Rabu, 23 Mei 2018

Digital Literacy Skills

Assalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh.

Tulisan ini dibuat sebagai jurnal dalam tantangan level 5 kelas Bunda Sayang#3 Kordi. Level 5 Bunda Sayang terkenal dengan "pohon literasi" sebagai jejak dalam menstimulus anak agar suka membaca. Para Ibu akan menyelesaikan tantangan 10 hari dengan kreativitas "pohon literasi"-nya masing-masing. Walaupun ada beberapa yang it's not litterally "pohon" hehehe... pernah ada aquarium literasi karena anaknya dalam masa sensitive periode dengan ikan dan akuarium.



Jurnal belajar level 5 di kelas Bunsay#3 Kordi ini akan membahas mengenai "Digital Literacy".
Kata literasi sendiri sangat erat maknanya dengan kemampuan membaca, menulis, berhitung (calistung) seperti yang dijabarkan oleh B. Combes : "Traditional definitions of literacy have focused on skills relating to numeracy, listening, speaking, reading, writing and critical thinking, with the end goal being developing active thinkers and learners who are able to engage in society in effective and meaningful ways." Nah kalau ada tradisional literasi berarti ada modern literasi dong ya? modern literasi inilah yang kita kenal dengan literasi era digital atau digital literacy. Apa sih sebenarnya digital literacy itu? Pengertian digital literacy yang simple saya ambil dari The American Library Association's digital-literacy task force : "Digital literacy is the ability to use information and communication technologies to find, evaluate, create, and communicate information, requiring both cognitive and technical skills". It's a BIG WOW :) ketika kata digital literacy ternyata menyimpan banyak makna, disitulah saya baper... 

Tulisan ini akan Saya fokuskan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya digital literacy. Mengutip tulisan Kunto Nurcahyoko di web geotimes "Dengan jumlah pengguna internet sekitar 140 juta orang, Indonesia menjadi salah satu negara dengan aktivitas digital terpadat sedunia. Tingginya arus lalu lintas digital di Indonesia tidak hanya membawa dampak positif tetapi juga membawa potensi bahaya". Potensi bahaya ini antara lain penyebaran berita palsu atau hoax yang akan memicu konflik. Tentu teman-teman masih ingat salah satu materi kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional sempat membahas mengenai pentingnya sceptical thinking, fear of missing out (FOMO), dsb. Setelah melakukan research materi digital literacy ini, Saya pun sadar bahwa itulah salah satu upaya mendidik digital literacy para Ibu yang sedang mengikuti kelas MIIP.

Fakta menarik sekaligus miris terpampang pada bagan hasil penelitian berikut :


Ternyata 61% penduduk Indonesia menganggap bahwa facebook adalah internet, setengah dari 61% tersebut hanya menggunakan aplikasi facebook dan tidak pernah menggunakan tautan lain yang ada di facebook, bahkan 11% mengaku menggunakan facebook tapi tidak menggunakan internet. You'll see another fact if you follow the link LIRNEasia.

Bisakah Anda bayangkan jika facebook dianggap sebagai satu-satunya media digital yang bisa diakses dan dipercaya kebenaran informasinya oleh masyarakat? Lalu bagaimana masyarakat ini melakukan crosscheck kebenaran berita yang dia peroleh dari facebook? Padahal facebook adalah satu-satunya yang ia akses.
This is the point when I think that WE need to educate our society. WE? Yes! this is also part of your responsibles too :)

Untuk mudahnya, Saya coba ambil kompetensi yang diperlukan agar melek digital berdasar definisi digital literacy dari UNESCO : "Digital literacy is the ability to access, manage, understand, integrate, communicate, evaluate and create information safely and appropriately through digital devices and networked technologies for participation in economic and social life. It includes competences that are variously referred to as computer literacy, ICT literacy, information literacy, and media literacy". Dari definisi tersebut setidaknya ada 6 kompetensi yang diperlukan agar seseorang melek digital yaitu kemampuan accessing, managing, evaluating, integrating, creating dan communicating.

Accessing merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi sumber berita digital dengan teliti.  
Managing yaitu kemampuan untuk mengklasifikasikan sumber dan jenis berita yang valid dan terpercaya
Evaluating merupakan kemampuan membuat penilaian mengenai kebermanfaatan, keakuratan, kualitas dan relevansi dari sebuah berita.
Integrating adalah kemampuan untuk menganalisa, merangkum, menyimpulkan, membandingkan dan menginfirmasi sebuah informasi dari berbagai sumber. 
Creating merupakan kemampuan berkaitan dengan bagaimana seorang individu mampu beradaptasi, mengaplikasikan, menciptakan dan menulis sebuah informasi dengan baik dan benar.
Communicating yang berarti kemampuan untuk menyebarkan dan mengkomunikasikan informasi secara cepat dengan menggunakan platform yang tersedia.

Try to train yourself the six steps above before your thumb click share easily!
Always remember our quotes For Things To Change, I Must Change First ;)
Keep training and it'll become habit.
Wassalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh.
 

Referensi bacaan :
1. http://mediasmarts.ca/digital-media-literacy-fundamentals/digital-literacy-fundamentals
2. https://www.edweek.org/ew/articles/2016/11/09/what-is-digital-literacy.html
3. Combes, B. (2010). How much do traditional literacy skills count? Literacy in the 21st century & reading from the screen. http://www.slideshare.net/IASLonline/literacy-skills-challenged
4. https://geotimes.co.id/opini/urgensi-digital-literacy-di-indonesia/
5. https://qz.com/333313/milliions-of-facebook-users-have-no-idea-theyre-using-the-internet/
6. http://uis.unesco.org/en/blog/global-framework-measure-digital-literacy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar