Senin, 25 Desember 2017

Jurnal Kemandirian

Ada banyak target dan pencapaian dari TrioZ saat menjalani tantangan game level#2 kelas bunsay#2.

Aha! Moment terjadi pada si bungsu bangZ. Abang yang sekarang berusia 2,5 tahun sudah mandiri memakai baju sendiri. Setelah mandi sudah bisa mengambil satu set pakaian yang kemudian dipakainya sendiri.
Abang mengalami kendala saat membuka baju. Sehingga ketika ingin mengganti bajunya ia selalu minta tolong mama. Abang sudah paham kapan ia harus mengganti bajunya. Biasanya saat basah karena terkena air.

Sementara itu, Aha! Moment kemandirian di keluarga kami baru mama sadari sekitar sebulan ini. Kami yang dulu menggunakan jasa PRT selama 3 tahun terbiasa menumpuk cucian piring hingga esok pagi, menunggu PRT datang yang akan mencucinya. Masa-masa awal tanpa PRT, kebiasaan ini tetap berjalan dan cukup mempengaruhi mood mama di pagi hari.
Perlahan tapi pasti jumlah cucian piring yang mengendap semalaman mulai berkurang. Hingga sekitar sebulan ini jumlah cucian piring yang mengendap semalaman adalah NOL :D
Baik Bapak maupun trioZ ketika selesai makan malam akan mencuci piring mereka sendiri. Tidak ada lagi tumpukan cucian piring yang memberi mood negatif di pagi hari ;)

Selasa, 12 Desember 2017

Cemilan Math Logic #2

CEMILAN RABU
Bunsay #2
Materi #6
Minggu ke-2

Matematika memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Banyak permainan dan aktifitas yang menunjang pelajaran matematika dan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka.

Apa saja kemampuan yang bisa ditingkatkan dengan aktifitas permainan matematika?

antara lain,

�� Kemampuan menggunakan dan meningkatkan kosakata

�� Kemampuan mengeksplorasi, mendiskusikan, dan memberikan pendapat dan menyampaikan ide-ide matematika

�� Kemampuan berfikir dan bekerja secara matematika

��  Membangun kepercayaan diri anak dalam pelajaran matematika

�� Meningkatkan konsentrasi

��  Meningkatkan perilaku positif terhadap matematika

��Mempelajari cara berdiskusi secara matematis dan bekerjasama untuk mencapai pemahaman.

�� Kemampuan mempelajari matematika dalam lingkungan yang mendukung daya pikir dan menyenangkan.

��Meningkatkan pemahaman

��Mengeksplorasi matematika dengan konsep yang bebas serta memperkuat dan meningkatkan kemampuan anak.

Sumber ; John Dabell. Aktifitas Permainan dan ide Praktis Belajar Matematika, Penerbit Erlangga : 2009.

Cemilan Math logic #3

Cemilan Rabu

Semua Anak Pintar Matematika

Matematika… bagaimana ananda mendengarnya? Senang atau justru yang menjadi sesuatu yang menakutkan jika mendengarnya. Matematika sering menjadi momok yang menakutkan pada ananda yang sudah bersekolah, tetapi kita tidak bisa menafikan karena matematika penting dalam perkembangan anak, terutama stimulasi kognitif.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak sudah memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini, bahkan sebelum usia sekolah (Gelman & Gallistel, 1978 ; sophian, 1996 ; wynn, 1995  dalam Butterworth,  1999).

Anak usia pra sekolah sudah dapat mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak dan sedikitnya benda,  mengenali perubahan dalam benda akibat benda tersebut ditambah atau dikurangi, dan mengurutkan besar kecilnya sejumlah benda sesuai dengan banyaknya benda tersebut. Selain itu mereka juga mengetahui pengetahuan dasar dibalik aktivitas menghitung walaupun terkadang belum dapat menyebutkan nama bilangan secara tepat.

Butterworth (1999) mengasumsikan bahwa setiap anak mempunyai modul angka (number module) bawaan sejak lahir secara biologis terletak di otak.

Prof. Harumi dalam buku Strategi Pembelajaran 2012 menyatakan bahwa setiap anak mempunyai peluang yang besar untuk menjadi pintar mengingat kesamaan fisiologis otak manusia tersebut. Anak mempunyai kapasitas bawaan sejak lahir (innate)  yang kurang lebih sama dalam mengenal angka yang sifatnya biologis, walaupun ada variasi individual.

Jika semua mempunyai faktor biologis sejak lahir, kenapa ada anak yang memiliki kemampuan matematika lebih tinggi dan sebagian yang lain harus berjuang keras memahaminya? Butterworth (1999) mengungkapkan bahwa selain ada kemungkinan perbedaan dalam hal kapasitas untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan (matematika) dan kemungkinan adanya perbedaan minat terhadap hal- hal apa saja yang dianggap menarik oleh anak. Faktor lain yang cukup berperan adalah faktor budaya di sekitar anak. Budaya disini berarti lingkungan terdekat anak seperti orang tua dan sekolah, yang mempengaruhi lingkungan yang mendukung berkembangnya kemampuan matematika anak.

Orang tua sebagai fasilitator menciptakan lingkungan yang menarik perhatian dan minat anak sehingga berkesan bagi anak. Rasa keinginantahuan anak ditimbulkan sehingga banyak berkomunikasi dengan orang tua sebagai fasilitator. Fasilitator dapat menggunakan berbagai macam metode dan media dalam mengenalkan matematika kepada anak.

Jangan lupa mengulang materi, kenapa?

Karena pada dasarnya mengenalkan konsep pada anak mulai dari yang sederhana dan anak bisa. Sehingga akan menumbuhkan motivasi bagi anak. Anak bisa mengerjakan secara mandiri dan menimbulkan kebanggaan pada diri anak sehingga tercipta “Aha! momen “. Selamat membersamai ananda menemukan Aha! momen bunda…. Salam ibu profesional.

Sumber:

Bunga Rampai Psikologi Perkembangan dari Anak sampai usia Lanjut. Prof. Dr. Singgih D. Gunarso.

Sumber Belajar dan Alat Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Anggani Sudono

Proses belajar di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.

Cemilan Math Logic #1

_Cemilan rabu ke-1_
_Materi#6_

*Stimulan agar anak mengenal dan menyukai Matematika*

�� *Usia 2-4 Tahun* ��

�� Memisahkan benda-benda berdasarkan warna dengan menghitung
�� Membandingkan ukuran benda-benda/mainan bisa dilakukan seperti memancing ikan
�� Memilah benda berdasarkan ukurannya.
�� Permainan mencari benda-benda yang ada di sekitar rumah, berdasarkan warna atau bentuk. Atur letak benda ditempat yang menyenangkan dan mudah.
�� Mengklasifikasikan dan memilah benda-benda yang besar atau kecil.
�� Memasangkan benda yang sama warna/bentuk.
��Menyusun gambar berdasarkan ukuran melalui permainan garis.
�� Menuangkan air/makanan sesuai ukuran
�� Memilah dan mencocokkan biji-bijian
�� Mrngelompokkan benda-benda yang lucu, bisa dibuat sendiri.

�� *Usia 4-6 Tahun* ��

�� Memilah kancing sesuai bentuk
�� Membandingkan berat benda-benda yang ada di sekitar dirumah.
�� Mengumpulkan benda-benda menarik seperti daun, bunga biji, ranting, rumput atau kelereng saat di taman /kebun. Selanjutnya dibuat grafik angka sederhana yang bernuansa lingkungan.
�� Memahami waktu dan mengenalkan hari dalam kegiatan sehari-hari. Misal kalau si anak sudah sekolah, seragam ini dipakai di hari...., adik kalau berangkat sekokah jam..., seharusnya mandi jam.... Dan sebagainya.
�� Permainan angka
Menghitung benda-benda yang ada di sekitar
�� menggambar bentuk dengan bahan alami seperti ditanah kemudian mencari benda yang mirip dengan bentuk tersebut.
�� Menulis angka atau huruf dipasir sambil bermain.
�� Mempelajari geometri dengan cara yang menyenangkan misal dengan menggambar yang mudah dan sederhana dipasir atau tanah.
�� Menimbang benda-benda disekitar, membedakan ringan dan berat.

�� *Usia 6-8 Tahun* ��

�� Menggambar angka
�� Mengukur benda
�� Menimbang benda
�� Permainan melempar dadu dengan keluarga misal ular tangga dan menyebutkan angka-angkanya.
�� Permainan mencari angka seperti permainan mencari harta karun.
�� Belajar bilangan genap dan ganjil dengan permainan, misal membuat kotak-kotak dilantai dan kita tuliskan angka kemudian lompat di bilangan ganjil atau genap.
�� Melempar bola ke lubang sambil berhitung.

�� *Usia 8-10 Tahun* ��

�� Memperkirakan jarak yang ditempuh dan waktu yang diperlukan  saat bepergian.
�� Mencocokkan waktu, bermain dengan jam dinding atau jam tangan atau jam yang dibuat sendiri.
�� Menjumlahkan benda-benda yang ada di sekitar.
�� Permainan angka jam dengan menggunakan dadu.

�� *Usia 10-12 Tahun* ��

�� Belajar menggunakan kalender dan menandai tanggal-tanggal yang penting.
�� Belajar menggunakan uang dengan membuat anggaran atau belanja. 
�� Belajar perkalian dan kuadrat.

*Salam Ibu Profesional*
_Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch #2_

Sumber :
Buku "Anakku penyejuk hatiku"
Penulis Dr.  H. Irwan Prayitno, Psi, Msc.
Datuak Rajo Bandaro Basa

Review Materi #6 Kelas Bunsay #2

Institut Ibu Profesional kelas Review kelas Bunda Sayang Materi #6

MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS

Bunda setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak. Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa "matematika" itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita  menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.

Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:

a. Berpikir logis

b. Berpikir Kritis

c. Memecahkan masalah secara sistematis

d.Melatih ketelitian, kecermatan dan kesabaran

e.Menarik kesimpulan secara deduktif  (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif)

Apabila melihat kelima hal diatas, sudah selayaknya kita sebagai orangtua tidk terpaku dan bahkan stress untuk hal-hal kecil di konten matematikanya. Misal ketika anak-anak kita latih perkalian saja tidak hafal-hafal. Jangan sampai gagal fokus,  karena yang kita sasar adalah kemampuan life skill anak melalui matematika, bukan kemampuan anak menghafal ilmu di matematika. Sehingga kita harus pandai untuk mencari celah dan mencari jalan lewat ilmu matematika yang mana agar anak-anak kita memiliki life skill seperti yang disebutkan di atas.

Contoh :

Studi Kasus: Ketika ada seorang anak yang sudah kelas 3 ke atas, sangat susah menghafal perkalian.

Solusi : maka kita tidak akan memaksa anak tersebut setiap hari dengan berbagai hafalan. Kita akan melatih kemampuan berpikir logisnya.

Kegiatan : Ambil matematika dalam kehidupan sehari-hari, misal, label obat, kemudian lihat di label tersebut,  apoteker menuliskannya adalah 3 x 1. Kira-kira menurut kakak apa artinya 3 x1 di aturan minum obat ini? Anak-anak akan berpikir dan mencari jawaban berdasarkan pengalamannya minum obat saat sakit : pagi minum 1 kapsul, siang 1 kapsul dan malam 1 kapsul

Stimulus  : Setelah jawaban berpikir logisnya berjalan, kita stimulus dengan berpikir kritisnya.

" Andaikata apoteker itu menulisnya 1 x 3, apa kira-kira yang harus kita lakukan, apakah ada bedanya dengan 3 x 1?"

Kegiatan : Anak mulai melatih kemampuan memecahkan masalahnya secara sistematis. Berikan ruang anak untuk menyampaikan gagasannya tentang 3 x 1 dan 1 x 3, tanpa kita buru-buru menyalahkan atau mengoreksi.

Kegiatan bermain:

a. Siapkan pernak-pernik yang berjumlah 6, (bisa 6 kerikil, 6 permen atau  6 buah mainan yang sama) dan 6 piring kecil-kecil

b. Ibu memberikan perintah, yuk kita lomba menata perkalian 3 x 1 dengan piring dan pernak-pernik.

c. Ibu menata piring dan kerikilnya sendiri, anak menata piring dan kerikilnya sendiri.

d. Ibu melihat apa yang ditata anak misal anak menata 3 piring, masing-masing diisi 1 kerikil. Ibu memberikan komentar "Aha, keren banget Ina sudah bisa membuat perkalian 3 x 1"

Kemudian anak diminta lihat apa yang ditata ibu, misal ibu mengambil 1 piring, diisi 3 kerikil.

"Kalau milik ibu ini model perkaliannya seperti apa ya kak?'

Anak mulai menyambungkan informasi satu persatu dan menjawab "1 x3"

e.Ibu memberikan tantangan baru, " Sekarang kita coba buat perkalian 3x2, yuk

Makin terasa ringan kan, kalau matematika kita dekatkan dengan hal-hal yang realistik di kehidupan anak-anak. Pendekatan matematika secara realistik ini harus bunda jadikan modal belajar agar anak-anak suka belajar matematika. Kalau anak-anak sudah suka, mereka akan menjadi pembelajar mandiri, dan kita cukup menjadi teman belajarnya saja.

Yang perlu kita ingat dalam pembelajaran matematika secara realistik adalah :

a.Anak-anak diajak untuk menemukan kembali bagaimana para ahli dulu menemukan rumus matematika dan ilmu matematika dengan bimbingan kita  ( Guided Reinvention).  Anak-anak akan mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu dulu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran  matematika yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika.

b. Pengetahuan matematika dan pengetahuan lain secara umum,  tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari ibukepada anak, melainkan anak sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar.

c, Menyiapkan model-model yang dibangun sendiri ( self-Developed Models). Sehingga kita bisa  mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi anak  untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau sebaliknya.

Semoga dengan pemahaman ini kita makin paham untuk apa anak-anak kita perlu belajar matematika. Bukan sekedar angka  yang tertulis di rapot, bukan juga sekedar menambah hafalan anak-anak tentang rumus-rumus matematika, tapi lebih dari itu matematika merupakan salah satu pintu masuk anak untuk mendapatkan ketrampilan hidupnya sehingga bisa lebih siap menjalankan peran di dalam kehidupannya kelak.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber Bacaan:

Fauzan, A. (2002). Applying realistic mathematics education in teaching geometry in Indonesian primary schools. Doctoral dissertation. Enschede: University of Twente

Septi Peni (2004) Jarimatika : Mengenalkan Konsep Perkalian Secara Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Jakarta

Aliran Rasa Materi #6

Alhamdulillah tantangan level #6 telah usai. Level #6 ini sangat menarik karena temanya ngena banget, MATH AROUND US :)

Menjalani tantangan 10 hari di game level #6 ini membuat mama flashback dengan pengalaman mengajar dulu. Walaupun mama mengajar fisika, bukan matematika, namun untuk beberapa hal banyak sekali hubungan penyelesaian soal fisika dengan kemampuan matematika seseorang.

Kondisi mama sebelumnya resah dan gelisah mengingat si kakakZ yang tak kunjung selesai menghafal perkalian 6-10. Setelah mendapat materi dan cemilan serta menjalani tantangan di level #6 ini memberikan pandangan dan pola pikir baru untuk mama. Mama berusaha merekonstruksi ulang makna kemampuan matematika bagi seseorang.

Mama teringat saat mengikuti Cambridge Professional Development Mathematics Secondary. Ketika berdiskusi dengan narasumber yang juga merupakan salah satu professor matematika-nya universitas Cambridge. Saat itu mama menceritakan bagaimana proses memadupadankan kurikulum Cambridge dengan kurikulum nasional. Tampak semburat kekecewaan pada wajah sang professor namun dengan ramah dan tegas ia mengingatkan "kalau ilmu digali sedikit demi sedikit namun berkesinambungan, akan lebih melekat pada otak anak dibandingkan langsung menggali sangat dalam, namun setelah itu ditinggalkan". Pesan ini bermakna sangat dalam, karena ketika mama refleksi, inilah yang terjadi di kurikulum nasional pada saat itu.
Banyak orang yang beranggapan bahwa level soal matematika Cambridge International Examination (CIE) jauh lebih mudah bila dibandingkan  dengan level soal ujian nasional matematika. Untuk level primary - secondary bisa jadi betul. Namun untuk level IGCSE - A level, kurikulum nasional jelas jauh tertinggal.

Akhirnya mama tetap memegang erat mantra "meninggikan gunung, bukan meratakan lembah". KakakZ memiliki lembah matematika dan gunung sastra. Tugas mama untuk selalu mendampinginya agar ia selalu berpandangan positif terhadap semua bidang ilmu.

#aliranrasa
#level6
#matharoundus
#ilovemath
#bundasayang
#iip

Jumat, 01 Desember 2017

TrioZ and Math #10

Hari Senin nanti kakakZ ada Penilaian Akhir Semester (PAS) mapel matematika. Total ada 5 bab yang akan diujikan. Mama dan kakakZ memulai program belajar matematikanya sejak semalam. Kami review dan mengerjakan soal-soal bab 1 tentang pecahan dengan sub bab pecahan biasa, campuran dan desimal.

Buat mama, mendampingi kakakZ belajar matematika merupakan sebuah tantangan tersendiri. Mama menyadari pondasi "katabaku" kakZ masih sangat lemah. Saat-saat seperti inilah mama memegang teguh mantra "meninggikan gunung, bukan meratakan lembah" dan "i'm responsible for my communication result".

When ordinary explanation seems difficult to understand then it's time for us to try extraordinary way ;)

#Day10
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

TrioZ and Math #9

BangZ memulai sesi belajar sore dengan mengambil buku mewarnai dan spidol. Akhirnya mama dan nengZ ikut bergabung bersama.

Tiba-tiba nengZ berucap "Ma, ade bisa bikin delapan dari huruf S, Z, dan O". "Coba dong dek contohkan! Mama mau lihat." Ternyata benar. Ia membuat huruf S lalu digabung dengan Z sehingga jadi angka 8. Kalau yang dari huruf O pasti dong semua sudah tahu. Butuh 2 O untuk menghasilkan angka 8.

Kreativitas nalar trioZ kadang membuat mama terpesona. Always expect the unexpected ;)

#Day9
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs