Hari ini ingin mengangkat kisah tentang si tengah. Di rumah kadang dipanggil adek atau neng Z. Bahkan si bungsu abang Z pun ikut memanggilnya "dek".
Hampir setengah hari rumah kami mengalami padam listrik. Menjelang tengah hari, trio Z merasa bosan di rumah dan mengajak ke rumah nenek. Akhirnya mama mulai memanaskan mesin mobil, anak-anak mulai masuk dan duduk manis, barang bawaan juga sudah dimuat di bagasi, barulah mama teringat akan hp yang belum dibawa. Alhasil mama bongkar-bongkar lagi mencari si hp. Karena tidak ketemu juga akhirnya mama bertanya pada trio Z "apa ada yang sudah bawakan hp mama?".
Kakak Z menjawab tidak.
"Ada yang liat hp mama?"
Tidak ada jawaban dari trio Z.
Sebisa mungkin intonasi mama atur agar tidak meninggi walaupun perasaan sudah mulai gusar. Mama ingat betul kalau hp ditaruh di lantai dan belum mama bawa ke mobil. Melihat kegusaran mama, Bapak mulai turun tangan membantu mencari. Hp tidak bisa di-call karena dalam kondisi tidak aktif. Bapak pun akhirnya bersuara "coba cari lagi di bagasi!" dengan intonasi ramah menawarkan solusi bukan intonasi perintah apalagi amarah karena mama memperlambat acara jalan kami. Setelah bagasi dibuka, tadaaa... hp teronggok diantara barang bawaan. Disinilah mama tersadar bahwa si tengah sedang usil sama mama. Hp dibawa oleh neng Z ke bagasi karena memang saat itu ia masuk lewat bagasi. Saat itu sempat ia berucap "hp mama sudah dibawa belum?" Seolah-olah memberi petunjuk mengenai hp ini. Entah apa maksud si tengah ini. Mungkin saja iseng dan ingin bercanda namun momen ini tepat sekali dimana mama harus menjalankan komunikasi produktif agar pesan mama dapat diterima oleh neng Z.
Setelah semua duduk manis di dalam mobil, mama membuka komunikasi dengan neng Z. Mama memberikan kritik atas keusilannya yang sempat membuat heboh.
Sambil menatap mata neng Z mama berkata: "dek, kenapa tadi waktu mama tanya apa hp mama ada yang bawa ke mobil adek diam saja?"
"Mama tidak suka sikap adek yang tidak berusaha memberikan solusi, padahal adek tahu dimana hp mama."
Neng Z terdiam, terlihat rasa penyesalan di matanya.
Dengan intonasi rendah mama kembali berucap : "mama tahu adek tidak berniat jahat apalagi bohong tapi jangan diulangi lagi ya dek".
Neng Z langsung mengulurkan tangan, tanda meminta maaf atas khilafnya tadi.
"Alhamdulillah, mama suka sikap adek yang berani mengakui kesalahan dan meminta maaf."
Mengritik dan memuji haruslah diikuti dengan penjelasan atas sikapnya yang kita kritik/puji. Jangan biarkan anak dikritisi/dipuji tanpa ia tahu apa yang menjadi fokus kritik/pujian.
Intensity of eye contact dan kaidah 7-38-55 menyumbang andil dalam komunikasi produktif dengan si tengah hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar