Selasa, 12 Desember 2017

Cemilan Math logic #3

Cemilan Rabu

Semua Anak Pintar Matematika

Matematika… bagaimana ananda mendengarnya? Senang atau justru yang menjadi sesuatu yang menakutkan jika mendengarnya. Matematika sering menjadi momok yang menakutkan pada ananda yang sudah bersekolah, tetapi kita tidak bisa menafikan karena matematika penting dalam perkembangan anak, terutama stimulasi kognitif.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak sudah memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini, bahkan sebelum usia sekolah (Gelman & Gallistel, 1978 ; sophian, 1996 ; wynn, 1995  dalam Butterworth,  1999).

Anak usia pra sekolah sudah dapat mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak dan sedikitnya benda,  mengenali perubahan dalam benda akibat benda tersebut ditambah atau dikurangi, dan mengurutkan besar kecilnya sejumlah benda sesuai dengan banyaknya benda tersebut. Selain itu mereka juga mengetahui pengetahuan dasar dibalik aktivitas menghitung walaupun terkadang belum dapat menyebutkan nama bilangan secara tepat.

Butterworth (1999) mengasumsikan bahwa setiap anak mempunyai modul angka (number module) bawaan sejak lahir secara biologis terletak di otak.

Prof. Harumi dalam buku Strategi Pembelajaran 2012 menyatakan bahwa setiap anak mempunyai peluang yang besar untuk menjadi pintar mengingat kesamaan fisiologis otak manusia tersebut. Anak mempunyai kapasitas bawaan sejak lahir (innate)  yang kurang lebih sama dalam mengenal angka yang sifatnya biologis, walaupun ada variasi individual.

Jika semua mempunyai faktor biologis sejak lahir, kenapa ada anak yang memiliki kemampuan matematika lebih tinggi dan sebagian yang lain harus berjuang keras memahaminya? Butterworth (1999) mengungkapkan bahwa selain ada kemungkinan perbedaan dalam hal kapasitas untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan (matematika) dan kemungkinan adanya perbedaan minat terhadap hal- hal apa saja yang dianggap menarik oleh anak. Faktor lain yang cukup berperan adalah faktor budaya di sekitar anak. Budaya disini berarti lingkungan terdekat anak seperti orang tua dan sekolah, yang mempengaruhi lingkungan yang mendukung berkembangnya kemampuan matematika anak.

Orang tua sebagai fasilitator menciptakan lingkungan yang menarik perhatian dan minat anak sehingga berkesan bagi anak. Rasa keinginantahuan anak ditimbulkan sehingga banyak berkomunikasi dengan orang tua sebagai fasilitator. Fasilitator dapat menggunakan berbagai macam metode dan media dalam mengenalkan matematika kepada anak.

Jangan lupa mengulang materi, kenapa?

Karena pada dasarnya mengenalkan konsep pada anak mulai dari yang sederhana dan anak bisa. Sehingga akan menumbuhkan motivasi bagi anak. Anak bisa mengerjakan secara mandiri dan menimbulkan kebanggaan pada diri anak sehingga tercipta “Aha! momen “. Selamat membersamai ananda menemukan Aha! momen bunda…. Salam ibu profesional.

Sumber:

Bunga Rampai Psikologi Perkembangan dari Anak sampai usia Lanjut. Prof. Dr. Singgih D. Gunarso.

Sumber Belajar dan Alat Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Anggani Sudono

Proses belajar di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar