Sudah beberapa hari ini bapak rutin mengkonsumsi obat untuk mengembalikan daya tahan tubuhnya. Kemarin kak Z ikut tertular batuk dari bapak. Bapak langsung sigap mengambil obat untuk kak Z. Satu jenis obat berwujud sirup dan satu lagi berwujud tablet. Jreng..jreng... kakak Z terpana melihat ada obat tablet. Seumur-umur inilah pertama kalinya kakak diminta bapak untuk minum obat tablet :)

Kami berempat hadir mengelilingi kakak dan memberikan semangat agar berani meminum obatnya.
Bapak : "obatnya dimasukkan ke mulut,  minum air, langsung ditelan ya kak". Begitu bapak memberikan tips.
Mama : "bismillah, kakak pasti bisa"
Neng Z : "ayo kakak hebat pasti bisa" sambil memandang lekat kakaknya.
Akhirnya kakak memberanikan diri dan langsung action sesuai arahan bapak tadi. Tapi ternyata kakak susah menelan obatnya sehingga sempat terasa pahit karena obatnya terhisap air liur. Kami semua tetap menyemangati dan meyakinkan kalau kakak pasti bisa. Alhamdulillah akhirnya kakak berhasil menelan obatnya.

BISA! Adalah suatu afirmasi positif dalam berkomunikasi. Apakah itu berkomunikasi dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.

Ketika kami sekeluarga memberikan afirmasi BISA pada kakak maka kakak pun merespon dan berkomunikasi dengan dirinya bahwa ia BISA. Dengan afirmasi positif BISA inilah kakak berhasil mengalahkan ketakutannya dalam meminum obat tablet untuk pertama kalinya.
Alhamdulillah komunikasi kami kali ini terasa bermakna karena inilah salah satu komunikasi produktif kami.

#level 1
#day 5
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Resume kulwapp HS IIP Kalteng

8Resume Kuliah WhatsAppHOMESCHOOLINGProfil Narasumber :Dinari Lutfiani, ibu dari 3 anak (11th, 9th dan 4th)Koordinator IIP KaltimFasilitator Bunda Sayang IIP batch #2Salah satu founder Komunitas Balikpapan Muslim Homeschool dan Komunitas Homeschooling BalikpapanWaktu : 09.00 - 11.30 WITA*HOMESCHOOLING, BELAJAR TANPA SEKOLAH* _Pengertian Homeschooling_  *Homeschooling adalah pendidikan alternatif* (bukan sekolah)*Homeschooling diselenggarakan oleh keluarga* (bukan lembaga)*Homeschooling berbasis rumah* (rumah menjadi titik awal dan sekaligus tempat kembali dalam proses belajar)Sebutan Homeschooling melekat pada keluarga bukan pada lembaga. Kalau lembaga, sebutannya adalah akademi, PKBM, LPK, kursus, bimbel dan sebutan lain yang sesuai dengan badan hukumnya.Menurut UU, sekolah adalah jalur pendidikan formal, homeschooling adalah jalur pendidikan informal sedangkan lembaga adalah jalur pendidikan nonformal. Maka tidak tepat secara hukum jika ada lembaga yang menyebut dirinya dengan Homeschooling.Sekolah, lembaga pendidikan dan homeschooling adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu meraih kebaikan untuk masa depan anak. Ketiganya sama-sama ada untuk kepentingan masa depan anak. Ketiganya pun sama-sama legal dan dilindungi keberadaannya oleh undang-undang dan aturan hukum di Indonesia. _Kelebihan dan kekurangan Homeschooling_*Kelebihan Homeschooling*1. _Fleksibel_Baik dalam model pendidikan, materi dan cara belajar, waktu belajar juga dalam hal memaksimalkan pemanfaatan dana pendidikan anak.2. _Kustomisasi Pendidikan_Karena fleksibilitasnya yang tinggi, setiap keluarga dapat merancang kurikulum yang tepat bagi masing-masing anak sesuai dengan potensi kekuatannya.3. _Akses pada dunia nyata_Karena proses pembelajaran berbasis keseharian, praktik lapangan atau proses magang maka anak-anak Homeschooling lebih mudah beradaptasi saat terjun ke masyarakat.4. _Kedekatan anggota keluarga_Orangtua dan anak terus terhubung selama proses pembelajaran. Kehangatan dan kekuatan hubungan ini akan membuat anak bahagia dan lebih matang secara psikologis sehingga mampu menghadapi tantangan eksternal dimasa dewasanya *Kekurangan Homeschooling*1. _Kompleksitas pengeluaran_Karena sebagian besar proses pendidikan dikelola sendiri oleh orang tua, maka kompleksitas dan tanggung jawab Orangtua menjadi lebih besar daripada ketika anak bersekolah2. _Minimnya infrastruktur_Infrastruktur pendidikan di Indonesia sebagian besar ditujukan bagi anak yang bersekolah.3. _Ketergantungan pada keluarga_Ada resiko terhadap keberlanjutan proses pendidikan jika terjadi kondisi luar biasa, misalnya perceraian atau kematian.4. _Tekanan eksternal_Karena paradigma yang berkembang di masyarakat saat ini adalah bahwa proses pendidikan hanya bisa dilaksanakan di sebuah lembaga atau sekolah, maka pilihan untuk tidak menyekolahkan anak menjadi sesuatu yang aneh dan mendapat tanggapan negatif dari masyarakat _Memulai Homeschooling_ Sejatinya, setiap manusia yg Allah ciptakan di dunia ini telah lengkap Allah instalkan dengan beragam fitrah. Antara lain adalah fitrah belajar dan fitrah bakat.Jauh sebelum masuk usia sekolah bahkan sejak dalam kandungan, setiap anak mengalami proses belajar.Jika selama ini kita menganggap *belajar = sekolah*, maka apakah berarti *setelah lepas sekolah anak akan berhenti belajar ?*Saat kita menjadikan sekolah/ijazah sebagai tujuan, maka saat tujuan itu tercapai, hasrat untuk terus belajar pun akan hilang. Fitrah belajar jadi tercederai. Padahal seharusnya proses belajar terus-menerus kita lakukan, sejak lahir hingga helaan nafas terakhir.Menjaga fitrah belajar anak bukan hal yang terlampau sulit. Cukup memantik rasa ingin tahu dan memberi ruang bagi potensi terbaik mereka (inside out) serta menahan diri pada hasrat untuk menjejalkan beragam materi (outside in) yang kita sendiri belum yakin atas manfaatnya bagi masa depan mereka kelak.Dengan memahami bahwa anak bukanlah selembar kertas kosong, tetapi lahir dengan beragam potensi unik yg telah Allah instalkan khusus padanya, maka proses pendidikan rumah akan lebih mudah untuk kita mulai.Kata kunci yang harus kita pegang saat menjadi orangtua homeschooler adalah "tumbuh bersama". Sebab peran kita adalah sebagai kawan seperjalanan, bukan guru, ibu peri apalagi Tuhan yang maha tahu. Tidak perlu ada pencitraan di rumah kita sendiri. Lepaskan gagasan bahwa kita harus serba tahu dulu, serba bisa dulu, serba sempurna dulu sebelum menjadi orangtua homeschooler.Jenjang pendidikan rendah, merasa tidak pandai dalam satu bidang, tidak berpengalaman sebagai guru, temperamental, tidak disiplin dan beragam kelemahan diri lainnya, bukan menjadi alasan bagi para homeschooler untuk mengirim anaknya ke sekolah. Justru penyingkapan ini membuat kita sadar bahwa kita juga memiliki PR pribadi. Sebab homeschooling sebagian besarnya adalah parenting. Bagaimana kita menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anak. Seperti kata *Naomi Aldort*, _"Raising children is raising ourselves"_. Sembari mendewasakan anak-anak, kita juga wajib mendewasakan diri kita sendiri. _Legalitas HS di Indonesia_ Sekolah rumah dijamin keberadaannya oleh pemerintah.Hal ini diatur dalam UU Sisdiknas, PP dan Permendikbud Nomor 129 tahun 2014 _Kurikulum Sekolah Rumah_ Jalur pendidikan Homeschooling terbagi sebagai berikut : *Enterpreneur*HS berbasis pada output karya/produk bisnis tertentu,   portofolio bisnis/produk.Ijazah akademis tidak terlalu relevan. *Akademis*HS berbasis ijazah, perlu mengambil berbagai tes standar masuk Perguruan Tinggi baik di dalam ataupun di luar negeri.Ijazah akademis sangat relevan. *Profesional*HS berbasis potensi, portofolio bakat dan sertifikasi non akademis.Penguatan kompetensi  dengan magang/mentoring.Ijazah akademis tidak wajib, sertifikasi wajib.Secara garis besar, kurikulum pembelajaran HS adalah sebagai berikut : *Kurikulum Nasional* ➡ *Ujian paket kesetaraan* ➡ *Kuliah di Indonesia* *Kurikulum Internasional* ➡ *Ujian Cambridge/ SAT/ GAC* ➡ *Kuliah di Luar Negeri* *Kurikulum Wirausaha* ➡ *Magang* ➡ *Membangun perusahaan* *Kurikulum Profesional* ➡ *Sertifikasi non akademis* ➡ *Profesional Muda*Sumber bacaan :_Rumah inspirasi, Sumardiono dan Mira Julia__Fitrah Based Education, Hary Santosa__Ingin Homeschooling tapi keder, Ellen Kristi__Materi seminar Perserikatan Homeschooler Indonesia__Materi training School for Homeschool Facilitator, Padepokan Margosari, Dodik Mariyanto dan Septi Peni Wulandani_Sesi Tanya Jawab1⃣ Mimi-BekasiAssalamualaikum​ mb... Mengingat bbrpa pertimbangan sy dan suami sgt ingin ank kami HS,tetapi sy msh bingung untuk memulai nya sendiri di rumah. Kurikulum dan keterbatasan ilmu membuat saya blm mampu dan gak PD.Adakah panduan belajar utk anak HS sendiri di rumah? Ank saya umur 4.5th.Dan sayapun sempat mengikuti open house salah satu sekolah komunitas HS dimulai dari umur 6-12 th. Tetapi Krn sekolah ini baru akan mulai th.ini utk membuka kelas HS saya ingin melihat perkembangan nya dulu.Nah apa yg hrs sy siapkan utk bisa HS tunggal dirumah dulu sebelum nantinya sy HS kan anak di komunitas sekolah HS??Terimakasih. Jazakillah khoir1⃣ Wa alaikumussalam mb Mimi.Bisa dibaca kembali materi tentang HS poin pertama.Bahwa HS adalah pendidikan berbasis rumah yg diselenggarakan oleh keluarga. HS bukanlah lembaga. Jadi mohon maaf kalau saya kurang setuju dengan lembaga yg menempelkan "branding HS" sebagai salah satu bentuk promosinya.Jika mb Mimi dan suami sudah sepakat untuk memilih HS sebagai model pendidikan bagi anak, maka langkah pertama yg bisa mb lakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya. Bisa dengan membaca buku-buku tentang pendidikan atau ngobrol langsung dengan para praktisi HS. Kita menjadi tidak PD untuk menjalankan HS karena adanya paradigma lama tentang pendidikan yg masih membelenggu pikiran kita.Untuk mengatasi rasa minder atau tidak PD,  maka yakinilah bahwa HS itu sebenarnya adalah proses kita bertumbuh bersama anak. Tidak perlu serba tahu untuk mendampingi anak dalam proses belajarnya di rumah. Cukup kita belajar sabar, ikhlas, dan berikan perhatian kita dalam mendampingi mereka menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya.Saat ini menjalankan HS sudah jauh lebih mudah. Beragam informasi, materi belajar bisa dengan mudah kita dapatkan. Maka jangan pernah lelah untuk terus mencari.Mb Mimi bisa membaca buku tentang HS karya mas Aar Sumardiono dari Rumah Inspirasi buka web rumahinspirasi.comBuku FBE karya ustadz Hary Santosa, buku Cinta yg Berpikir karya Ellen Kristi dan masih banyak Referensi lainnya.✅2⃣ Morinda - iip bogor.1. Apakah HS cocok utk semua anak atau ada anak tertentu yg lebih cocok sekolah biasa? Bagaimana cara kita mengetahuinya? Jika anak kita sudah terlanjur sekolah formal biasa, bagaimana cara mengetahui bahwa dia lebih baik lanjut disitu atau di HS kan?2. Bagaimana mengetahui HS yg kita lakukan sudah benar atau belum? Krn ada perasaan "am I good enough?" apakah yg saya ajarkan cukup baik atau bahkan lebih baik dr skolah formal? Bagaimana mengukurnya? Indikatornya? Dan bagaimana sih kurikulum HS yg benar?2⃣ Mb Morinda,1. Untuk lebih mudah memahami, kita analogikan HS dan sekolah sebagai pakaian.Ada pakaian yg di produksi oleh garment, modelnya cukup beragam, tapi setiap model dibuat dengan ukuran standar dan diproduksi seragam dalam jumlah banyak. Kita tinggal memilih akan membeli model seperti apa yang kita inginkan. Jika ada ukuran yang kurang sesuai, maka pilihannya adalah membawa ke tukang permak atau terima saja memakai pakaian yg agak kurang pas ini. Pakaian buatan garment ini adalah analogi untuk sekolah.Ada lagi pakaian buatan butik. Mulai dari bahan dan modelnya, kita sendiri yang memilih. Kemudian tubuh kita diukur dan bahan pilihan kita tadi dijahit sesuai dengan ukuran dan model yang kita inginkan.Pakaian buatan butik ini adalah analogi untuk proses belajar yg terjadi dalam HS.Jadi mb Morinda bisa menyimpulkan mana yg hanya cocok untuk anak tertentu dan mana yg cocok untuk semua anak ? Model pendidikan apapun baik asal tidak mencederai fitrah anak. Jadi untuk yang sekolah formal, jika anak cinta pada Tuhan dan ciptaanNya, terbukti dalam tingkah lakunya (fitrah iman), selalu semangat belajar, kreatif dan rasa ingin tahunya besar (fitrah belajar), potensi kekuatannya terasah (fitrah bakat), berarti sekolah formal tidak mencederai fitrah anak. Silakan diteruskan bersekolah formal.2. Saat anak dan orangtua hari ini menjadi lebih baik dibanding kemarin, maka yang dilakukan sudah tepat, On track.Kurikulum HS yang benar adalah yang sesuai dengan kebutuhan anak dan sesuai dengan core value keluarga. Jadi tiap anak dalam satu keluarga bisa memiliki kurikulum yg berbeda.✅2⃣ Morinda - iip bogor.1. Apakah HS cocok utk semua anak atau ada anak tertentu yg lebih cocok sekolah biasa? Bagaimana cara kita mengetahuinya? Jika anak kita sudah terlanjur sekolah formal biasa, bagaimana cara mengetahui bahwa dia lebih baik lanjut disitu atau di HS kan?2. Bagaimana mengetahui HS yg kita lakukan sudah benar atau belum? Krn ada perasaan "am I good enough?" apakah yg saya ajarkan cukup baik atau bahkan lebih baik dr skolah formal? Bagaimana mengukurnya? Indikatornya? Dan bagaimana sih kurikulum HS yg benar?2⃣ Mb Morinda,1. Untuk lebih mudah memahami, kita analogikan HS dan sekolah sebagai pakaian.Ada pakaian yg di produksi oleh garment, modelnya cukup beragam, tapi setiap model dibuat dengan ukuran standar dan diproduksi seragam dalam jumlah banyak. Kita tinggal memilih akan membeli model seperti apa yang kita inginkan. Jika ada ukuran yang kurang sesuai, maka pilihannya adalah membawa ke tukang permak atau terima saja memakai pakaian yg agak kurang pas ini. Pakaian buatan garment ini adalah analogi untuk sekolah.Ada lagi pakaian buatan butik. Mulai dari bahan dan modelnya, kita sendiri yang memilih. Kemudian tubuh kita diukur dan bahan pilihan kita tadi dijahit sesuai dengan ukuran dan model yang kita inginkan.Pakaian buatan butik ini adalah analogi untuk proses belajar yg terjadi dalam HS.Jadi mb Morinda bisa menyimpulkan mana yg hanya cocok untuk anak tertentu dan mana yg cocok untuk semua anak ? Model pendidikan apapun baik asal tidak mencederai fitrah anak. Jadi untuk yang sekolah formal, jika anak cinta pada Tuhan dan ciptaanNya, terbukti dalam tingkah lakunya (fitrah iman), selalu semangat belajar, kreatif dan rasa ingin tahunya besar (fitrah belajar), potensi kekuatannya terasah (fitrah bakat), berarti sekolah formal tidak mencederai fitrah anak. Silakan diteruskan bersekolah formal.2. Saat anak dan orangtua hari ini menjadi lebih baik dibanding kemarin, maka yang dilakukan sudah tepat, On track.Kurikulum HS yang benar adalah yang sesuai dengan kebutuhan anak dan sesuai dengan core value keluarga. Jadi tiap anak dalam satu keluarga bisa memiliki kurikulum yg berbeda.✅3⃣Isti arbaniah iip PontianakBagaimana menyiapkan kurikulum homeschooling?3⃣ Mb Isti,Yg pertama kali adalah memperbaiki komunikasi antara suami dan istri serta perbaiki komunikasi antara orangtua dengan anak.Dalam HS, yang menyusun kurikulum adalah anak, orangtua hanya mendokumentasikan.Start from the finish line. Cari tahu, kelak anak ingin seperti apa. Caranya dengan perbanyak Family forum. Banyak ngobrol dan main bareng. Ajak anak menuliskan mimpinya, kemudian temani ia menyusun menu atau langkah-langkah untuk mencapai mimpinya.Untuk anak usia dini, cukup dengan memupuk suburkan fitrah yg telah Allah instalkan padanya lewat beragam aktivitas yg mengkayakan wawasan dan gagasannya.(Framework operasional Fitrah Based Education)(Framework FBE keluarga Dodik Mariyanto dan Septi Peni Wulandani)✅4⃣ Rohmah-IIP Lampung..saya ingin tanya.. saat memutuskan untuk ber HS.. apakah bunda sudah menyiapkan exit procedure jika anak ingin kembali ke sekolah atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sebelumnya pernah membaca tulisan pak Dodik tentang exit procedure ini.. dan kalau bunda sudah menyiapkannnya.. boleh dishare contoh exit procedurenya?4⃣ Mb Rohmah,Tentang exit procedure ini sudah kami komunikasikan ke anak-anak. Jika suatu saat pilihan mereka berubah, misalnya ingin bersekolah formal, kami sudah menjelaskan bahwa dalam prosesnya mereka harus menempuh Ujian kesetaraan dengan berbagai persyaratannya (kami juga menjelaskan syarat dan ketentuannya).Dalam hal kejadian luar biasa (kedua orang tua meninggal dunia atau hal yg menjadikan orangtua tidak lagi mampu memikul tanggung jawab pendidikan anak), karena saya adalah anak sulung dan adik-adik saya belum memiliki core value yang selaras dengan core value keluarga kami, maka untuk hak pengasuhan anak-anak tetap jadi tanggung jawab keluarga besar kami tetapi untuk peran mendidik telah kami titipkan kepada sahabat kami yg sejalan dengan kami.✅5⃣ Litha-BandungTentang kekurangan homeschooling poin ketiga. Apakah homeschooling harus melibatkan kedua orang tua? Tidak bisakah salah satu pihak?5⃣ Mb Litha,Pada homeschooling, orangtua memiliki peran yangsentral. Investasi orangtua untuk anak bukan pada jumlah dana yang disediakan, tetapi pada waktu dan usaha yangdicurahkan. Peran serta dan keterlibatan orangtuahomeschooling terjadi pada seluruh proses pendidikan,baik pada saat perencanaan, proses belajar, maupun saatevaluasi.Adapun untuk pembagian tugas dalam mendampingi proses belajar anak (terutama anak usia dini) silakan disepakati antara suami istri.Untuk single parent, proses pendampingan bisa didelegasikan kepada anggota keluarga lain atau orang lain yang sudah dilatih secara khusus agar dapat mendampingi proses belajar anak dengan baik.✅6⃣ Yuni-Banten.Assalamualaikum.Ada beberapa orangtua yang ingin mengHSkan anaknya pada sebuah yayasan. Jadi sama saja tidak dengan sekolah? Sebab bukan ortunya yang menjadi gurunya. Nuhun 6⃣ Wa alaikumussalam mb Yuni,HS adalah keluarga, bukan yayasan/lembaga.Jika ada yayasan/lembaga yg memakai branding HS, tentunya ini menyalahi aturan pemerintah.Jadi jika ada keluarga yg menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada sebuah yayasan/lembaga, maka tidak bisa disebut HS.✅7⃣ Indah - IIP Balikpapan1. Bagaimana Metode untuk memulai HS usia 3-5 thn , dan Metode untuk anak yg lulus SD tapi ingin melanjutkan HS ?2. Bagaimana mekanisme tekhnik untuk mengikuti ujian kejar paket /paket kesetaraan ?7⃣ Mb Indah,1. Bisa mencontoh framework operasional Fitrah Based Education di atas.Untuk si kakak yg baru lulus SD dan akan HS, maka cari tahu dulu, kenapa memilih HS ? Bagaimana gambarannnya tentang proses pendidikan dalam HS ? Untuk orangtua, apakah sudah mantap memilih HS ? Sudah mencari, membaca dan mencerna referensi atau sumber informasi terkait HS yg relevan ?Kalau belum, maka mulailah sekarang. Fase pencarian informasi,  pergulatan batin dan kegalauan yang berujung pada pencerahan pribadi inilah yg berharga bagi calon homeschooler. Karena kami hanya mampu sebatas menemani. Kemantapan personal harus dicari sendiri. Karena tanpa hal ini, homeschooling sulit berhasil.2. Lihat gambar di bawah ini.(Mekanisme ujian paket kesetaraan)✅8⃣ Winda- IIP sangasanga kaltim 1. Darimana kita bisa mendapat kurikulum selain nasional(professional, internasional dan wirausaha.. (kalo gak keberatan pengen minta sekalian alamat web nya..)2. Apa saja tips buat ortu yang mau meng-homeschooling-kan anaknya biar PD(gak pede karena takut tidak konsisten dan ulet).8⃣ Mb Winda,1. Kurikulum ini dirancang sendiri oleh anak. Caranya seperti jawaban No 3⃣Karena kurikulum HS itu spesifik, berbeda-beda bagi masing-masing anak. Membahas tentang kurikulum bisa tidak selesai 3 hari 3 malam Fokus saja untuk memupuk suburkan fitrah anak. Nantinya peta pendidikan masing-masing anak akan tergambar dengan sendirinya dalam proses tersebut.2. Nah... Sudah ketemu apa yg kurang dalam diri kan ? Masih ingin terus tidak konsisten atau kurang ulet ?Silakan dibaca lagi materi yg saya beri ya mb. Supaya PD menjalani HS, maka pegang kata kuncinya, "tumbuh bersama"._Raising children is raising ourselves_✅9⃣ Neneng - IIP KaltengMohon maaf sebelumnya,Saya belum faham 100% tentang HS. Jadwal pembelajarannya gmn? Buku panduannya gmn? Buku apa aja dan gmn nyusun pembelajarannya sendiri? Apakah ada group utk ibu2 yg mau HS in anaknya sendiri? Maksudnya ada bimbingan utk ortu yg HS. Pembelajarannya apa sama sprti yg formal SD 6th, SMP 3th, SMA 3th.9⃣ Mb Neneng,Supaya lebih paham, yuk cari tahu tentang HS. Perbanyak membaca tentang HS. Saat ini informasi tentang HS sangat mudah didapatkan. Untuk referensi sumber bacaan bisa lihat jawaban No 1⃣Terkait kurikulum, jadwal, buku, materi dan model pembelajaran, berbeda-beda antara keluarga HS yg satu dengan yang lainnya. Bahkan antara satu anak dengan anak yg lain dalam satu keluarga pun bisa berbeda.Grup khusus HS biasanya dibuat oleh sekumpulan orangtua Homeschooler. Disini mereka bisa saling berbagi pengalaman atau mencari solusi. Di Balikpapan sendiri, khususnya komunitas kami ada grup wa khusus HS dan fanpage.✅1⃣0⃣ fitrah - IIP kaltim1. Kurikulum yang disebutkan diatas masih sangat umum sekali...Bagaimana kurikulum yang berdasarkan usia anak...apakah ada pdf-nya yang bisa didownload?Atau adakah buku panduannya?2. Apakah jika anak ingin kuliah ujian kesetaraan harus ikut semua (sd, smp, sma) atau cukup ujian kesetaran sma aja? Mb Fitrah,1. Kurikulum HS adalah customized curriculum, jadi tidak bisa dituliskan secara rinci, karena kebutuhan tiap anak jelas berbeda. Untuk memudahkan, silakan lihat framework operasional Fitrah Based Education di atas. Aktivitas detailnya, silakan sesuaikan dengan kebutuhan ananda.Untuk buku referensi silakan lihat jawaban No 1⃣2. Jika anak ingin Kuliah, maka harus mengikuti seluruh jenjang Ujian kesetaraan. Karena untuk mendapatkan ijazah paket B, anak disyaratkan sudah memiliki ijazah paket A, begitu seterusnya.✅1⃣1⃣ tria-depokSalam bunda. Saya ingin bertanya terkait kulwap HS kita.1. Jika kita memasukkan anak di sekolah formal tertentu, apakah bisa juga di rumah kita pakai kurikulum HS lain seperti kurikulum enterpreneur utk mengasah wirausahanya dan atau kurikulum profesional utk mengasah bakatnya?2. boleh diberikan sumber yg bisa saya jadikan pedoman/contoh dalam membuat kurikulum2 yg td dijabarkan?terima kasih1⃣1⃣ Salam mb Tria,1. Silakan saja mb.Pertanyaan saya, kenapa harus menggunakan 2 model pendidikan, kenapa tidak memilih dan fokus pada salah satu saja ?Tidak sayang dengan investasi yang akan mb keluarkan ?, bukan hanya dari sisi materi (karena materi bisa dicari), tapi yg paling besar adalah investasi waktu (karena waktu yg terbuang tak akan kembali lagi).2. Silakan baca jawaban No 1⃣, No 3⃣ dan gambar framework operasional Fitrah Based Education di atas.✅1⃣2⃣ fitrah - IIP kaltimApakah anak HS bisa mendaftar beasiswa kuliah seperti Fulbright atau LPDP? Adakah profil siswa tersebut yang bisa kita jadikan referensi?1⃣2⃣ Bisa, mb Fitrah.InsyaaAllah anak kedua mb Moi Kusman sedang menempuh S2 dari beasiswa LPDP.✅1⃣4⃣ Faizah-IIP Tangerang kota1. Apa saja yang harus disiapkan dan dimantabkan homeschooling berjalan lancar?2. Misal saya hanya HS sampai jenjang SD. apa itu artinya saya harus ikutkan anak saya uji penyetaraan ijazah paket A, Agar bisa masuk SMP?1⃣4⃣ Mb Faizah,1. Kemantapan personal yang diperoleh sendiri oleh orang tua setelah melalui beragam fase pencarian informasi yg berujung pada pencerahan pribadi adalah hal paling penting dan mendasar sebelum memulai HS.2. Benar, seperti itu tahapannya mb.✅1⃣6⃣ orin dari-IIP kalimantan barat, Pontianak.1. Mau nanya kan bila kita memilih pendidikan dengan HS buat lanjut ke sekolah umun yg berjenjang tinggi apakah bisa, atau buat kerja bagaimana atau apakah yg HS hanya bisa berwirausaha?2. Bagaimana buat meyakinkan keluarga tentang HS ini?3. Apakah di kalimantan barat, khususnya pontianak ada komunitas atau organisasi HS buat saling sharing?Trims mbak atas kesempatnya untuk bertanya.1⃣6⃣ Mb Orin,1. Sistem pendidikan di Indonesia adalah multi exit dan multi entri, setiap anak berhak mengganti pilihan dari pendidikan formal ➡nonformal, formal➡informal, informal➡nonformal,  informal ➡formal➡informal,  dan seterusnya. Tentunya sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.Anak HS yg bekerja ? Banyak. Tentunya pada bidang yg tidak mensyaratkan pendidikan formal, misalnya PNS, Polisi atau TNI.2. Menumbuhkan keyakinan ini hanya bisa diperoleh dari dalam diri orang tersebut. Yg bisa kita lakukan hanyalah berbuat yang terbaik.3. Mohon maaf, untuk wilayah Kalbar, saya belum tahu mb.✅1⃣7⃣ Dwinda-IIP JogjaDi poin kelebihan homeschooling disebutkan bahwa kelebihannya lebih dekat dengan dunia nyata. Akan tetapi, di benak saya masih ada kekhawatiran anak2 tidak begitu tau dengan adat dan budaya yang terjadi di luar, bahkan mungkin anak2 sendiri akan terkucil karena tidak memiliki banyak teman layaknya jika mengikuti sekolah formal/non formal. Bagaimana membuat anak tetap bisa gaul serta bagaimana kita menumbuhkan imunitas bagi mereka apabila mereka kemudian bersinggungan dengan dunia di luar sekolah rumah (misal saat melanjutkan jenjang perguruan tinggi)?Terima kasih1⃣7⃣ Mb Dwinda,Dunia Homeschooling itu tidak sesempit tembok rumah. Namanya boleh Homeschooling, sekolah rumah, tapi ruang kelasnya ya seluas dunia ini. Dengan HS, kami bisa belajar apa saja tanpa terbatas oleh jadwal, silabus atau kurikulum yg telah ditetapkan. Kami juga bisa belajar dalam keadaan bagaimana saja, sakit, sehat, lapar, kenyang dan seterusnya kami tetap belajar. Kami belajar di mana saja, di rumah, di taman, di pasar, di tempat ibadah, di jalan dan lain-lain banyak hal yang bisa kami pelajari dari berbagai tempat. Kami belajar dengan siapa saja, dengan adik, kakak, ayah, ibu, penyapu jalanan, penjaga kebun binatang, petani, tukang parkir dan siapapun bisa menjadi guru kami. Kami juga bebas belajar kalangan, siang, malam, pagi, sore, setiap waktu kami bisa belajar.HS sangat dekat dengan dunia nyata, contohnya jika ingin belajar tentang konsep mata uang, kami tidak sekedar membaca dan menyalin dari buku saja, tapi kami langsung praktik ke pasar menggunakan uang untuk berbelanja, kami hitung berapa uang yg kami bawa, berapa banyak belanjaan yang kami dapat dan berapa sisa uang setelah dibelanjakan.Jika ingin belajar tentang persentase, kami akan ajak anak-anak ke mall, menghitung diskon produk yang ada disana. Dan masih banyak contoh lainnya.Proses pembelajaran HS berbasis keseharian, kunjungan lapangan dan proses magang, sehingga anak-anak HS sangat banyak terekspos dengan realitas dunia nyata. Proses ini juga yang menjadikan  sosialisasi anak-anak Homeschooling lebih luas, tidak pada banyak orang yg homogen, tapi pada banyak orang dengan beragam latar belakang dan usia.Imunitas saat bersosialisasi itu hanya bisa terjadi jika proses individuasi telah tuntas dilalui anak saat masa kecilnya (0-7 th).✅1⃣8⃣ Juli - Batam1. Mengenai kurikulum HS, bagaimana contohnya atau jadwal kegiatan hariannya?Dan bagaimana cara tepat menjelaskan kepada keluarga/pihak lain (orangtua khususnya) ttg HS yang terkesan aneh krn anak yang tidak sekolah formal, karena mayoritas orangtua/lingkungan kita kan belajar ya di sekolah formal ya.2. pada kekurangan hs no.3, kita tdk tahu usia kita sampai kapan.. bgmn keberlanjutan pendidikan anak hs, apa bisa lanjut ke formal? atau bgmn solusinya kira2?1⃣8⃣ Mb Juli,1. Contoh di keluarga kami yang lebih banyak memakai metode Project Based Learning, maka jadwal sesuai dengan project saat itu. Jangan membayangkan sebuah project yg besar yaa, kegiatan bersih-bersih rumah pun biasa kami jadikan project belajar.Di sini anak-anak belajar membuat perencanaan, berbagi tugas dan tanggung jawab, kemudian mengerjakan tugas sesuai pembagian tadi, belajar memberi apresiasi, dan terakhir adalah belajar mengevaluasi hasil belajarnya.Biasanya kami jelaskan alasan kami memilih HS, kemudian menjelaskan bahwa proses belajar itu tidak hanya sekolah formal, kami juga jelaskan bahwa HS seperti juga sekolah hanyalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tidak ada hal yang perlu diperdebatkan tentang hal ini. Kami hanya menjawab pada orang yang benar-benar bertanya bukan pada yg mempertanyakan. Pada orang yang mempertanyakan biasanya hanya kami beri seyuman paling manis ☺☺2. Terkait exit procedure ada di jawaban No. 4⃣ dan No. 1⃣6⃣✅1⃣9⃣ Rimas - IIP bogorSolusi dr kelemahan2 tsb bgmn & kurikulumnya yg lebih detail seperti apa, soalnya klo hanya membaca penjelasan kurikulum diatas masih bikin bingungPertanyaan ini muncul dari suami yg masih galau HS.hehe1⃣9⃣ Mb Rimas,Solusi dari kekurangan HS kembali lagi kepada para praktisinya, setiap keluarga HS punya pemecahan yg berbeda-beda. Contoh di keluarga kami,1. Orang tua harus belajar lebih banyak lagi, mengusir rasa malas dan enggan, berlatih lebih konsisten, lebih sabar dan ikhlas karena sebagian besar proses pendidikan ada di tangan kami2. Untuk menunjang infrastruktur, kami bisa bersama-sama dengan teman untuk mengadakannya, meminta izin kepada pihak terkait, bekerja sama dengan pihak lain juga bisa kami lakukan.3. Exit procedure sudah kami jelaskan di atas4. Kami sudah tidak memikirkan lagi Tekanan eksternal, karena bagi kami HS adalah tentang kami, selama yg kami lakukan tidak melanggar aturan Allah dan pemerintah maka tidak ada yg salah dengan kegiatan kami.✅2⃣0⃣ Siska-IIP Banjarmasin1. anak anak bunda Dinari semua HS / HE ?2. Kalau berkenan berbagi cerita pengelolaan HS / HE bunda Dinari dan anak anak sehari hari... terutama HS / HE anak yang besar3. apakah di KBMHS / KHSB ada program kegiatan rutin tertentu dan atau situasional? boleh di ceritakan juga program-program nya? siapa tau bisa di atmTerimakasih banyak bunda Dinari...SalamSiska2⃣0⃣ Mb Siska,1. Iya mb, ketiga anak saya HS.2. Untuk kegiatan anak-anak sehari-hari, kami biasa menggunakan metode Project Based Learning, jadi belajarnya paketan Dalam satu project anak bisa belajar beragam hal.3. Ada mb. Untuk BMHS sendiri ada club-club belajar. Anak-anak bebas memilih akan masuk Club mana. Kemudian ada kegiatan field trip dan camping.✅2⃣1⃣ Neneng - bogordi materi dijelaskan bahwa jalur HS ad 3. Dan setau saya HS dpat dlaksanakan ketika ank masih usia dini. Jika merujuk pada ketiga jalur tdi, brarti kita harus menemukan terlebih dahulu potensi, minat dan bakat anak.Pertanyaan saya, seperti apa dan bagaimana pelaksanaannya ketika HS diterapkn sejak usia dini?Langkah pertama apa yg harus dlakukan dan selanjut.a apa lgi?Terima kasih 2⃣1⃣ Mb Neneng,Benar mb.. Kita menemani, mendampingi dan memfasilitasi anak untuk menemukan minat, bakat dan potensinya sendiri.Hal ini hanya bisa tercapai jika anak melewati proses mengkayakan wawasan dan gagasan dengan beragam aktivitas.Untuk lengkapnya bisa lihat jawaban saya sebelumnya.✅2⃣2⃣ Noor iip salatigaBagaimana menyakinkan keluarga untuk memulai HS?2⃣2⃣ Mb Noor, silakan lihat jawaban No 1⃣8⃣ ya.✅2⃣3⃣ Lisa - IIP KaltengApakah ada training khusus menjadi homeschooler?lalu, banyak yg mengkhawatirkan HS menjadi tidak bisa bersosialisasi, apakah benar?Lalu utk mendapatkan ijazah berati qt ikutkan ke kejar paket A,B, C itu ya???Trmksh2⃣3⃣ Mb Lisa,Tahun lalu saya mengikuti training School for Homeschool Facilitator batch #1 yg diselenggarakan oleh keluarga Pak Dodik Mariyanto dan Ibu Septi Peni Wulandani.Kemudian ada webinar HS yg diselenggarakan oleh rumahinspirasi.com.Terkait sosialisasi dan ijazah,bisa lihat jawaban saya sebelumnya ya mb.✅2⃣4⃣ Eva - IIP Padangpekerjaan rmh apa yg cocok utk dberikan k anak laki usia 5t, utk latihan tggjwb...2⃣4⃣ Mb Eva,Pekerjaan rumah apapun cocok diberikan kepada anak laki-laki usia 5th. Yang penting adalah proses melatihkannya bertahap.✅2⃣5⃣ Rani - Batam1. Kalau mau jadi dokter bisa kah lewat hs?2. Selalu di tanya sama ortu nnti kalo hs pergaulannya gmn?2⃣5⃣ Mb Rani,1. InsyaaAllah bisa mb. Sepanjang anak mengikuti syarat-syarat yg diminta oleh fakultas Kedokteran yg dituju. Tapi saya belum mengetahui fakultas Kedokteran mana yg menerima ijazah paket kesetaraan.2. Untuk sosialisasi, silakan lihat jawaban sebelumnya yaa.✅Diskusi BebasMba Siska :1. untuk club club belajar nya BMHS para pengajar dari para ortu HSer sendiri atau luar?2. belajar mengajar di club2 BMHS di kelola secara profesional...dalam artian ada iuran untuk setiap anak dan fee untuk pengajar nya.#pengen banget ada komunitas HSer Offline seperti BMHS atau Club Oase nya mb Lala di Banjarmasin...kalau ada teman teman yang tahu boleh dong berbagi info nya komunitas HSer Banjarmasin✔ ✔✔ 1. Ada yg pengajarnya orangtua homeschooler sendiri, ada juga pengajar dari luar.2. Tergantung setiap Club mb. Masing-masing punya aturan yang berbeda. Hanya saja kami berusaha untuk menghargai para pemberi ilmu.✅Mba Cindy : Sy mau menanggapi pertanyaan mba winda, utk sumber kurikulum cambridge bisa di akses di www.cie.org.uk ada framework yg bs diunduh gratis sbg gambaran bagaimana kurikulum cambridge itu sendiri.Mba nira1. mungkinkanh HS dilakukan oleh kedua orang tua yang bekerja2. apa yang selalu membuat semangat ortu HS selalu semangat mendampingi , membersamai anak ketika HS, karena HS membuthkan tenaga extra, gimana kalau kejenuhan itu melanda ortu HS✔✔✔ 1. Mungkin saja mb. Apalagi jika anak sudah berusia di atas 7th. Karena jika dibawah usia tersebut idealnya anak harus bersama orangtuanya.Silakan atur waktu sebaik mungkin dan bagi tugas dengan pasangan.2. Semangat untuk menjadi pribadi yg lebih baik lagi.  Kalau Jenuh ya piknik mb Jenuh itu hanya ada di pikiran kita mb. Saat kita ikhlas, setiap proses bisa jadi menyenangkan.Mba Beta : Mba Dinari,  dari penjelasan HS di atas,  sepertinya orang tua benar2 meluangkan waktunya,  apakah bisa dilakukan oleh orang tua yg keduanya bekerja? Dan jika bisa bagaimana spy HS tetap efektif walau kedua org tua bekerja✔✔✔ Jawabannya sama dengan pertanyaan mb Nira dan ada pertanyaan yg sama juga di No. 5⃣Mba Orin : Untuk penyerataan yg menggunakan paket a, b,c tersebut, banyak yang "menganggap" dengan paket tersebut hanya utk yg tidak lulus atau berkendala di pendidkan formalnya.Untuk meyakinkan anak HS dan keluarga agar tidak minder bagaimana yah.Dan saya kurang dalam bahasa asing, kalau HS dan memasukan ank ke les bahasa asing , bagaimana?Trimakasih mba✔✔✔Buktikan dengan karya, mb.Keluarga HS bebas menggunakan bantuan pihak eksternal.Mba Siska: menanggapi pertanyaan no 1⃣1⃣menurut saya pribadi ga ada masalah kalau kita memasukkan anak ke sekolah formal dan di rumah kita menambahkan kurikulum yang tidak di pelajari di sekolah tersebut sepanjang anak nya enjoy menjalani tanpa beban.insyaaAllah per tahun ajaran baru ini pun kami sepakat ada anak yang tidak full HS / HE lagi tetapi di kombi seperti di atas karena kemauan mereka sendiri.Mba Amanda : mohon maaf kalau saya belum mengerti mengenai konsep HS ini, apakah HS ini bisa mengajarkan 1 proyek kepada semua anak dengan rentang usia berbeda atau pada masing2 anak berbeda dan bagaimana memberikan pemahaman yang sama mbak?✔✔✔Contoh proyek bersih-bersih di keluarga kami. Seluruh anggota keluarga terlibat. Si sulung jadi leader proyek, menyusun apa saja yg perlu dibersihkan, kemudian menyerahkan kepada anggota untuk memilih tugas yg mana. Si tengah yg suka menata ruangan, memilih untuk merapikan ruang keluarga dan ruang tamu, si bungsu yg masih 4 th menjadi manager mainan,  mengembalikan mainan ke tempatnya, ayahnya jadi manager kebun dibantu oleh si sulung, saya jadi manager dapur dan laundry. Si sulung sebagai leader harus memastikan setiap anggota menjalankan tugasnya masing-masing.Mba lidya - IIP Kaltim :kalau HS saya pribadi belum bisa  memberikan 100% ,tapi sepintas tadi saya baca sepanjang anak tidak dicederai di sekolah formal tidak masalah kan ya? apakah dengan kita memilih sekolah yang konsepnya mirip HS walaupun tidak ada lembaga yang bs dkategorikan HS, anak2 akan aman sampai kedepannya?maaf mbak sebagai contoh, saya naksir sekali dengan sekolah disurabaya seperti sekolah alam insan mulia, bagaimana?✔✔✔Benar mb Lidya.Jika sekolah bisa menjadikan fitrah anak tumbuh paripurna maka silakan memilih sekolah sebagai alat mencapai tujuan pendidikan.Hanya orangtua dan anak itu sendiri yang paham apakah pilihan itu cocok atau tidak untuknya.Silakan ajak anak melihat proses pembelajaran dibeberapa sekolah (maksimal 5) yg kita lihat sekiranya cocok dengan anak dan value keluarga kita Biarkan anak memutuskan akan sekolah di manaTataplah "tumbuh bersama" anak-anak.( Mba Dinari )

QA sesi 2
Tanya Jawab 

1⃣���� Pipit Firtrianti_IIP Garut:Apa perbedaan homescoling dengan home education?Jika anak sudah masuk ke lembaga sekolah biasa bagaimana cara menerapkan homescholing di rumah agar orang tua juga berperan aktif dalam pendidikan anak?���� Mba Dinari LutfianiJawaban:Pendapat tentang makna HS dan HE bagi tiap orang berbeda-beda.➖Ada yg menganggap Home Education hanya tentang pengasuhan, jadi orangtua berusaha menjalankan tugas mendidik fitrah anak di rumah tapi tetap menyekolahkan anak di lembaga atau sekolah formal.➖Ada yg menganggap Homeschooling hanya sekedar memindahkan proses belajar mengajar di sekolah ke rumah, jadi lebih nyaman menyebut kegiatan pendidikan rumahnya dengan Home education.➡ menurut saya, baik Homeschooling atau Home Education memiliki makna yg sama, yaitu orangtua mengambil peran pertama dan utama dalam proses pengasuhan, pendidikan dan pengembangan fitrah anak-anaknya dimana orang tua melibatkan diri mulai proses perencanaan, proses belajar sampai proses evaluasi.Silakan memilih, lebih sreg dengan pengertian yang mana.Yang perlu dilakukan orangtua hanyalah belajar untuk terus memperbaiki diri. Karena anak-anak meneladani orangtua.✅2⃣���� Siti Abadiyah_Tangerang Banten.Bagaimana memenej waktu homescooling bagi orang tua yang bekerja paruh waktu? Bagaimana mendapatkan akses sertifikasi untuk anak  HS?����Mba Dinari LutfianiJawaban:Mulai dengan membuat prioritas,❗urgent-important ➡ harus segera dikerjakan❗not urgent-important ➡ tetap dikerjakan tapi bisa ditunda dan dicicil pengerjaannya❗urgent-not important ➡ segera dikerjakan tapi boleh di delegasikan.❗not urgent- not  important ➡ tinggalkanKemudian buat pembagian waktu. Letakkan poin pertama dahulu. Jika ada sisa waktu, masukkan poin kedua di sisa waktu yg ada.Untuk sertifikasi, sesuaikan dengan bidang yg akan ditekuni oleh anak. Sekarang banyak lembaga yg mengeluarkan beragam sertifikasi. Anak tinggal mendaftar, mengikuti beberapa kelas, kemudian ujian kompetensi untuk memperoleh sertifikat profesi.Sekarang juga banyak universitas di beberapa negara di dunia yg membuka program kursus online. Proses mendaftarnya mudah tak berbelit-belit. Anak bisa mendapatkan sertifikat juga di sini.Silakan browsing untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.✅3⃣����Monica,ibu dr elena berumur 5thn,domisili d denpasar-bali.Elena br saja saya undurkan diri dr TK A tmpt dia sekolah dikarenakan saya tdk melihat ada minat dan ketertarikan dia bersekolah,seperti malu2 sekolah,akademis nya yg didapat pun kebanyakan krn diajarkan d rmh oleh saya maupun neneknya.Saya sendiri tdk punya pengalaman HS,cm mendengar sedikit dr teman,yang mw saya tanyakan:1.apabila dlm setahun ini elena homsechooling hingga nnti saat nya masuk SD,apakah efektif? Jd yg akan saya ajarkan lbh bnyk membaca,tulis dan hitung mengingat syarat masuk SD hrs sdh bs hal2 d atas2.bila ingin mengikuti kurikulum nasional,dmn saya bs mengadaptasi kurikulum tsb?dan apakah ada panduan khusus utk referensi buku yang hrs saya gunakan?Terimakasih banyak atas kesempatannya...���� Mba Dinari LutfianiJawaban:1. Terkait calistung pada anak usia di bawah 7 th, silakan mb Monica research, ❗apakah anak usia dibawah 7th perlu digegas untuk bisa calistung ?❗resiko apa yg di dapat anak nantinya jika kita menggegas untuk bisa calistung di usia dini ?❗bagaimana proses yg perlu dilalui anak agar nantinya siap saat harus belajar calistung ?Silakan browsing ��Sekarang banyak sekali artikel terkait hal ini yang kalau dijelaskan bakal panjang dan lebar ☺Untuk saya pribadi, usia dibawah 7th adalah masa untuk bermain, dimana melalui beragam permainan anak-anak akan merangsang seluruh indranya. Selain itu, hal yg paling penting adalah di usia ini adalah waktu untuk meningkatkan bonding antara anak - orangtua juga untuk menguatkan karakternya.Dan lagi, untuk masuk SD tidak ada syarat untuk harus bisa calistung. Jika ada SD yg menetapkan syarat tersebut, silakan laporkan ke Diknas.2. Untuk kurikulum nasional, bahan ajar dan soal-soal latihan bisa diunduh dan dicetak gratis di sini https://belajar.kemdikbud.go.id/Dashboard/✅4⃣���� Annisa Prihatini. B_ Bekasi.1. Sejak kapan HS bisa diterapkan di rumah? Apakah ada batasan usia maksimal HS? Mengingat kemampuan orang tua di rumah tidak semua bergelar sarjana.2. mba Dinari, maaf sebelumnya. Sy benar2 masih blank ttg penerapan HS. Untuk kurikulum akademis, apakah tetap ada semacam SOP seperti kurikulum yg diterapkan di sekolah-sekolah umum? Contohnya, kelas sekian anak harus mahir materi tetentu.Terima kasih������Mba Dinari LutfianiJawaban:1. Sejak usia dini HS sudah bisa diterapkan di rumah, tentunya proses belajar menyesuaikan usia dan fitrah masing-masing anak.tidak ada batasan usia untuk HS. Yg penting dipahami adalah bahwa setiap anak itu lahir sebagai seorang pembelajar. Maka tugas orangtua hanyalah mendampingi anak agar fitrah ini tidak rusak tapi justru tumbuh dan berkembang sehingga anak mampu menjadi pembelajar mandiri. Saat anak mampu belajar mandiri, orangtua tidak perlu repot lagi mengajari, justru kita nantinya bakal terengah-engah belajar dari anak karena kemampuannya melesat jauh melampaui angan-angan kita.Dan tidak perlu gelar sarjana untuk mendampingi anak menjadi pembelajar sejati. Cukup kesabaran, keikhlasan dan perhatian penuh saja yg perlu kita limpahkan ke anak.2. Dalam HS tidak ada standarisasi. Tiap anak hebat dibidangnya masing-masing.  Si A yg usia 10 th boleh hebat matematika setingkat SMA tapi tidak masalah jika kurang di kemampuan bahasanya. Si B bisa jadi jago masak di usia 7 th, tapi kurang di bidang matematika. Semua sah-sah saja dalam HS.Yang penting anak dan orangtua bahagia melalui setiap prosesnya.✅5⃣��Lala - IIP Bogor.Dari sejak lama saya ingin menghomeschoolingkan anak anak saya. Tapi ragu karena saya bukan tipe yang penyabar saat mendampingi anak belajar. Sekarang anak sdh SMP, dan saya merasa masih ada PR dalam pembentukan karakternya, krn beberapa kesalah sy dulu waktu mereka kecil. Apakah masih memungkinkan jika memulai HS saat anak masuk usia SMA. Dan apakah universitas di Indonesia sudah bisa menerima Murid HS menjadi mahasiswanya. Trimakasih����Mba Dinari LutfianiJawaban:1. Jika mb Lala sudah paham kekurangan diri adalah kurangnya kesabaran, maka sekaranglah saatnya belajar dan berlatih untuk menjadi lebih sabar.Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai perubahan menjadi lebih baik, yang ada hanyalah mau atau tidak untuk memulai perubahan ini.HS bisa dimulai kapan saja.Ijazah paket kesetaraan diakui oleh negara. Oleh sebab itu semua universitas di Indonesia harus bisa menerimanya. Apalagi sekarang  penerimaan mahasiswa baru melewati proses Ujian masuk bukan hanya berdasarkan nilai dalam lembar ijazah.✅6⃣���� Ai Siti Sobariah_IIP garut.pertanyaa : boleh dijelaskan utk memulai HS kurikulum sprti apa yg bisa diterapkan, dg contoh usia, buku apa, kegiatan sprti apa yg aplikatif..jzkillah khoir���������� Mba Dinari LutfianiJawaban:✅Mb Ai bisa mencontoh framework operasional pendidikan berbasis fitrah dan akhlaq di atas. Untuk detailnya tinggal disesuaikan dengan masing-masing anakContoh :untuk anak usia dibawah 7th.Kegiatan: bermain di Alam. Anak-anak di ajak berjalan-jalan keliling taman dan diminta untuk memungut benda menarik yg mereka temui di jalan.Sampai di rumah, sembari beristirahat, anak di ajak berdiskusi.Mulai dari mengenalkan Penciptanya dan belajar mensyukuri ciptaanNya ➡fitrah iman.Menunjukkan benda menarik yg dibawa oleh anak dan melatihnya bertanya tentang benda tersebut ➡fitrah belajarSilakan mb Ai berkreasi dengan aktivitas lainnya.✅7⃣���� Wiwin_samarinda1.apakah anak tetap boleh nonton TV dengan chanel umum atau hanya movie edukasi?2.bagaimana mengatur jadwal HS sehari hari ke anak? Apakah ada jam khusus sekolah(belajar) kemudian kalau sudah selesai boleh bebas aktifitas atau dalam 24jam belajar dan aktifitas berjalan kapan aja?3.Bagaimana mengatur emosional saya sebagai ibu dalam mengajari anak yang kadang mood anak tiba2 malas belajar?���� Mba Dinari LutfianiJawaban:✅1. Sesuaikan dengan value yg di anut oleh masing-masing keluarga.Di keluarga kami sendiri tidak ada TV.2. Dalam HS belajarnya fleksibel dan setiap keluarga berbeda-beda. Ada yg menetapkan jadwal khusus dengan tema tertentu. Ada juga yg membebaskan anak belajar di waktu yg diinginkannya.Yang perlu di catat adalah, dalam HS setiap detik waktu yg berlalu dengan beragam aktivitasnya adalah sebuah proses belajar.3. Ubah mindset kita bahwa belajar itu adalah duduk tenang sambil membaca atau mencatat.Dalam bermain anak-anak bisa belajar banyak hal. Bahkan dalam setiap kegagalan yg dihadapi oleh orangtua dan anak terdapat banyak pengajaran. Tinggal kita yg mau memaknainya atau tidak.✅8⃣���� Ismi_Ngawi:1. Klu HS murni berarti gk ada raport,  kita cari kurikulum sendiri,  materi sendiri bs lewat internet, Cari buku,  ato tanya 2 yg anaknya sekolah di lembaga. Ikut ujian kejar paket buat dapetin ijazah benarkah begitu?2. Klu ikut lembaga HS seperti maaf HS generasi juara stiap bln spp 350 utk SD. dpt buku panduan. Sekolah scr on line,  dpt raport. Dn dpt ijazah.  Tdk perlu mikir nyari 2 literatur dn kurikulum3. Saya masih bingung sbaikx ikut alternatif no,1 ato no 2.4. Klu ada tlg sy dikasih info lembaga HS yg spp nya lebih murah. Jazakhmullah...����Mba Dinari LutfianiJawaban:✅1. Dalam HS apa saja bisa. Mau pakai rapot seperti di sekolah, boleh. Pakai portofolio juga Ok.Mau pakai Kurikulum Nasional, silakan. Susun kurikulum sendiri lebih bagus. Mau ikut Ujian paket kesetaraan, boleh. Tidak ikut Ujian juga tak mengapa.Kembali lagi pada kebutuhan anak dan value keluarga.2. Lembaga adalah lembaga. HS adalah keluarga.Tidak benar secara hukum jika ada lembaga yg memanfaatkan "branding HS" dalam promosinya untuk mengambil keuntungan.3. Kenapa bingung mb. Tanyakan lagi pada diri apa untung ruginya menitipkan anak di lembaga atau mendidiknya sendiri. Nanti akan ketemu jawabannya koq ��4. Tentunya tidak ada lembaga yg menggunakan "branding HS" menetapkan biaya murah. Dari awal branding saja sudah salah. Pastinya yg jadi tujuan adalah keuntungan sebesar-besarnya. ��✅9⃣���� Binga_SalatigaDi awal disebutkan bahwa kelebihan kurikulum HS bisa "customized" sesuai potensi anak. Lalu, ternyata HS juga memiliki garis besar kurikulum pembelajaran sendiri.1. Apakah kedua hal ini saling mendukung satu sama lain?2. Apakah orang tua perlu mengacu ke garis besar kurikulum pembelajaran HS ketika menyusun kurikulum yg customized utk anaknya?3.Apa ada akses bagi orang tua utk mengetahui garis besar kurikulum pembelajaran HS?4. Apakah dari akses tersebut orang tua jg bisa memperoleh info ttg indikator pencapaian utk tiap kemampuan yg perlu dicapai oleh anak?Terima kasih...����Mba Dinari LutfianiJawaban:✅1. Garis besar kurikulum itu hanya untuk membantu para praktisi HS menyusun customized curriculum bagi anak-anaknya, jadi orangtua punya gambaran tahapan seperti apa yg harus dilalui anak.2. Apakah harus seperti itu ? Tentu tidak. Setiap keluarga bisa memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan anak. 3. Silakan browsing untuk melihat gambaran beragam customized curriculum HS. Ada banyak web yg menyediakan hal tersebut.4. Ada yg menyediakan, ada juga yg tidak.✅1⃣0⃣����Hanna R.N._SurabayaApakah KONSEP harus dibuat sebelum memulai HS, ataukah bs sambil jalan??Bolehkah dijabarkan mendetail, daftar pertanyaan sbg dasar pembuatan konsep HS yang bisa kita buat masing2 keluarga???����Mba Dinari LutfianiJawaban:✅Jika Konsep yg dimaksud adalah model pembelajaran, maka bisa dilakukan sambil jalan. Dalam prosesnya nanti akan ada trial and error sampai ditemukan model pembelajaran yg paling cocok bagi keluarga.✅1⃣1⃣���� Feli Mulyani_Bontang1. Bagaimana menghadapi keluarga dan lingkungan yang kurang mendukung kita menjalankan HS?2. Bagaimana menyatuka visi antara orangtua da anak saat akan menjalankan HS?���� Mba Dinari LutfianiJawaban:1. Biasanya kami jelaskan alasan kami memilih HS, kemudian menjelaskan bahwa proses belajar itu tidak hanya sekolah formal, kami juga jelaskan bahwa HS seperti juga sekolah hanyalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tidak ada hal yang perlu diperdebatkan tentang hal ini. Kami hanya menjawab pada orang yang benar-benar bertanya bukan pada yg mempertanyakan. Pada orang yang mempertanyakan biasanya hanya kami beri seyuman paling manis ☺☺2. Masih ingat mantra yg biasa disebutkan dalam perkuliahan di IIP ?"perbanyak ngobrol, main dan beraktifitas bersama"✅1⃣2⃣���� Siska lestari siregar_ Medan (Sumatera Utara)Saya ibu satu orang puteri. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana jenjang kelas untuk HS ini (tingkatan kelas) dan bagaimana penerapan kurikulum pelajaran tsb untuk HS ?���� Mba Dinari LutfianiJawaban:Untuk yg menggunakan kurikulum nasional tentunya jenjang kelas disesuaikan seperti sekolah pada umumnya. Akan tetapi yg tidak menggunakan kurikulum nasional tidak menggunakan jenjang kelas. Evaluasi dilakukan berdasarkan kompetensi sesuai kekuatan masing-masing anak. Dan prosesnya pun berbeda-beda di setiap keluarga.✅1⃣3⃣���� Dwi Yunita_Tangerang Selatan.Dalam menjalankan HS kadang orgtua mengalami bad mood, jenuh, stuck, dsb. Adakah tips dan trik bagi org tua (praktisi HS) agar selalu bersemangat/termotivasi dalam menjalankan HS?���� Mba Dinari LutfianiJawaban:Kembali lagi pada niat mb. Apa tujuan kita meng-HS-kan anak. Jika dalam prosesnya ada bad mood, Jenuh, dan tidak menyenangkan maka perlu di evaluasi kembali, barangkali ada proses yg offtrack.✅1⃣4⃣���� Fitri atau Namira_Ponorogo(iip pacitan raya)Apakah ada contoh silabus untuk masing masing kurikulum yang bisa dijadikan acuan atau inspirasi?���� Mba Dinari LutfianiJawaban:Silakan browsing mb. Ada banyak sekali model silabus dalam HS.✅1⃣5⃣���� Annisa_Gontor PonorogoSaya baru akan memulai homeschooling untuk anak sy yg kls 2 SD, sblmnya anak sy sempat sekolah formal. Langkah apa yg hrs saya lakukan ketika anak sy homeschooling (mengatasi masa peralihannya)?����Mba Dinari LutfianiJawaban:Ada proses yg namanya deschooling, yaitu proses transisi dari sekolah ➡HS.Karena HS berbeda dengan sekolah. Dalam HS tidak ada "pemaksa eksternal". Tidak ada keharusan-keharusan sistematis seperti di sekolah.Proses ini Waktunya berbeda-beda pada setiap anak.Mengutip dari web rumahinspirasi.comKegiatannya selama masa deschooling antara lain:�� membaca buku, baik sendiri maupun read-aloud��mengobrol tentang apa saja, misalnya tentang game, hobi yang disukai anak, dan kegiatan-kegiatan di keluarga.��jalan-jalan (field trip)��ikut klub atau les, misalnya: berenang, atletik, astronomi, robotik, bahasa Inggris, dan sebagainya.��membuat prakarya atau proyek seni��melakukan percobaan-percobaan sains��belajar keterampilan baru: menjahit, menggambar, programming, dan lain-lain��berkebun, memasak, fotografimenulis, membuat buku, blogging��bermain bersama teman��menjadi relawan kegiatan sosial��main game��dan yang terutama adalah mengobrol tentang apa yang disukai anak dan menjadi rencana bersama di masa datang.✅1⃣6⃣���� Lukei_DepokJika di perjalanan ternyata kita sebagai orang tua tidak mampu melakukan homeschooling karena satu dan lain hal, apa backup plan yang harus disiapkan untuk anak yang sudah terlanjur homeschooling?����Mba Dinari LutfianiJawaban:Orangtua harus Menyiapkan *exit procedure*.Contoh, dalam keluarga kami, tentang exit procedure ini sudah kami komunikasikan ke anak-anak. Jika suatu saat pilihan mereka berubah, misalnya ingin bersekolah formal, kami sudah menjelaskan bahwa dalam prosesnya mereka harus menempuh Ujian kesetaraan dengan berbagai persyaratannya (kami juga menjelaskan syarat dan ketentuannya).Dalam hal kejadian luar biasa (kedua orang tua meninggal dunia atau hal yg menjadikan orangtua tidak lagi mampu memikul tanggung jawab pendidikan anak), karena saya adalah anak sulung dan adik-adik saya belum memiliki core value yang selaras dengan core value keluarga kami, maka untuk hak pengasuhan anak-anak tetap jadi tanggung jawab keluarga besar kami tetapi untuk peran mendidik telah kami titipkan kepada sahabat kami yg sejalan dengan kami.✅1⃣7⃣���� Sarah _ Paser Kalimantan Timur.Sdh baca 2x tp kok blm paham2 yak. Pertanyaanya jd di homeschool itu apakh anak belajar spt pelajaran sekolah umum nya(mis.usia SD maka pelajarannya sama spt anak seusianya hy tempat y di rumah?Kmd pada sekolah umumnya untk menuju jenjang pend.lebih tinggi diperlukan ijazah,trus bgimana dg anak HS melanjutkan ke jenjang yg lebih tinggi.���� Mba Dinari LutfianiJawaban:Dalam HS kata kuncinya adalah "boleh" selama tidak melanggar peraturan.Jadi, jika ingin menggunakan materi belajar di sekolah, boleh. Jika ingin membuat materi belajar sendiri juga boleh.Belajarnya juga boleh di mana saja, di dalam atau di luar rumah.Jika ingin memiliki ijazah nasional maka tinggal mendaftar ke SKB atau PKBM untuk mengikuti ujian paket kesetaraan.✅1⃣8⃣����Ratri_Samarinda.Yg ingin sy tnyakan klo misal ingin hs d tngkat SD sj lalu selnjutx mlanjutkn ke skolah formal bsa atw tdk? Bgmn ijasah yg akn digunakan utk dftr ke sekolah formal tsb? Apkh hrs ikut ujian kesetaraan dlu?Trs utk kurulikulum hs apakah kita sndri sbg orng tua yg memilih atw bgmn?Trs kita bsa tau isi dr smua kurikulum tsb d mn?Klo mau hs apkah kita perlu melaporkan ke lmbaga ataw dinas terkait spt dinas pendidikan atw tdk?����Mba Dinari LutfianiJawaban:Sistem pendidikan di Indonesia adalah multi exit dan multi entri, setiap anak berhak mengganti pilihan dari pendidikan formal ➡nonformal, formal➡informal, informal➡nonformal,  informal ➡formal➡informal,  dan seterusnya. Tentunya sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.Misalnya jika anak ingin melanjutkan ke sekolah umum maka harus memiliki ijazah paket kesetaraan.Untuk kurikulum, sesuaikan dengan kebutuhan anak. Banyak contoh kurikulum HS di berbagai situs.Hendaknya setiap Homeschooler mendaftarkan diri pada dinas terkait agar terdata oleh negara dan anak-anak tidak dianggap putus sekolah. Karena negara mendapatkan tekanan terkait tingkat pendidikan anak-anak di Indonesia.✅1⃣9⃣����Retno _ Kendari.Bagaimana level disiplin pada awal2 penerapan HS, boleh flexible atau harus ketat ?���� Mba Dinari LutfianiJawaban:Disiplin dalam HS itu harus menyenangkan. Untuk membuatnya menyenangkan maka silakan berkreasi sebebas mungkin.Seperti apa level disiplinnya ? Kembali lagi pada value masing-masing keluarga.✅2⃣0⃣���� Bunda Binga_Salatiga.Bagaimana sebaiknya orang tua menilai pencapaian anak HS? Apakah penilaian yg sifatnya kualitatif lebih dianjurkan utk anak HS?����Mba Dinari LutfianiJawaban:Penilaian dalam pencapaian anak pada tiap keluarga berbeda-beda.Tergantung pada hasil yg ingin dicapai oleh masing-masing keluarga.✅ 2⃣1⃣����Aan s putri _ Bali.pertanyaannya :1. saya ingin mengarahkan anak saya fokus untuk menjadi hafidz quran, bagaimana sebaiknya cara HS yang tepat.. apakah fokus pada hafalan saya atau untuk bidang lain seperti baca tulis juga diajarkan ??2. bagaimana langkah awal memulai HS untuk kami yang baru ingin memulai HS , karena saya ingin menerapkan HS tp masih buta arah harus memulai darimana.���� Mba Dinari LutfianiJawaban:1. Tumbuhkan saja kecintaannya dahulu pada Al-quran.*Cinta* ➡ *Iman* ➡ *Adab* ➡ *Ilmu* ➡ *Amal*2. Mulailah dengan mencari informasi yg tepat. Bisa dengan membaca buku-buku tentang pendidikan atau ngobrol langsung dengan para praktisi HS. Kita menjadi tidak PD untuk menjalankan HS karena adanya paradigma lama tentang pendidikan yg masih membelenggu pikiran kita.Untuk mengatasi rasa minder atau tidak PD,  maka yakinilah bahwa HS itu sebenarnya adalah proses kita bertumbuh bersama anak. Tidak perlu serba tahu untuk mendampingi anak dalam proses belajarnya di rumah. Cukup kita belajar sabar, ikhlas, dan berikan perhatian kita dalam mendampingi mereka menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya.Saat ini menjalankan HS sudah jauh lebih mudah. Beragam informasi, materi belajar bisa dengan mudah kita dapatkan. Maka jangan pernah lelah untuk terus mencari.Mb bisa membaca buku tentang HS karya mas Aar Sumardiono dari Rumah Inspirasi buka web rumahinspirasi.comBuku FBE karya ustadz Hary Santosa, buku Cinta yg Berpikir karya Ellen Kristi dan masih banyak Referensi lainnya.✅2⃣2⃣���� Yurrike_DKI JAKARTAPertanyaan:Apakah ada subsitusi khusus yang dibuat untuk  kesiapan dalam mengambil pilihan Homescholling?����Mba Dinari LutfianiJawaban:Pahami saja bahwa HS adalah sebuah cara untuk kita "tumbuh bersama"  anak. _Raising children is raising ourselves_Tidak ada persiapan khusus selain kesiapan diri orang tua untuk mau lebih sabar, ikhlas dan terus belajar✅ 2⃣3⃣�� Ami _ Samarinda1. Dengan HS, Berarti setiap anak kurikulumnya bisa berbeda ya? Sesuai dengan fitrah dan kemampuan anak?2. Darimana saja referensi kurikulum HS dapat diadopsi? Adakah referensi yang dapat dipelajari?2. Saya pernah dengar bahwa memilih sekolah/HS pun perlu melibatkan pendapat anak. Bagaimana cara mengenalkan anak tentang konsep HS? Agar pada usia sekolahnya dia bisa memilih jalur mana yang akan dia jalankan?Terimakasih ������Mba Dinari LutfianiJawab:1. Benar mb.2. Bisa mencontoh framework operasional Fitrah Based Education di atas atau bisa browsing di internet. Ada beragam situs yg menyediakan contoh kurikulum pembelajaran HS.3. Benar mb.Caranya dengan banyak ngobrol, main dan beraktifitas bersama.✅ 2⃣4⃣����Hanny Hardianty_Tasikmalaya (IIP Garut)1. Mungkinkah dalam satu kurikulum HS, kita mengambil semua jalur (akademis, profesional, dan enterpreneur) sekaligus?2. Jika kita melaksanakan HS jalur akademis demi meneruskan pendidikan formal di Universitas di Indonesia, kita membutuhkan ijazah yang diperoleh dengan cara mengikuti ujian persamaan (paket C). Sebagaimana kita ketahui, paket C tidak jauh berbeda dengan UN. Apakah itu artinya orang tua atau pendidik HS harus menguasai semua bidang ilmu yang diujiankan agar anak bisa mengejarnya di paket C? Mohon dijelaskan.���� Mba Dinari LutfianiJawab:1. Mungkin saja mb. Selama anak bahagia dengan pilihan tersebut, kenapa tidak.Jadi silakan dilihat lagi kondisi masing-masing.2. Orangtua tidak perlu menjadi "si serba bisa" dalam HS.Jika anak mendaftar di SKB atau PKBM, maka anak akan mendapat materi belajar terkait Ujian paket kesetaraan. Orangtua juga boleh mendaftarkan ke bimbel menjelang Ujian. Jadi silakan mencari pilihan mana yg nyaman bagi anak dan orangtua.✅ 2⃣5⃣����NiaAnnisa_JakartaPertanyaan saya ada 2 mb:1. Sebelum memulai homeschooling, apakah ada berkas2 khusus yg dipersiapkan seperti perijinan khusus dari dinas pendidikan? Atau langsung dimulai saja tanpa ada dokumen2 apapun?2. Jika kita lemah dalam salah satu mapel, misal Fisika karena kurang berbakat hitung2an, apa yg harus kita lakukan? Terima kasih.. �������� Mba Dinari LutfianiJawaban:1. Tidak ada mb. Silakan mulai saat siap. Berkas-berkas terkait pendataan ke dinas, bisa dipersiapkan sambil jalan.2. Silakan mencari bantuan pihak luar. Bisa membuat Club belajar untuk anak-anak sesama HS dan mencari guru. Mengikutkan anak les. Atau memanggil guru les privat. Silakan pilih mana yg nyaman untuk keluarga.✅2⃣6⃣���� Ria _ KalbarMba Dinari, bagaimana menjalankan hs untuk wilayah yang belum familiar dg HS dan belum ada komunitasnya. Lalu adakah tips dari mba Dinari bagaimana menginisiasi komunitas HS ?Terima kasih mba���� Mba Dinari LutfianiJawab:Jalani saja dulu mb.Saya dulu juga memulainya sendiri. Hanya ada 1 orang sahabat homeschooler yg saya kenal di kota ini.Kemudian sering berkegiatan bersama dan di share ke media sosial.Akhirnya ada beberapa teman yg mulai tertarik. Dari yg kecil inilah kami memulai Komunitas sampai akhirnya bisa seperti sekarang.Intinya,  perbanyak aktivitas menarik. Karena HS itu menyenangkan.✅ 2⃣7⃣����Annisa_JakartaUntuk mau mengambil jalur akademis, misalkan mau mengambil ujian, bisa ujian dimana? Apakah ikut sekolah yg kebetulan sedang melaksanakan ujian?4. Jika materi selama satu tahun bisa dihabiskan lebih cepat, bisakah ikut ujian lbh cepat jg? Jadi misalkan materi sampai SMA sudah habis saat anak usia SMP, bisakah ikut ujian dan masuk perguruan tinggi melewati jalur umum?Terimakasih.. ������Mba Dinari LutfianiJawaban:3. Ujian bisa dilakukan di SKB (milik pemerintah) atau PKBM (milik swasta)4. Dahulu HS bisa melakukan akselerasi. Tapi  peraturan yg sekarang mengharuskan pendaftaran minimal usia 12th untuk paket *A* dan  ada jeda 3th antara paket *A->B* atau *B->C*.Bisa ikut ujian Perguruan Tinggi lewat jalur umum.✅ 2⃣8⃣���� Kaulina_Jogja1. yg sy dengar selama in kelemahan HS itu ad pada minimnya anak mndapatkan interaksi sosial yg sangat mudah ank butuhkan jika bersekolah formal.. lalu bgmana cr kita mngatasi kelemahan tersebut?���� Mba Dinari LutfianiJawaban:Apakah proses sosialisasi hanya terjadi di sekolah ?Apakah bersosialisasi harus dengan yang sebaya ?Jagat Raya adalah ruang kelas bagi para homeschooler, maka proses sosialisasinya seluas ruang itu. Pun tidak ada batasan usia dalam proses tersebut. Anak-anak bisa berteman dengan siapa saja dengan jenjang usia yg berbeda.Yang  penting lagi, tidak ada jenjang senioritas dalam HS.✅ 2⃣9⃣���� Fierza_Jakarta. Pertanyaan saya:Mengenai Homeschooling, untuk melaksanakan homeschooling adakah semacam training untuk orang tua yang ingin melakukan homeschooling untuk anak2nya? Bagaimana dengan orang tua yang minim informasi atau cara mengajarkan anaknya dengan sistem homeschooling? Karena kadang info yang kita dapat tanpa adanya tutor terasa kurang.Dan apa syarat yang harus orang tua miliki jika ingin menghomeschooling kan anaknya?Terima kasih banyak ibu ��������Mba Dinari LutfianiJawaban:Tidak ada training khusus mb. Tapi banyak Workshop,  seminar, atau webinar terkait HS. Materi-materi tentang HS juga bertebaran di jagat maya. Buku-buku tentang HS juga banyak yg telah terbit.Syarat bagi orang tua hanyalah mau belajar untuk jadi lebih baik lagi. Baik dalam hal kesabaran, keikhlasan, disiplin dan konsistensi.Kembali lagi, HS sebagian besarnya adalah parenting.✅3⃣0⃣����Ratih_balikpapanSy selalu berfikiran jika mau HS Artinya orang tua harus punya waktu banyak untuk fokus trhdp HS.Bagaimana menyikapi / persiapan untuk kita memulai HS Sementara sy jg harus ttp mengerjakan semua pekerjaan rumah..ayah bekerja di site, belum lagi juga sy mengurus 2 adik nya yg masih kecil2..Sya jd berfikir dan merasa tidak mampu krn keterbatasan waktu...Mohon pencerahannya y mb dinari...����Mba Dinari LutfianiJawaban:Silakan lihat jawaban No 2⃣ ya mb.Belajar untuk mengatur waktu sebaik-baiknya. Si kakak juga bisa belajar menemani adiknya bermain. Karena dalam HS anak-anak belajar dalam keseharian. Sembari membantu ibu menyapu, anak bisa belajar mengukur ruangan, berapa kecepatannya menyapu, kenapa ruangan harus di sapu dll.HS itu belajar apa saja, kapan saja, dimana saja dan bagaimana pun keadaannya.✅3⃣1⃣���� Ratna_JogjaAssalamualaikum mbak..Ikut bertanya..Dalam menjalani kegiatan sehari2 ber HS adakah suatu saat ada kebosanan, kejenuhan atau bingung mau apa lagi?Jika iya, apa yang mb dinari lakukan?Terimakasih����Mba Dinari LutfianiJawaban:Pernah dong ��Tapi evaluasi lagi, kenapa bisa Jenuh, galau dan bingung.Mulai kembali dengan perbaiki niat. Biasanya saya minta waktu menyendiri pada suami dan menitipkan anak-anak pada beliau.Saya manfaatkan waktu untuk introspeksi. Barangkali ada cara saya yg salah sampai muncul rasa tersebut. Kemudian mencari solusi atas hal tersebut.Saat kembali pada anak-anak, saya sudah punya semangat dan ide-ide baru.✅3⃣2⃣����Mira_MedanAssalamualaikum mba Dinari..Ketika berbicara soal homeschooling, saya selalu bersemangat, malah hal ini sudah saya cari tau saat saya mengandung anak pertama saya 4th yg lalu. Dan insya Allah beberapa bulan lagi anak saya akan memulai HS pertamanya dikelas online.Hanya saja, saat ini tiba-tiba banyak sekali muncul perasaan, khawatir, takut, cemas, ga percaya diri dan perasaan negatif lainnya. Karena ada muncul rasa _"takut saya tidak mampu"_ dan anak jadi korban..Bagaimana menyikapi perasaan ini? ������ Mba Dinari LutfianiJawaban:Pegang kata kunci dalam HS, yaitu orangtua *Tumbuh Bersama* anak. Dalam proses belajar dan tumbuh bersama ini wajar jika terkadang jatuh.Apakah seorang anak akan terus merangkak jika ia harus terus jatuh saat belajar berjalan ?Maka seperti itulah kita seharusnya sebagai insan pembelajar.Saat kita jatuh, maka jangan malah terpuruk, tapi segera bangkit dan coba lagi.Semangat ����✅3⃣3⃣����Susi-IIP JeparaDi homeschooling, apakah kedua orangtua harus bisa jadi fasilitator belajar anak? Bagaimana jika sang ayah sangat mendukung namun merasa belum sanggup ikut berperan aktif? Apakah tetap bisa?Terima kasih.���� Mba Dinari LutfianiJawaban:Tentu saja mb. Kedua orangtua adalah fasilitator anak.Apakah keduanya harus selalu hadir secara fisik ? Tidak harus. Saat anak masih balita, silakan berbagi peran. Semakin anak besar maka perlunya kehadiran fisik kita menjadi semakin berkurang karena anak makin mandiri belajar.✅3⃣4⃣���� Anita_Surabaya1. Bagaimana pendapat ibu jika tetap menyekolahkan anak disekolah formal dan home schooling disisa waktu yang ada.  Setelah sekolah formal?2. Anak2 usia SD adalah usia bermain, dan pastinya akan lebih suka bermain dengan teman sebayanya.  Karena kami tinggal di kompleks yg jarang teman sebayanya,  jika sy home schoolkan anak saya bukankah itu berpengaruh terhadap anaknya?3. Untuk hs berbasis akademis, sy msih belum paham step by step nya sampai bisa masuk perguruan tinggi.  Bisakah dijelaskan?����Mba Dinari LutfianiJawaban:1. Silakan saja mb.Tapi apakah anak-anak nyaman ?Kenapa tidak memilih salah satu saja ?2. Perlu dipahami lagi makna sosialisasi.Sosialisasi adalah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.Adapun tujuan dari sosialisasi adalah sebagai berikut:a. Sosialisasi dapat membantu individu dalam meraih identitas dirinya baik secara fisik maupun mental.b. Sosialisasi membantu setiap individu atau kelompok dalam mengembangkan potensi humanistiknya, dan juga membantu individu atau kelompok untuk belajar bagaimana hidup dalam masyarakat sosial.c. Sosialisasi memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk bertahan dalam kehidupan sosial.d. Sosialisasi membantu individu atau kelompok dalam mengimitasi kebudayaan.Dalam mencapai tujuan di atas, apakah hanya bisa dicapai lewat teman yg sebaya ? Bagaimana dengan kawan berbeda usia ?Apakah pertemanan sebaya hanya bisa diperoleh di sekolah ? Bagaimana dengan taman bermain, perpustakaan dll, apakah bisa bersosialisasi di tempat-tempat ini ?✅3⃣5⃣ ���� AmaliaSaya ibu dr 3 anak. Sejak anak kedua sebenarnya sudah ingin sekali memulai HS mengingat potensi dan bakat anak sudah terlihat. Namun saya kesulitan untuk membuat kurikulum.Yang ingin saya tanyakan:Bagaimana cara menyusun kurikulum yang sesuai dengan bakat anak?  Mungkin bisa dengan menyertakan contoh.. terimakasih..���� Mba Dinari LutfianiJawaban:Bisa lihat contoh framework operasional Fitrah Based Education di atas.Bisa juga dengan mulai membuat kurikulum sendiri.Atau mencari di beragam situs yg tersebar di dunia maya.