Senin, 25 Desember 2017

Jurnal Kemandirian

Ada banyak target dan pencapaian dari TrioZ saat menjalani tantangan game level#2 kelas bunsay#2.

Aha! Moment terjadi pada si bungsu bangZ. Abang yang sekarang berusia 2,5 tahun sudah mandiri memakai baju sendiri. Setelah mandi sudah bisa mengambil satu set pakaian yang kemudian dipakainya sendiri.
Abang mengalami kendala saat membuka baju. Sehingga ketika ingin mengganti bajunya ia selalu minta tolong mama. Abang sudah paham kapan ia harus mengganti bajunya. Biasanya saat basah karena terkena air.

Sementara itu, Aha! Moment kemandirian di keluarga kami baru mama sadari sekitar sebulan ini. Kami yang dulu menggunakan jasa PRT selama 3 tahun terbiasa menumpuk cucian piring hingga esok pagi, menunggu PRT datang yang akan mencucinya. Masa-masa awal tanpa PRT, kebiasaan ini tetap berjalan dan cukup mempengaruhi mood mama di pagi hari.
Perlahan tapi pasti jumlah cucian piring yang mengendap semalaman mulai berkurang. Hingga sekitar sebulan ini jumlah cucian piring yang mengendap semalaman adalah NOL :D
Baik Bapak maupun trioZ ketika selesai makan malam akan mencuci piring mereka sendiri. Tidak ada lagi tumpukan cucian piring yang memberi mood negatif di pagi hari ;)

Selasa, 12 Desember 2017

Cemilan Math Logic #2

CEMILAN RABU
Bunsay #2
Materi #6
Minggu ke-2

Matematika memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Banyak permainan dan aktifitas yang menunjang pelajaran matematika dan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka.

Apa saja kemampuan yang bisa ditingkatkan dengan aktifitas permainan matematika?

antara lain,

�� Kemampuan menggunakan dan meningkatkan kosakata

�� Kemampuan mengeksplorasi, mendiskusikan, dan memberikan pendapat dan menyampaikan ide-ide matematika

�� Kemampuan berfikir dan bekerja secara matematika

��  Membangun kepercayaan diri anak dalam pelajaran matematika

�� Meningkatkan konsentrasi

��  Meningkatkan perilaku positif terhadap matematika

��Mempelajari cara berdiskusi secara matematis dan bekerjasama untuk mencapai pemahaman.

�� Kemampuan mempelajari matematika dalam lingkungan yang mendukung daya pikir dan menyenangkan.

��Meningkatkan pemahaman

��Mengeksplorasi matematika dengan konsep yang bebas serta memperkuat dan meningkatkan kemampuan anak.

Sumber ; John Dabell. Aktifitas Permainan dan ide Praktis Belajar Matematika, Penerbit Erlangga : 2009.

Cemilan Math logic #3

Cemilan Rabu

Semua Anak Pintar Matematika

Matematika… bagaimana ananda mendengarnya? Senang atau justru yang menjadi sesuatu yang menakutkan jika mendengarnya. Matematika sering menjadi momok yang menakutkan pada ananda yang sudah bersekolah, tetapi kita tidak bisa menafikan karena matematika penting dalam perkembangan anak, terutama stimulasi kognitif.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak sudah memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini, bahkan sebelum usia sekolah (Gelman & Gallistel, 1978 ; sophian, 1996 ; wynn, 1995  dalam Butterworth,  1999).

Anak usia pra sekolah sudah dapat mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak dan sedikitnya benda,  mengenali perubahan dalam benda akibat benda tersebut ditambah atau dikurangi, dan mengurutkan besar kecilnya sejumlah benda sesuai dengan banyaknya benda tersebut. Selain itu mereka juga mengetahui pengetahuan dasar dibalik aktivitas menghitung walaupun terkadang belum dapat menyebutkan nama bilangan secara tepat.

Butterworth (1999) mengasumsikan bahwa setiap anak mempunyai modul angka (number module) bawaan sejak lahir secara biologis terletak di otak.

Prof. Harumi dalam buku Strategi Pembelajaran 2012 menyatakan bahwa setiap anak mempunyai peluang yang besar untuk menjadi pintar mengingat kesamaan fisiologis otak manusia tersebut. Anak mempunyai kapasitas bawaan sejak lahir (innate)  yang kurang lebih sama dalam mengenal angka yang sifatnya biologis, walaupun ada variasi individual.

Jika semua mempunyai faktor biologis sejak lahir, kenapa ada anak yang memiliki kemampuan matematika lebih tinggi dan sebagian yang lain harus berjuang keras memahaminya? Butterworth (1999) mengungkapkan bahwa selain ada kemungkinan perbedaan dalam hal kapasitas untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan (matematika) dan kemungkinan adanya perbedaan minat terhadap hal- hal apa saja yang dianggap menarik oleh anak. Faktor lain yang cukup berperan adalah faktor budaya di sekitar anak. Budaya disini berarti lingkungan terdekat anak seperti orang tua dan sekolah, yang mempengaruhi lingkungan yang mendukung berkembangnya kemampuan matematika anak.

Orang tua sebagai fasilitator menciptakan lingkungan yang menarik perhatian dan minat anak sehingga berkesan bagi anak. Rasa keinginantahuan anak ditimbulkan sehingga banyak berkomunikasi dengan orang tua sebagai fasilitator. Fasilitator dapat menggunakan berbagai macam metode dan media dalam mengenalkan matematika kepada anak.

Jangan lupa mengulang materi, kenapa?

Karena pada dasarnya mengenalkan konsep pada anak mulai dari yang sederhana dan anak bisa. Sehingga akan menumbuhkan motivasi bagi anak. Anak bisa mengerjakan secara mandiri dan menimbulkan kebanggaan pada diri anak sehingga tercipta “Aha! momen “. Selamat membersamai ananda menemukan Aha! momen bunda…. Salam ibu profesional.

Sumber:

Bunga Rampai Psikologi Perkembangan dari Anak sampai usia Lanjut. Prof. Dr. Singgih D. Gunarso.

Sumber Belajar dan Alat Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Anggani Sudono

Proses belajar di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.

Cemilan Math Logic #1

_Cemilan rabu ke-1_
_Materi#6_

*Stimulan agar anak mengenal dan menyukai Matematika*

�� *Usia 2-4 Tahun* ��

�� Memisahkan benda-benda berdasarkan warna dengan menghitung
�� Membandingkan ukuran benda-benda/mainan bisa dilakukan seperti memancing ikan
�� Memilah benda berdasarkan ukurannya.
�� Permainan mencari benda-benda yang ada di sekitar rumah, berdasarkan warna atau bentuk. Atur letak benda ditempat yang menyenangkan dan mudah.
�� Mengklasifikasikan dan memilah benda-benda yang besar atau kecil.
�� Memasangkan benda yang sama warna/bentuk.
��Menyusun gambar berdasarkan ukuran melalui permainan garis.
�� Menuangkan air/makanan sesuai ukuran
�� Memilah dan mencocokkan biji-bijian
�� Mrngelompokkan benda-benda yang lucu, bisa dibuat sendiri.

�� *Usia 4-6 Tahun* ��

�� Memilah kancing sesuai bentuk
�� Membandingkan berat benda-benda yang ada di sekitar dirumah.
�� Mengumpulkan benda-benda menarik seperti daun, bunga biji, ranting, rumput atau kelereng saat di taman /kebun. Selanjutnya dibuat grafik angka sederhana yang bernuansa lingkungan.
�� Memahami waktu dan mengenalkan hari dalam kegiatan sehari-hari. Misal kalau si anak sudah sekolah, seragam ini dipakai di hari...., adik kalau berangkat sekokah jam..., seharusnya mandi jam.... Dan sebagainya.
�� Permainan angka
Menghitung benda-benda yang ada di sekitar
�� menggambar bentuk dengan bahan alami seperti ditanah kemudian mencari benda yang mirip dengan bentuk tersebut.
�� Menulis angka atau huruf dipasir sambil bermain.
�� Mempelajari geometri dengan cara yang menyenangkan misal dengan menggambar yang mudah dan sederhana dipasir atau tanah.
�� Menimbang benda-benda disekitar, membedakan ringan dan berat.

�� *Usia 6-8 Tahun* ��

�� Menggambar angka
�� Mengukur benda
�� Menimbang benda
�� Permainan melempar dadu dengan keluarga misal ular tangga dan menyebutkan angka-angkanya.
�� Permainan mencari angka seperti permainan mencari harta karun.
�� Belajar bilangan genap dan ganjil dengan permainan, misal membuat kotak-kotak dilantai dan kita tuliskan angka kemudian lompat di bilangan ganjil atau genap.
�� Melempar bola ke lubang sambil berhitung.

�� *Usia 8-10 Tahun* ��

�� Memperkirakan jarak yang ditempuh dan waktu yang diperlukan  saat bepergian.
�� Mencocokkan waktu, bermain dengan jam dinding atau jam tangan atau jam yang dibuat sendiri.
�� Menjumlahkan benda-benda yang ada di sekitar.
�� Permainan angka jam dengan menggunakan dadu.

�� *Usia 10-12 Tahun* ��

�� Belajar menggunakan kalender dan menandai tanggal-tanggal yang penting.
�� Belajar menggunakan uang dengan membuat anggaran atau belanja. 
�� Belajar perkalian dan kuadrat.

*Salam Ibu Profesional*
_Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch #2_

Sumber :
Buku "Anakku penyejuk hatiku"
Penulis Dr.  H. Irwan Prayitno, Psi, Msc.
Datuak Rajo Bandaro Basa

Review Materi #6 Kelas Bunsay #2

Institut Ibu Profesional kelas Review kelas Bunda Sayang Materi #6

MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS

Bunda setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak. Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa "matematika" itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita  menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.

Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:

a. Berpikir logis

b. Berpikir Kritis

c. Memecahkan masalah secara sistematis

d.Melatih ketelitian, kecermatan dan kesabaran

e.Menarik kesimpulan secara deduktif  (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif)

Apabila melihat kelima hal diatas, sudah selayaknya kita sebagai orangtua tidk terpaku dan bahkan stress untuk hal-hal kecil di konten matematikanya. Misal ketika anak-anak kita latih perkalian saja tidak hafal-hafal. Jangan sampai gagal fokus,  karena yang kita sasar adalah kemampuan life skill anak melalui matematika, bukan kemampuan anak menghafal ilmu di matematika. Sehingga kita harus pandai untuk mencari celah dan mencari jalan lewat ilmu matematika yang mana agar anak-anak kita memiliki life skill seperti yang disebutkan di atas.

Contoh :

Studi Kasus: Ketika ada seorang anak yang sudah kelas 3 ke atas, sangat susah menghafal perkalian.

Solusi : maka kita tidak akan memaksa anak tersebut setiap hari dengan berbagai hafalan. Kita akan melatih kemampuan berpikir logisnya.

Kegiatan : Ambil matematika dalam kehidupan sehari-hari, misal, label obat, kemudian lihat di label tersebut,  apoteker menuliskannya adalah 3 x 1. Kira-kira menurut kakak apa artinya 3 x1 di aturan minum obat ini? Anak-anak akan berpikir dan mencari jawaban berdasarkan pengalamannya minum obat saat sakit : pagi minum 1 kapsul, siang 1 kapsul dan malam 1 kapsul

Stimulus  : Setelah jawaban berpikir logisnya berjalan, kita stimulus dengan berpikir kritisnya.

" Andaikata apoteker itu menulisnya 1 x 3, apa kira-kira yang harus kita lakukan, apakah ada bedanya dengan 3 x 1?"

Kegiatan : Anak mulai melatih kemampuan memecahkan masalahnya secara sistematis. Berikan ruang anak untuk menyampaikan gagasannya tentang 3 x 1 dan 1 x 3, tanpa kita buru-buru menyalahkan atau mengoreksi.

Kegiatan bermain:

a. Siapkan pernak-pernik yang berjumlah 6, (bisa 6 kerikil, 6 permen atau  6 buah mainan yang sama) dan 6 piring kecil-kecil

b. Ibu memberikan perintah, yuk kita lomba menata perkalian 3 x 1 dengan piring dan pernak-pernik.

c. Ibu menata piring dan kerikilnya sendiri, anak menata piring dan kerikilnya sendiri.

d. Ibu melihat apa yang ditata anak misal anak menata 3 piring, masing-masing diisi 1 kerikil. Ibu memberikan komentar "Aha, keren banget Ina sudah bisa membuat perkalian 3 x 1"

Kemudian anak diminta lihat apa yang ditata ibu, misal ibu mengambil 1 piring, diisi 3 kerikil.

"Kalau milik ibu ini model perkaliannya seperti apa ya kak?'

Anak mulai menyambungkan informasi satu persatu dan menjawab "1 x3"

e.Ibu memberikan tantangan baru, " Sekarang kita coba buat perkalian 3x2, yuk

Makin terasa ringan kan, kalau matematika kita dekatkan dengan hal-hal yang realistik di kehidupan anak-anak. Pendekatan matematika secara realistik ini harus bunda jadikan modal belajar agar anak-anak suka belajar matematika. Kalau anak-anak sudah suka, mereka akan menjadi pembelajar mandiri, dan kita cukup menjadi teman belajarnya saja.

Yang perlu kita ingat dalam pembelajaran matematika secara realistik adalah :

a.Anak-anak diajak untuk menemukan kembali bagaimana para ahli dulu menemukan rumus matematika dan ilmu matematika dengan bimbingan kita  ( Guided Reinvention).  Anak-anak akan mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu dulu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran  matematika yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika.

b. Pengetahuan matematika dan pengetahuan lain secara umum,  tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari ibukepada anak, melainkan anak sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar.

c, Menyiapkan model-model yang dibangun sendiri ( self-Developed Models). Sehingga kita bisa  mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi anak  untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau sebaliknya.

Semoga dengan pemahaman ini kita makin paham untuk apa anak-anak kita perlu belajar matematika. Bukan sekedar angka  yang tertulis di rapot, bukan juga sekedar menambah hafalan anak-anak tentang rumus-rumus matematika, tapi lebih dari itu matematika merupakan salah satu pintu masuk anak untuk mendapatkan ketrampilan hidupnya sehingga bisa lebih siap menjalankan peran di dalam kehidupannya kelak.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber Bacaan:

Fauzan, A. (2002). Applying realistic mathematics education in teaching geometry in Indonesian primary schools. Doctoral dissertation. Enschede: University of Twente

Septi Peni (2004) Jarimatika : Mengenalkan Konsep Perkalian Secara Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Jakarta

Aliran Rasa Materi #6

Alhamdulillah tantangan level #6 telah usai. Level #6 ini sangat menarik karena temanya ngena banget, MATH AROUND US :)

Menjalani tantangan 10 hari di game level #6 ini membuat mama flashback dengan pengalaman mengajar dulu. Walaupun mama mengajar fisika, bukan matematika, namun untuk beberapa hal banyak sekali hubungan penyelesaian soal fisika dengan kemampuan matematika seseorang.

Kondisi mama sebelumnya resah dan gelisah mengingat si kakakZ yang tak kunjung selesai menghafal perkalian 6-10. Setelah mendapat materi dan cemilan serta menjalani tantangan di level #6 ini memberikan pandangan dan pola pikir baru untuk mama. Mama berusaha merekonstruksi ulang makna kemampuan matematika bagi seseorang.

Mama teringat saat mengikuti Cambridge Professional Development Mathematics Secondary. Ketika berdiskusi dengan narasumber yang juga merupakan salah satu professor matematika-nya universitas Cambridge. Saat itu mama menceritakan bagaimana proses memadupadankan kurikulum Cambridge dengan kurikulum nasional. Tampak semburat kekecewaan pada wajah sang professor namun dengan ramah dan tegas ia mengingatkan "kalau ilmu digali sedikit demi sedikit namun berkesinambungan, akan lebih melekat pada otak anak dibandingkan langsung menggali sangat dalam, namun setelah itu ditinggalkan". Pesan ini bermakna sangat dalam, karena ketika mama refleksi, inilah yang terjadi di kurikulum nasional pada saat itu.
Banyak orang yang beranggapan bahwa level soal matematika Cambridge International Examination (CIE) jauh lebih mudah bila dibandingkan  dengan level soal ujian nasional matematika. Untuk level primary - secondary bisa jadi betul. Namun untuk level IGCSE - A level, kurikulum nasional jelas jauh tertinggal.

Akhirnya mama tetap memegang erat mantra "meninggikan gunung, bukan meratakan lembah". KakakZ memiliki lembah matematika dan gunung sastra. Tugas mama untuk selalu mendampinginya agar ia selalu berpandangan positif terhadap semua bidang ilmu.

#aliranrasa
#level6
#matharoundus
#ilovemath
#bundasayang
#iip

Jumat, 01 Desember 2017

TrioZ and Math #10

Hari Senin nanti kakakZ ada Penilaian Akhir Semester (PAS) mapel matematika. Total ada 5 bab yang akan diujikan. Mama dan kakakZ memulai program belajar matematikanya sejak semalam. Kami review dan mengerjakan soal-soal bab 1 tentang pecahan dengan sub bab pecahan biasa, campuran dan desimal.

Buat mama, mendampingi kakakZ belajar matematika merupakan sebuah tantangan tersendiri. Mama menyadari pondasi "katabaku" kakZ masih sangat lemah. Saat-saat seperti inilah mama memegang teguh mantra "meninggikan gunung, bukan meratakan lembah" dan "i'm responsible for my communication result".

When ordinary explanation seems difficult to understand then it's time for us to try extraordinary way ;)

#Day10
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

TrioZ and Math #9

BangZ memulai sesi belajar sore dengan mengambil buku mewarnai dan spidol. Akhirnya mama dan nengZ ikut bergabung bersama.

Tiba-tiba nengZ berucap "Ma, ade bisa bikin delapan dari huruf S, Z, dan O". "Coba dong dek contohkan! Mama mau lihat." Ternyata benar. Ia membuat huruf S lalu digabung dengan Z sehingga jadi angka 8. Kalau yang dari huruf O pasti dong semua sudah tahu. Butuh 2 O untuk menghasilkan angka 8.

Kreativitas nalar trioZ kadang membuat mama terpesona. Always expect the unexpected ;)

#Day9
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs


Kamis, 30 November 2017

TrioZ and Math #8

Hari ini mama belanja bulanan ke 2 tempat. Swalayan era dan indomaret. Kok ribet sih gak di satu tempat aja? Maklumlah mama tergolong emak-emak super irit. Dimana ada yang lebih murah bakal dijabanin deh ;)

Belanja part 2 bersama kakakZ yang baru pulang sekolah. Nah sesampainya di rumah mama curcol sambil niatnya mengetes kepekaan logika kakZ.

Jadi ceritanya tadi pagi mama beli sampo clear ukuran 120 ml dengan harga 21 ribu rupiah. Saat belanja part 2 mama menemukan sampo clear ukuran 340 ml dengan harga 24 ribu. See the problem? Wajar kan kalau mama curcol sama kakakZ. Walaupun dengan polosnya kakZ tidak paham 100% isi curcol dan penjelasan dari mama :'(

Jadi gini kak... mama beli 2 sampo clear ini. Yang kecil harganya 21 ribu, yang besar 24 ribu. Memang harga yang kecil lebih "murah" dibanding yang besar tapi sebenarnya lebih "murah" beli yang besar sekalian. Nah pada penggunaan kata "murah" inilah yang membuat kakak gagal paham maksud mama.
Mari kita latihan terus ya kak ;)

#Day8
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Rabu, 29 November 2017

Jurnal Komunikasi Produktif

Aha! Momen mengenai komprod ini malah mama alami setelah mendapat materi #1 komunikasi produktif.

Saat itu masih bulan syawal. Kejadiannya dini hari saat sedang sahur karena berniat ingin puasa syawal. Bapak yang sudah tunai puasa syawalnya bangun belakangan menjelang subuh. Saat bapak menuju meja makan, tak lama kemudian mama bangkit. Sebenarnya tidak ada maksud menghindari bapak tapi truly karena makannya sudah selesai jadi dibereskan ke cucian piring. Mungkin bapak sedang sensitif karena baru bangun tidur. Akhirnya mama didiemin selama 3 hari :(

Di hari ketiga akhirnya bapak cerita mengenai aksi diamnya. Setelah refleksi akhirnya mama sadar banyak kaidah komunikasi produktif yang mama langgar. Penyebab utamanya adalah pelanggaran kaidah 7-38-55. Dari sikap mama yang langsung bangkit setelah makan sementara bapak baru duduk ternyata lebih membekas daripada chit chat kami yang tidak seberapa.
Setelah itu ada juga kaidah C2C clear and clarify. Selama 3 hari diam-diaman itu mama tidak berusaha C2C dengan bapak.

Ini aha! Momen plus false celebration buat mama. Sampai sekarang pun tak terlupakan. Dari pengalaman ini mama belajar bahwa  ego bisa menjadi tantangan terbesar dalam berkomunikasi produktif dengan pasangan. Berpegang erat pada motto materi#1 i'm responsible for my communication result ternyata cukup ampuh untuk mengendalikan ego. It works in me ;)

TrioZ and Math #7

Sore ini bangZ mau diajak belajar angka. Mama menggunakan kartu angka dan pom pom. Awalnya kami bermain dengan pompom. Dilempar seperti bola, disusun memanjang seperti kereta api sambil dihitung berapa banyak pom pomnya. Akhirnya kartu angka mama keluarkan dan mencontohkan ke bangZ untuk menyamakan banyak lingkaran hitam pada kartu dengan pom pom. Cukup bertahan hingga angka 5. Setelah itu deretan pom pom pun berubah menjadi kereta api lagi :)

#Day7
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Selasa, 28 November 2017

TrioZ and Math #6

Semangat jajan nengZ sedang membara. Beberapa hari ini selalu minta uang untuk jajan.  Akhirnya mama minta ia untuk ambil sendiri uang receh dari dalam tabungan mama. NengZ bisa membedakan angka pada uang koin 100, 200, 500, 1000. Tapi ia belum paham arti nominal uang.

Oke lah... singkat cerita ia berinisiatif membagi 2 sama banyak (dalam hal jumlah, bukan nominal) satu bagian untuk dirinya dan sebagian lagi untuk mama. Awalnya ia membagi dengan sembarangan, sambil membagi, sambil membilang 1, 2, 3, 4, dst. Namun ia belum puas dengan hasilnya karena satu bagian lebih banyak dan sebagian lainnya lebih sedikit.

Akhirnya mama contohkan dengan menyiapkan 2 tempat (tabungan dan alas) sebagai tempat meletakkan koin hasil pembagian (duh bahasanya...) mama contohkan dengan meletakkan satu koin pada masing-masing tempat sambil membilang 1. Mama cukup mencontohkan sampai bilangan 2 dan sisanya dilanjut oleh nengZ sendiri. Pembagian koin berakhir pada bilangan 18 di satu tempat (yang berarti koin berjumlah ganjil). Ternyata ada satu buah koin permainan zona 2000 yang terselip. Koin itu mama eliminir sehingga didapatkan hasil sama banyak 17 buah koin untuk masing-masing wadah.

Setelah itu mama minta nengZ untuk memilih ingin koin yang ada di tempat yang mana yang ingin dimilikinya? Tidak sulit baginya mementukan pilihan karena ia tau jumlah koinnya sama banyak sehingga ia merasa pembagian sudah adil.

Alhamdulillah... nengZ dapat cara baru belajar membagi sama banyak dengan cara yang menyenangkan.

#Day6
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Senin, 27 November 2017

TrioZ and Math #5

Hari ini nengZ beraktivitas sendiri. Tandem setianya si abangZ lagi mager bahkan mandi pun dia ogah.

NengZ request belajar menuang air. Mama siapkan di dalam tray: 2 botol plastik, 2 macam sendok tuang, 1 corong, dan sebaskom kecil air.

NengZ pun mulai asyik tuang menuang air yang diberinya pewarna ungu. Mama sambil lalu bertanya : "butuh berapa gayung supaya botolnya bisa penuh?". Maksud mama sih supaya neng mengisi botol sambil menghitung. Tapi malah yang dilakukan neng membuat mama terpana. Botol berisi penuh air yang sedang dipegangnya mulai dituangkan ke gayung kecil lalu ke baskom sambil menghitung :) hasilnya 5. Oke... mama pikir itu karena neng tidak penuh mengisi gayungnya sehingga jumlahnya lebih 1.
Mama pun mengapresiasi nengZ yang telah sampai di tujuan akhir walau menempuh jalan yang berbeda dari yang mama berikan.
Duh ini Aha! Moment banget deh ;)

Selain itu ketika mama kembali dari dapur nengZ dengan bangga berucap "ma, ini dua-duanya 8 gayung" sambil menunjukkan 2 botol yang sudah penuh. Ternyata ia mengulang kegiatan tuang menuang ke dalam botol dengan menggunakan gayung. Tak cukup 1 botol. Ia pun menyakinkan diri dengan mengerjakan 2 botol. Hingga didapatkanlah hasil 8 gayung :D

Inilah indahnya self correction ala metode montessori :)

Seandainya tadi saat neng salah malah mama nyinyirin mungkin ia tidak akan sampai pada hitungan 2 botol = 8 gayung kecil.

#Day5
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Minggu, 26 November 2017

TrioZ and Math #4

Kali ini mama mau cerita pengalaman belanja mainan anak sesuai budget. Anak-anak kalau sudah diajak ke toko mainan mesti kalap, semua pengen dibeli, belum lagi klo pake drama hingga tantrum... duh gak sanggup deh :(

Mama dan trioZ pergi ke toko mainan gama di mal lembuswana. Dari rumah kami sudah briefing mengenai pembagian budget untuk masing-masing anak. Tujuan utama kami adalah membeli mobil remote control untuk bangZ. Budget total rp. 250.000. Nah dari sini kami mulai berdiskusi beberapa rencana untuk menggunakan budget 250 ribu ini.

Rencana A : budget habis untuk membeli mobil remote.

Rencana B : membeli mobil remote dan masih ada sisa dari budget. Sisa budget inilah yang akan digunakan oleh kakakZ dan nengZ untuk membeli barang wishlist mereka ;)

Dan tentu saja they stick to plan B. Dari rencana B inilah kemampuan hitung cepat kakZ akan diuji.

Gimana proses belanja kami? Seru banget dan gak pake tantrum. Sesuai rencana, kami mencari mobil remote sesuai request bangZ. Ternyata harganya rp. 130.000. Wah kakZ langsung berbinar-binar. Masih tersisa hampir setengah dari jumlah budget awal. BangZ dan nengZ memilih menggunakan jatah mereka untuk membeli mainan. NengZ pun belajar untuk memilih mainan yang sesuai budget. Sementara kakZ memilih membeli ATS di gramedia.

Ini catatan pengeluaran kami :
Mainan bangZ rp. 173.000
Blocks nengZ rp. 38.000
Beli minuman rp. 7.000
ATS kakZ rp. 30.000
Parkir rp.2000

Tak diduga dan disangka ternyata jalan-jalan kami kemarin pas jumlahnya sesuai budget awal. Ternyata kalau semuanya direncanakan lebih dulu, kita bisa menghindari pengeluaran yang berlebihan. Kesannya seperti mama yang pelit ya? Tapi inilah langkah awal membuat trioZ melek finansial dan menghargai uang.

#Day4
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Sabtu, 25 November 2017

TrioZ and Math #3

Weekend hari ini ditemani oleh hujan. TrioZ mulai menggelar tikar di garasi, siap beraksi. KakakZ dan NengZ request belajar tuang- menuang air. Sementara itu, BangZ mengajak mama main dengan koleksi toobs hewannya.

Awalnya mama menceritakan bahwa ada jenis hewan tertentu yang makan daging (karnivor) dan ada juga jenis hewan pemakan tumbuhan (herbivor). Setelah itu kami membuat klasifikasi hewan karnivor-herbivor dengan menggunakan toobs hewan koleksi bangZ.


Setelah itu kami mengambil toobs jenis hewan yang sama namun berbeda ukuran. Nah sekarang kami buat klasifikasi besar-kecil. Buat bangZ, ketika melihat pasangan hewan besar-kecil maka ia analogikan sebagai ibu-anak. Ia selalu menunjuk sambil bilang "nyi mama, nyi buh" (yang ini mama, yang ini zun) ;)


Setelah klasifikasi besar-kecil kami mengambil toobs dinosaurus. Saat ini bangZ sedang dalam masa sensitif dengan dinosaurus. Ketika mama kenalkan nama-nama dinosaurus kami sempat berdebat tentang si Triceratops, bangZ bersikukuh kalau itu adalah badak :) akhirnya kami melakukan klasifikasi nenek moyang. Triceratops - badak, tyranosaurus-singa, dan diplosaurus-jerapah. Bener atau tidak mama tidak tahu karena tidak melakukan riset saat main dengan bangZ. Kami membuat klasifikasi nenek moyang ini berdasar kemiripan ciri yang melekat pada hewan tersebut.

Alhamdulillah, kegiatan hari ini merupakan stimulasi kecerdasan matematika logis untuk abangZ yang berusia 32 bulan. Semoga dengan banyak kegiatan stimulasi seperti ini akan membuat bangZ cinta dengan matematika karena matematika itu ada di sekitar kita. 

#Day3
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Jumat, 24 November 2017

TrioZ and Math #2

Hari ini nengZ belajar kartu buah pake printable dari IMC. Supaya semangat mama sertakan kartu angka untuk menandakan berapa banyak kartu buah yang berhasil ia selesaikan. Ternyata hari ini dapat 4 buah saja :) katanya "ade sudah cape". Ayo deh kita beresin kartu-kartunya. Sambil beresin kartu angka, mama mainkan sebagai flash card ke abangZ sambil menyebutkan lambang bilangan 1-4.

Setelah selesai tugas domestik kami pergi ke rumah nenek. Di rumah nenek ada kalender dinding yang harus dirobek setiap hari agar tanggalnya sesuai. Tiba-tiba abangZ nyeletuk "ma... mpat ma..." sambil nunjuk kalender. Ternyata hari ini tanggal 24. AHA! Momen banget sih ini. Baru jg tadi dikenalin sama angka 4 ternyata sudah direkam di otaknya. Benarlah bahwa anak-anak ini butuh stimulasi untuk menguatkan sinaps otak yang berujung pada ingatan yg melekat.

Ada rasa hangat dalam dada saat engange dengan anak dan melihat perkembangannya setiap saat. Semoga para ibu selalu diberikan kemampuan dalam membersamai tumbuh kembang anak-anaknya.

Salam 4 jari ;)

#Day2
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Rabu, 22 November 2017

TrioZ and Math #1

Tadi malam kami sekeluarga pergi ke taman riang ria (macam di kisah upin ipin). Kebetulan sedang ada taman riang ria di dekat sekolah kakZ hingga 20 hari kedepan. Total ada 5 wahana dengan tiket masuk rp. 10.000/wahana. Ada komedi putar, kapal columbus seperti kora-kora, bianglala, tong edan, dan istana balon.

Sebelumnya mama sudah diskusi dengan trioZ kalau mereka hanya boleh memilih 2 dari 5 wahana. Jadi per anak dapat jatah uang rp. 20.000. Dari sini kakZ dan nengZ sudah mulai menimbang ingin main wahana yang mana. DuoZ ini tertarik dengan tong edan tapi sayang pertunjukan baru ada bada isya. Otomatis wahana tong edan kami eliminasi karena kami tidak berencana selama itu di taman riang ria :)

Akhirnya mereka memutuskan untuk naik kapal columbus. Sementara mama menemani bangZ naik komedi putar. Wahana yang kami naiki bersama adalah bianglala. Nah... dimulailah drama trioZ di dalam wahana ini :D
KakZ panik karena takut kalau bianglalanya berhenti di ketinggian ketika putaran ke-3 kakZ bertanya pada petugas wahana "ada berapa kali putaran" dan dijawablah "10". Sejak putaran ke-4 hingga 10 kakZ menutup mata dan pegangan erat. Terlihat keringat dingin di wajahnya.

BangZ terlihat tegang dan mencengkram jempol mama dengan sangat erat. Tidak banyak kata-kata yang keluar darinya sangking tegang dan mencekamnya suasana.

NengZ terlihat santai. Tidak terlihat takut maupun panik namun ia berempati dengan kakZ jadi nengZ tidak banyak ngobrol apalagi sampai mem-bully kepanikan kakZ.

Banyak #MathAroundUs yang bisa kami gali dari petualangan di taman riang ria semalam. TrioZ sadar bahwa matematika menjadi bagian dari kehidupan dengan secuil pengalaman di taman riang ria. Perlahan tapi pasti mereka akan lebih banyak mendapatkan pengalaman lain bersama matematika dan kami mendapat pelajaran bahwa TrioZ and Math are united in life :)

#Day1
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Selasa, 21 November 2017

TrioZ and Math #0

Materi dan tantangan level #6 ini luar biasa. Bagaimana membuat anak suka matematika? Pasti semua ortu pengen anaknya suka dan pintar matematika.  Mantra IIP "membuat bisa itu mudah, membuatnya senang itu baru tantangan". Jadi mari kita belajar membuat anak senang dengan matematika di tantangan 10 hari kedepan :)

Kalau mama lakukan analisa di keluarga, yang punya good number sense itu Bapak. Mama memang kuat di otak kanan tapi number sense-nya kurang cepet. KakakZ lebih mengarah ke linguistik. NengZ cukup bagus di math logic sedangkan BangZ mengarah ke tending animal.

This will be challenging. Let's see my effort to stimulate trioZ's math logic. We're going to search math around us and finally trioZ will love math :D

Day#1

Today we played with dough. We made the dough about 1 month ago, we keep it in refrigerator so it's still safe to play. Firstly, we warmed the dough by kneading it. This activity can stimulate duoZ fine motoric skill. 

We made ice cream with ice scope spoon. There are the big one and the little one. BangZ is already understand big-little concept. He can easily pick the big or little one.

Then we made a round cake. DuoZ agree that we should slice that cake into 4 slices. They sliced it by their own. Taraa...this is duoZ cake...

How you can't fall in love on math if it's like this :)

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsayIip

#ILoveMath

#MathAroundUs



Senin, 20 November 2017

Tantangan Level #6 Kelas Bunsay #2

*Tantangan 10 hari*
*Level 6*

Matematika bukan hanya tentang angka dan hitungan namun juga ada hubungannya pada kelogisan berpikir dan pemecahan masalah.

Matematika tersebar di sekitar kita, seperti saat hebohnya bersama anak anak mencari segala sesuatu yang berbentuk bulat di dalam rumah, semua berlarian, melihat sekeliling dan berebutan menyebutkan benda yang ditemukannya.

Atau saat seru ngobrol dengan si kakak sambil menghitung jumlah rumah di 1 blok komplek sehingga menemukan jumlah rumah seluruh cluster yang terdiri dari 6 blok.

Atau saat indahnya si kecil memotong kue supaya cukup dibagi bersama kakak kakaknya.

Atau saat cerianya bersama anak anak menghitung jumlah langkah kaki ke masjid terdekat.
 
Saat saat menunggu kakak selesai mengerjakan desain interior kamarnya sendiri,
dan seterusnya ...dan seterusnya.

��Tantangan 10 hari level 6��
*Temukan Matematika di sekitarmu*

 ❤ Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak, temukan matematika dalam aktivitas sehari-hari bersama ananda. Jadikan momen aha!

�� Bagi yang belum mempunyai anak dan belum menikah, temukan  matematika dalam aktivitas keseharian mu.

��_Mengikat Makna, Mengikat Ilmu_

*Tuliskan* momen-momen seru yang terjadi setiap harinya, di blog (lebih disarankan) atau platform lainnya. Anda boleh menambahkan gambar atau video agar tulisan menjadi lebih menarik dan portofolio anda/keluarga semakin lengkap.

Bagi anda yang menggunakan blog, berikan label:
IIP
KuliahBunsay
ILoveMath
MathAroundUs

Kirimkan tugas tantangan ke link...

Gunakan hashtag:
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Materi #6 Kelas Bunsay #2

_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang sesi #6_

*MENSTIMULUS  MATEMATIKA LOGIS  PADA ANAK*

Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing.  Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematis logis. Dimana di  dua kecerdasan ini banyak orangtua yang salah menstimulus, tidak paham tujuannya untuk apa, ingin anak-anaknya segera cepat menguasai dua hal tersebut, sehingga banyak diantara anak-anak BISA menguasai dua kecerdasan tersebut tetapi mereka TIDAK SUKA.  Sebagaimana kita ketahui di materi sebelumnya bahwa

" *Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA baru tantangan* "

*MATEMATIKA LOGIS*

Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai _kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan_.

Dapat diartikan juga sebagai *_kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya_*

Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematika logis  dan kecerdasan bahasa. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan bahasa diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.

*CIRI-CIRI ANAK DENGAN KECERDASAN MATEMATIKA LOGIS*

a.  Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut

b. Mengamati benda-benda yang unik baginya

c.  Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba

d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan.

e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung

Yang sering salah kaprah di dunia pendidikan dan keluarga saat ini adalah buru-buru menstimulus matematika logis anak dengan cara memberikan pelajaran berhitung sejak dini. Padahal berhitung adalah bagian kecil dari sekian banyak stimulus yang harus kita berikan ke anak untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya.Dan harus diawali dengan berbagai macam tahapan  pijakan sebelumnya.

Yang perlu kita pelajari di Ibu Profesional adalah Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagaimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.

*STIMULASI MATEMATIKA LOGIS DI SEKITAR KITA*

*Bermain Pasir*
Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.

*Bermain di Dapur*

a.Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna.

b. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa.

c. Membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran.

d. Membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu.

*Belajar di Meja Makan*
Saat dimeja makan pun kita bisa mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekeluarga kebagian semua, roti  ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila roti sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.

*Belajar Memahami  Kuantitas*

a. ketika melihat akuarium, tanyakan berapa jumlah ikan hias di akuarium tersebut?

b.Ketika duduk di depan ruma atau sedang jalan-jalan, tanyakan berapa jumlah sepeda motor yang lewat dalam jangka waktu 1 menit?

*Belajar mengenalkan konsep perbandingan, kecepatan, konsep panjang dan berat*

a. Menanyakan pada anak roti mana yang ukurannya lebih besar, roti bolu atau  donat?

b. Mengenalkan dan menanyakan pada anak, mana yang lebih cepat,  mobil atau motor?

c. Mengenalkan dan menanyakan ke anak mana yang lebih tinggi  pohon kelapa atau  pohon jambu?

d. Menanyakan ke anak mana yang lebih berat, tas kakak atau tas adik?

*Kegiatan di Luar Rumah*

a.Mengajak anak berbelanja
ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan.

b. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya.

c. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka  Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya.

d. Permainan Tradisional
Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung, permainan patil lele, permainan lompat tali, permainan engklek dll.

e.Belajar Memecahkan Masalah ( problem solving) melalui mainan
Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas.

Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Dengan model stimulus ini anak-anak akan paham makna kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) sebagai sebuah proses alamiah sehari-hari, bukan deretan angka yang bikin pusing. Mereka jadi paham bahwa :

Menambah ➡ proses menggabungkan

Mengurangi ➡ proses memisahkan

Mengalikan ➡ proses menambah/menjumlahkan secara berulang.

Membagi ➡ proses mengurangi secara berulang.

Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di  rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).

Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.

Dengan demikian matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.

_Salam Ibu Profesional_

/ _Tim Fasilitator Bunda Sayang_/

��Sumber bacaan:

_Hernowo, Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Mengajar dengan Menyenangkan, MLC, 2005_

_Howard Gardner, Multiple Intelligence,  Gramedia, 2000_

_Septi Peni Wulandani, Jarimatika, Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Agromedia, 2009_

Sabtu, 18 November 2017

Cemilan Literasi #4

_Camilan Rabu ke-4_
15 Nopember 2017
Materi #5

�� *Mengajari anak memahami bacaan*

Membaca merupakan kegiatan yang sangat penting. Kita tahu dari ayat yang Allah turunkan pertama kalipun adalah perintah untuk *Membaca*.

Membaca diri,  membaca alam yang telah Allah ciptakan,  juga membaca teks Alquran kitab yang diturunkan.

Tujuan utama dari membaca ini adalah tentu saja untuk memahami. Pemahaman akan tujuan penciptaan diri, penciptaan alam yang sudah Allah siapkan untuk kita dan pemahaman terhadap teks Alquran sebagai wahyu.

_Lalu bagaimana cara kita menstimulus pemahaman membaca anak?_

�� *Untuk anak yang masih dibacakan*:

�� beri intonasi dan gesture yang tepat sesuai bacaan

⭐ajak anak mendeskripsikan kata yang dibaca untuk mencari tahu apakah kata-kata yang kita bacakan dimengerti atau tidak. jika tidak, beri penjelasan dengan menunjukkan gambar atau  media lain.

❄Anak yang sering mendengar cerita/bacaan dan diajak eksplorasi alam sekitar dimungkinkan lebih cepat menangkap makna bacaan karena sudah memiliki pesan dan kesan terhadap kata yang dibacakan.

��beri pertanyaan yang sesuai dengan konteks bacaan dan ceritakan hikmah apa yang bisa kita ambil dari bacaan tersebut.

�� *Untuk anak yang sudah bisa membaca*:

�� ajari anak untuk menemukan pesan penting dalam teks bacaan

�� lakukan tanya jawab dan diskusi mengenai teks bacaan

�� kaitkan bacaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari

��ajak anak mencari ibroh/pelajaran dari bacaannya

�� ajak anak menuliskan kembali point penting dari bacaannya

*Salam Ibu Professional*,
_Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch 2_

Sumber:
_Pemahaman atas QS Al'Alaq_
_Ibroh dari pengalaman di rumah terhadap anak_

Minggu, 12 November 2017

Cemilan Literasi #3

_Camilan rabu ke-3_
8 Nopember 2017
Materi#5 
*Manfaat membaca.....*��

Kalau kita di tanya apa Tujuan membaca? Maka kebanyakan kita akan menjawab tujuan membaca adalah untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan. Atau ada juga yang menjawab untuk melaksanakan perintah pertama dari Allah yaitu Iqra’ yang bertujuan untuk mengenal Allah.

Di samping itu ternyata ada beberapa manfaat dari membaca:
��1 . Stimulasi mental
Membaca merupakan kegiatan stimulasi mental yang dapat meremajakan otak. Dengan membaca otak akan aktif dan tidak mudah kehilangan ingatan. Otak membutuhkan latihan agar tetap kuat dan sehat.

��2. Mengurangi stress
Membaca dapat membawa kita ke situasi yang di gambarkan oleh penulisnya, dengan membaca artikel yang menarik dan membahagiakan akan mengalihkan perhatian kita dari hal2 yang membuat kita stress. Untuk itu jika anda ingin rileks cobalah membaca artikel yang menggembirakan dan menginspirasi, karena itu akan memperlambat denyut jantung dan mengurangi ketegangan otot.

��3. Memperbaiki memori
Pada saat membaca otak kita akan berlatih untuk mengingat hal2 penting dalam suatu novel atau artikel yang kita baca. Hal itu akan menempa memori otak  untuk memperkuat yang sudah ada dan membantu ingatan-ingatan jangka pendek.

��4. Keterampilan berpikir analitis
Saat  membaca kita dituntut untuk bisa memhami rangkaian peristiwa,runutan dan rincian peristiwa yang dapat membuat otak kita menjadi mampu untuk memproyeksikan kesimpulan dari informasi yang disampaikan penulis. Sehingga hal ini membuat kita harus menerapkan pemikiran yang kritis dan analitis.

��5. Meningkatkan konsentrasi
Pada saat kita membaca perhatian akan terfokus pada cerita,sehingga pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Oleh sebab itu orang yang hobbi membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus.

��6. Meningkatkan kemampuan menulis
Dengan mengamati gaya penulisan, irama dan aliran dari tulisan orang lain yang kita baca akan mempengaruhi tulisan kita sendiri. Semakin banyak kita membaca,semakin kaya  ide dan pengetahuan kita tentang menulis.

��7. Mendukung kemampuan berbicara di depan umum
Membaca akan memperkaya kosa kata dan kekuatan kata-kata sehingga mampu meningkatkan  pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal. Meningkatnya pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal akan sangat mendukung dalam meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum.

*Tim fasilitator bunda sayang#2*

�� Sumber bacaan:
https://www.facebook.com/A.Hayatunnufus/posts/ https://health.detik.com/read/2017/07/28/.../6-manfaat-membaca-bagi-kesehatan
lifestyle.kompas.com/read/.../10-manfaat-mengapa-anda-harus-membaca-setiap-hari
buku Bunda Sayang, Ibu Profesional

Cemilan literasi #2

_Cemilan Rabu ke-2_*Materi#5*
1 November 2017
*LITERASI MEMBACA SEBAGAI PROSES SOSIAL*

Pendekatan literasi modern memandang aktivitas membaca sebagai proses sosial. Ini selaras dengan hakikat teks sebagai perwujudan kegiatan sosial dan memiliki tujuan sosial.

Dalam perspektif membaca sebagai proses sosial,  membaca tidak disampaikan sebagai aktivitas yang bersifat netral. Setiap ujaran yang disampaikan oleh penulis,  ilustrator atau pelaku sosial yang lain,  disadari atau tidak,  merupakan wacana yang tidak hanya berasal dari ide-ide yang ada di benak pelaku-pelaku sosial itu, tetapi berasal dari praktik sosial yang berakar kuat dan berorientasi pada struktur sosial material yang riil. Untuk itu,  sikap kritid selalu diperlukan untuk mempertanyakan apa yang ada di balik kata-kata dan dari siapa kata-kata itu berasal. Bahasa sebagai praktik sosial menuntut pembaca untuk bersikap kritis,  tidak begitu saja menerima pendapat,  konsep, kumpulan ide-ide yang dianggap mapan.

Aktivitas membaca dalam perspektif proses sosial bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kritis pembaca terhadap praktik-praktik sosial dalam teks. Kesadaran kritis diartikan sebagai kemampuan untuk mengenali kondisi-kondisi yang menyebabkan adanya pihak-pihak yang memiliki hak istimewa dan mendominasi pihak-pihak lain. Memiliki kesadaran kritis berarti sadar terhadap sejarah, sosial,  budaya atau ideologi yang berterima dan tidak berterima pada suatu masyarakat tertentu. Keyakinan-keyakinan tentang yang benar,  tidak benar,  berterima tidak berterima,  atau netral tidaklah selalu sama antar individu dan di setiap konteks masyarakat.

Contoh, siswa sekolah menengah sekarang pada umumnya belum memiliki kesadaran kritis terhadap praktik-praktik sosial yang terjadi di lingkungannya karena pada umumnya mereka masih asyik dengan dirinya dan dunianya sendiri.
Mereka perlu ditumbuhkan kesadaran kritisnya terhadap apa yang terjadi di rumahnya,  apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,  apa yang disukai dan tidak disukai oleh orang tuanya,  nilai-nilai apa yang harus diterapkan di lingkungannya. Hal ini agar para generasi muda tidak terasing dari masyarakatnya dan memiliki kepedulian/kepekaan terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat/bangsanya, sekaligus mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang #2/

��Sumber Bacaan
Nurhadi dan Endah Tri Priyatni. 2017. _Membaca dan Literasi Kritis_. Tangerang: TSmart

Cemilan literasi #1

�� Cemilan Rabu ke-1 ��

Materi 5  *Menstimulasi Anak Suka Membaca*
_Rabu 25 Oktober 2017_

Bagi sebagian orang tua khususnya ibu yang waktunya sebagian besar dihabiskan dengan anak-anak tentu merasakan kebahagiaan luar biasa jika dapat mengajarkan anak-anaknya membaca dan menulis. Keterampilan yang satu ini agaknya menjadi kemampuan yang penting untuk bisa _bertahan_ menghadapi tantangan zaman. Bahkan perintah pertama dari tuhan kepada manusia pun adalah _iqra_ *bacalah*, maka sejatinya mengajarkan dan menstimulus kemampuan membaca bagi anak menjadikannya ladang pahala yang tak ternilai harganya.
Beberapa faktor yang perlu di perhatikan oleh para orang tua sebelum menentukan untuk menstimulus kemampuan membaca seorang anak adalah :

�� *1. Menentukan tujuan mengenalkan Keterampilan membaca*

Tujuan mengenalkan anak membaca akan mampu memberikan motivasi tersendiri pada orang tua terkait metode dan menjalani setiap orang tua sabar menjalani prosesnya.

�� *2. Mengenal fitrah anak*

�� Kerja otak anak laki-laki dan perempuan

Dalam hal memproduksi dan mengolah kata-kata tentulah memiliki perbedaan, pada otak anak laki-laki pusat kosakata *hanya* terletak pada otak kiri, namun pada anak perempuan lokasi tersebut berada di anatara kedua belahan otak kiri dan kanan. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan dalam menghasilkan produksi kosakata yang berbeda. Laki-laki dalam sehari menghasilkan sekitar 7000 jumlah komunikasi, sementara perempuan mampu menghasilkan sekitar 20.000. Dari hal tersebut alangkah bijaknya kita sebagai orang tua mampu menghadapi kekuatan masing-masing anak. Baik laki-laki atau perempuan.

�� Gaya belajar anak yang berbeda

Gaya belajar masing-masing anak yang berbeda tentu diperlukan treatment yang berbeda pula. Type gaya belajar anak pun akan mempengaruhi proses menstimulus kegemarannya terhadap membaca. Gaya belajar anak visual tentu akan menyukai gambar-gambar, ilustrasi, warna, video dan hal-hal yang menarik penglihatan mereka. Anak dengan gaya belajar auditory akan mengandalkan pendengarannya sehingga metode ceramah, mendengarkan musik dan nada akan sangat menyenangkan untuk mereka. Berbeda dengan gaya belajar sebelumnya anak dengan gaya belajar kinestetik kemampuan 'bergeraknya' cenderung akan memotivasi dan memaksa orang tua sebagai fasilitator nya untuk mampu menciptakan kegiatan yang melibatkan diri anak terkait kegiatan fisik dalam menstimulus kegemaran membacanya, misalnya dengan menggunakan metode _*treasure hunt_* atau permainan tradisional yang mengharuskan anak menebak nama-nama binatang dari awalan huruf dan lain sebagainya.

�� Rentang konsentrasi anak

Faktor lain yang mampu menunjang ke berhasilan dalam menstimulus kemampuan membaca anak adalah rentang konsentrasinya yang bisa di ukur dengan mengalikan 1 menit dengan usia nya. Misal 1 menit  dikali 5 artinya lima menit rentang konsentrasi anak. Sehingga setiap 5 menit anak berinteraksi dengan kita bisa diselingi dengan kegiatan _penyegaran_ di sela kegiatan utama.

�� *3. Memperkaya pengetahuan tentang metode dan tehnik membaca untuk anak*

*metode suku kata
Memperkenalkan anak pada suku kata dengan bunyi vokalnya misal ba, ca, da, ka, sa, ra. Kemudian dikaitkan dengan benda yang terbentuk dari suku katanya misal *ka* dengan *kaca*, kemudian *ra* sa.

* metode phonic
Anak dikenalkan dengan _bunyi_ yang dihasilkan dari masing-masing hurufnya misal untuk *a* aaa, untuk *b* beeh dan seterusnya. . .

* metode imersi
Métode ini memperkenalkan anak langsung dengan objek benda nya kemudian dibantu dengan menempelkan tulisan nama pada benda tersebut.

Setiap teknik dan metode memiliki keunggulan masing-masing. Tinggal orang tua yang dapat memilih dan menerapkan metode mana yang paling baik untuk di terapkan pada anandanya masing-masing.
�� *4. Lakukan!*
- Susun jadwal yang teratur, dengan terlebih dahulu mengenali ritme aktivitas anak,
-siapkan alat peraga semenarik mungkin,
- lakukan bersama dengan orang tua / teman anak-anak,
- berikan motivasi, pujian dan kejutan menyenangkan,
-konsisten, hal yang dilakukan dengan teratur akan menjadi kunci kesuksesan orang tua dalam menstimulus kemampuan anak dalam segala hal tidak hanya membaca.

�� *5. Terus pupuk minat baca dan kembangkan kemampuan baca anak, di manapun dan kapanpun.*

�� *6. Meningkatkan kemampuan*
Setelah anak mampu dan mahir membaca, tingkatkan kemampuannya dengan membaca cepat,  membaca dengan suara keras, membaca cerita, dongeng, menulis dan lain sebagainya.

�� *7. Terus belajar dan bagikan*
Setelah bunda berhasil dengan metode dan téknik yang bunda pilih untuk menstimulus kegemaran ananda terhadap membaca, terus belajar dan bagikan kepada yang lain. Hal ini bisa menjadi sumber belajar bunda untuk berbagi hikmah dan mengajarkan anak terhadap kemulian yang diberikan tuhan bagi orang -orang berlimu dan membagikannya.

*_Terus dorong kemampuan terbaik anak dengan cara yang baik, karena setiap anak adalah istimewa_*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang #2/

��Sumber bacaan:
Kontributor Antalogi Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, Gazza Press, 2014.

Review Materi #5 Literasi

_Institut Ibu Profesional_
_Review Materi Bunda Sayang sesi #5_

�� *MEMBANGUN KELUARGA LITERASI* ��

Selamat untuk anda para bunda di kelas bunda sayang yang sudah berhasil menyelesaikan tantangan game level  5.

Banyak kreasi literasi yang muncul, mulai dari pohon literasi, pesawat literasi, galaksi literasi dll. Semua yang sudah bunda kerjakan di tantangan kali ini sesungguhnya bukan hanya melatih anak-anak dan seluruh anggota keluarga untuk SUKA MEMBACA,  melainkan melatih diri kita sendiri agar mau berubah.

Seperti tagline yang kita gunakan di tantangan level 5 kali ini, yang menyatakan

"  *_for things to CHANGE, I must CHANGE FIRST_*"  

Sebagaimana yang kita ketahui, tantangan abad 21, tidak cukup hanya membuat anak sekedar bisa membaca, menulis dan berhitung, melainkan kita dan anak-anak dituntut untuk memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berbicara dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini sering  disebut literasi ( _National Instiute for Literacy, 1998_ )

Institut Ibu Profesional akan mendorong munculnya gerakan literasi yang nyata yaitu mulai dari dalam keluarga kita. Apabila seluruh keluarga Ibu Profesional sudah menjalankan gerakan literasi ini maka akan muncul _rumah  literasi_, muncul _kampung literasi_, dan insya Allah negara kita dipenuhi masyarakat yang literat. Tidak gampang mempercayai dan menyebarkan berita yang baik tapi belum tentu benar, makin memperkuat struktur berpikir kita, sehingga selalu mengutamakan "berpikir terlebih dahulu, sebelum berbicara, menulis dan menyebar berita ke banyak pihak"

*KOMPONEN LITERASI*

☘ *Literasi Dini ( Early literacy)*
_Kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah_. Pengalaman anak-anak dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.

☘ *Literasi Dasar ( Basic Literacy)*
_Kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi_

☘ *Literasi Perpustakaan (Library Literacy)*
_Kemampuan memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah_

☘ *Literasi Media (Media Literacy)*
_Kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya_.

☘ *Literasi Teknologi (Technology Literacy)*
_Kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi_

_Kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet_

☘ *Literasi Visual (Visual Literacy)*
_Pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat_

*_Keluarga hebat adalah keluarga yang terlibat_*

Maka libatkanlah diri kita dalam gerakan literasi di dalam keluarga terlebih dahulu.

Pahami komponen-komponen literasi, dan lakukan perubahan yang paling mungkin kita kerjakan secepatnya.

Pohon literasi janganlah berhenti hanya sampai di tantangan materi kali ini saja. mari kita lanjutkan sehingga gerakan ini akan membawa dampak bagi keluarga dan masyarakat sekitar kita.

_Salam Ibu Profesional_

*/Tim Fasilitator Bunda Sayang/*

��Sumber bacaan :

http://dikdas.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Desain-Induk-Gerakan-Literasi-Sekolah1.pdf

_Clay dan Ferguson_ (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) , 2001

_Beers, dkk, A Principal’s Guide to Literacy Instruction, 2009_

_National Institute for Literacy, 1998_

Sabtu, 04 November 2017

Literasi di Keluargaku #10

Salam literasi!

Sebagai penutup tantangan 10 hari materi #5 kelas Bunda Sayang #2 saya sajikan quote dari buku "Jatuh Hati pada Montessori" karya mba Vidya Dwina Paramita.

"One test of the correctness of educational procedure is THE HAPPINESS of the child"
-Maria Montessori-

Membaca quote ini mengingatkan saya materi matrikulasi dan seminar HSF bersama mba Dinari.
Indikator pelaksanaan homeschooling yang on track adalah perasaan bahagia pada anak dan ortu. Tidak ada sebagian pihak yang merasa terbebani.

Alhamdulillah atas ijin Allah, TrioZ menyukai buku dan kegiatan membaca. Mereka selalu terlihat bahagia bersama buku-buku dan selalu berbinar-binar ketika mendapat buku baru. Semoga proses literasi di keluarga kami dapat berlangsung hingga ke anak cucu TrioZ seperti ibu saya dulu membiasakan saya berada bersama buku-buku.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Jumat, 03 November 2017

Literasi di Keluargaku #9

Wah baru ingat hari ini belum setor tugas day#9

Pagi tadi duoZ sibuk aktivitas fisik, setelah itu kami ke rumah nenek. Di rumah nenek tadi bang Z sempat baca sound booknya dan malam ini minta dibacakan buku badak.

Kakak Z dan neng Z sudah tidur duluan karena kelelahan. Alhasil tidak ada dongeng malam ini. Mama pun bisa lanjut baca buku "Jatuh Hati pada Montessori".

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Rabu, 01 November 2017

Literasi di Keluargaku #8

Today we purchased these books :D

Untuk mama dan duoZ yang menghabiskan sebagian besar waktu di rumah, buku adalah salah satu hiburan untuk kami.

Mama memilih buku "Jatuh Hati pada Montessori" karya mba Vidya Dwina. Setelah menerima estafet ilmu trainingnya mba Vidya mama jadi penasaran pengen baca bukunya.

NengZ request sticker book risugumi seri rumah dan belanja. Ini sticker book risugumi pertama yang kami miliki. Selama ini beli sticker book versi erlangga atau hasil jastip bbw.

BangZ menambah koleksi seri mengenal hewan. Kali ini mama belikan seri hewan zebra dan badak. Buku seri mengenal hewan ini harganya 6000 rupiah untuk 1 judul dan tersedia banyaak sekali judul hewan. Sampai sekarang bangZ baru punya sekitar 10 judul.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Selasa, 31 Oktober 2017

Literasi di Keluargaku #7

Pagi ini hujan lebat. Setelah kakak Z berangkat sekolah dengan Bapak, DuoZ sibuk mencari aktivitas indoor. Si bungsu mengambil  busy book kucing-nya. Ia menghampar playmat dan menyusun figur-figur kucing yang tersedia. Wah kesempatan nih untuk beraktivitas bersama, bisa sekalian reading aloud buku kucingnya.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Literasi di Keluargaku #6

Hari ini mama ingin mengenalkan e-book kepada si sulung kakZ. Ebook ini didapat dari grup whatsapp. Baru mama buka tadi siang saat merapikan file hp. Kak Z cukup familier dengan hp mama jadi tidak akan sulit mengajarkannya membaca melalui hp. Selamat membaca e-book pertama kakak Z...

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Minggu, 29 Oktober 2017

Literasi di Keluargaku #5

Salam literasi!

Ini sound book milik si bungsu. Termasuk salah satu buku kesayangannya. Walaupun abangZ usianya hampir 3 tahun,  ia masih senang bermain sound book ini. Biasanya mama membacakan buku ini dengan cara menyanyikan cuplikan lagu yang menjadi isi bukunya. Taraa... Jadilah aktivitas membaca yang menyenangkan untuk si bungsu.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Literasi di Keluargaku #4

Salam literasi!
Inilah pohon literasi di keluarga kami. Kami buat sederhana tanpa mengurangi maknanya. Judul buku yang telah kami baca akan kami tulis di kertas origami berbentuk apel dan kami tempelkan di pohon. Berwarna-warni karena mewakili mama dan trioZ. Khusus apel berwarna coklat yang telah jatuh adalah buku-buku yang baru kami selesaikan membacanya sebelum tantangan dimulai.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Jumat, 27 Oktober 2017

Literasi di Keluargaku #3

Hari ini kami melakukan kunjungan ke Badan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur. TrioZ suka sekali di sini. Tidak hanya bisa membaca, trioZ juga bisa bermain dan yang penting ruangannya adem dan tidak berisik :)

Si sulung memilih 2 buku why untuk dipinjam dan dibaca di rumah. Wah ini bakal jadi buah apel pengisi pohon literasi kami dirumah.

*Picture diambil dari akun facebook seorang kawan. Backgroundnya bikin mama termotivasi untuk membuat  rumah lebih nyaman dan ramah literasi.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Kamis, 26 Oktober 2017

Literasi di Keluargaku #2

Hari ini si tengah neng Z kembali membuka buku baca 2b yang sebelumnya mandeg. Ternyata neng Z masih kangen untuk membaca buku baca 2b-nya. Mama biarkan neng memilih halaman yang ingin dibacanya dan ternyata ia bisa menuntaskannya.

Metode membaca yang mama ajarkan sekarang adalah metode membaca ala montessori yang diadaptasi untuk pembelajaran bahasa indonesia. Materi ini sedang marak disampaikan oleh mba vidya dwina paramita yang baru mengeluarkan buku "jatuh hati pada montessori". Beruntung seorang kawan lama sempat mengikuti pelatihannya di Jakarta dan saat pulang ke Samarinda kemarin bersedia sharing materi ini.

Saat ini neng Z dalam posisi awal. Belajar dengan menggunakan SPL-Sand Paper Letters. Kami kembali mengenal huruf dan mama memberikan penekanan pada pelafalan hurufnya (phonics). Metode ini menyenangkan karena neng Z bisa bereksplorasi tanpa takut salah. Berbeda sekali ketika membaca buku bacanya, ketika tidak yakin ia selalu menatap mama untuk konfirmasi. Ahh... inilah buah pahit yang mama tuai karena mengajaknya sekolah sejak usia 3 tahun. Semoga mama masih berkesempatan untuk membayar hutang pengasuhan ini.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Rabu, 25 Oktober 2017

Literasi di Keluargaku #1

Salam literasi!

Materi #5 kali ini momennya pas sekali dengan suasana di rumah kami. Dari tantangan materi #4 mama dan si tengah tengah berjuang agar melek literasi. Di tantangan #3 kami membuat proyek menghadirkan pojok baca ramah anak. Nah materi #5 ini bagaikan diberi alat untuk panen ;)

Semenjak pojok baca anak terwujud di rumah, si tengah dan si bungsu lebih terakomodasi untuk bermesraan dengan buku. Si bungsu lebih memilih buku-buku tentang hewan. Bisanya mama bacakan sambil mendongeng dengan figur hewan milik si bungsu. Si tengah masih struggle berlatih membaca dengan bekal buku baca dari sekolahnya yang dulu. Kami sempat mengalami kesulitan saat menghadapi kata-kata dengan frasa ng, ny. Sampai disini kami sempat hibernasi dalam menggunakan buku baca ini. Selama libur cawu 1 lalu, mama mulai berputar arah mempelajari metode montessori untuk ranah membaca. Sekarang kami kembali berjuang dari titik 0 untuk menuju finish "win the battle". Selain melek literasi si tengah pun akan mencintai membaca karena prosesnya yang menyenangkan. This is our battle. Let me share the stories in next post :)

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Tantangan level#5 Bunsay #2

����������������
*Tantangan Level 5*

Iqra! Bacalah! Perintah Tuhan pertama kali ini mengingatkan kita bahwa membaca merupakan sebuah proses penting dalam mengenal diri.

Membaca merupakan jembatan ilmu, makanan bagi otak, dan juga bisa melatih imajinasi. Serta banyak lagi manfaat dari membaca.

Yuk, jadikan diri kita teladan bagi anak dan keluarga!

�� *Jadilah teladan*
✅ Jadwalkan _family reading time_, membacalah bersama anggota keluarga

✅ Buatlah pohon literasi untuk masing-masing anggota keluarga, rimbunkan dengan judul buku yang telah dibaca

✅ Diskusikan dengan anggota keluarga tentang buku yang telah dibaca, gunakan untuk menambah pengetahuan dan merekatkan hubungan dengan anggota keluarga lainnya

��‍��‍��‍�� *Bagi yang sudah memiliki anak*
�� Jadilah ibu teladan, membacalah bersama anak (sesuai dengan tahapan usia anak).
�� Dokumentasikan kegiatan membaca anda
�� Tempelkan judul buku yang telah dibaca pada pohon literasi

�� *Bagi anda yang belum memiliki anak*
�� Membacalah!
�� Dokumentasikan kegiatan membaca anda
�� Diskusikan dengan suami tentang buku yang sudah dibaca
�� Tempelkan judul buku yang telah dibaca pada pohon literasi

���� *Bagi anda yang belum menikah*
�� Membacalah!
�� Dokumentasikan kegiatan membaca anda
�� Rimbunkan pohon literasi dengan buku-buku yang sudah anda baca.

❕Gunakan hashtag
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

❗Bagi anda yang menggunakan blog, tambahkan label
*Bunda Sayang*
*Ibu Profesional*
*IIP*
*For Things To Change, I Must Change First*

⏳ Periode Tantangan:
26 Oktober - 11 November 2017

Kirimkan tugas anda melalui link berikut:
*link menyusul*

����������������

Materi #5 Kelas Bunsay #2

Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Materi ke #5

MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA

����������������

Mari  kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia,   belum pernah mengetahui bahasa mandarin  kemudian tiba-tiba kita diberi Koran berbahasa mandarin dengan tulisan mandarin semua. Apa yang kebayang di benak kita semua?

Pusing?  Tidak tahu maksudnya? Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama halnya dengan anak-anak`yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ngulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.

�� *KETRAMPILAN BERBAHASA*

Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan ketrampilan berbahasanya.

*Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :*

a. Keterampilan mendengarkan ( _listening skills_ )

b. Ketrampilan Berbicara ( _speaking skills_ )

c. Ketrampilan Membaca ( _reading skills_ )

d. Ketrampilan Menulis ( _writing skills_ )

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang BISA MENDENGARKAN (Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti BISA BERBICARA dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.

Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang BISA MEMBACA, belum tentu terampil  mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya. Padahal dua hal ketrampilan di atas sangatlah penting.

Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal Anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.

Pertanyaan selanjutnya mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan diantara kita orang dewasapun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita  baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?

Padahal  kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan BISA MENULIS dengan baik.

Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk BISA membaca tidak SUKA MEMBACA. Sehingga banyak diantara kita BISA MENULIS huruf ( melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (MENULIS KARYA)

Terbukti  berdasarkan survey UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masayarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Padahal  program membaca  ini tidak hanya digencarkan oleh pemerintah dalam program literasinya, melainkan juga sudah diperintahkan di dalam salah satu kitab suci agama yang sebagaian besar dianut oleh bangsa Indonesia. Disana tertulis IQRA’ (bacalah), perintah membaca adalah perintah pertama sebelum perintah yang lain turun.

Mengapa kita perlu membaca? Biasanya jawabannya klise yang muncul adalah agar kita bisa menambah wawasan kita, bisa membuka cakrawala dunia dll. Jawaban di atas baik, tapi ada yang kita lupakan tentang tujuan  membaca ini yang jauh lebih penting, yaitu agar anak-anak kita lebih mengenal pencipta nya, karena membaca akan lebih membuat anak-anak  mengenal “siapakah dirinya”, maka disitulah dia mengenal siapa Tuhannya.

_MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA_

Sekarang kita akan belajar *bagaimana tahapan-tahapan agar anak-anak kita SUKA MEMBACA tidak hanya sekedar BISA. Agar ke depannya mereka SUKA MENULIS.*

Kita akan memulai dengan berbagai tahap ketrampilan Berbahasa.

�� *TAHAP MENDENGARKAN*

a. Sering-seringlah berkomunikasi dengan anak, baik saat mereka di dalam kandungan, saat mereka belum bisa berbicara dan saat mereka sudah mulai mengeluarkan kata-kata dari mulut kecilnya.

b. Buatlah berbagai forum keluarga untuk memperbanyak kesempatan anak mendengarkan berbagai ragam komunikasi orang dewasa di sekitarnya.

c. Setelkan berbagai lagu anak, cerita anak yang bisa melatih ketrampilan mendengar mereka.

d. Bacakan buku-buku anak dengan suara yang keras agar anak – anak bisa melihat gambar dan telinganya bekerja untuk mendengarkan maksud gambar tersebut.

e. Sering-seringlah mendongeng/membacakan buku sebelum anak-anak tidur. Jangan pernah capek, meski anak meminta kita mendongeng/membaca buku yang sama sampai puluhan kali. Begitulah cara menyimak,

�� *TAHAP BERBICARA*

a. Di tahap ini anak belajar berbicara, kita sebagai orang dewasa belajar mendengarkan. Investasikan waktu kita sebanyak mungkin untuk mendengarkan SUARA ANAK

b. Jadilah pendengar yang baik, disaat anak-anak ingin membacakan buku untuk kita, dengan cara mengarang cerita berdasarkan gambar, apresiasi mereka.

c. Jadilah murid yang baik, disaat anak-anak kita ingin menjadi guru bagi kita, dengan cara membuat simulasi kelas, dan dia menjadi guru kecil di depan.

d. Ajaklah anak-anak bersilaturahim sesering mungkin, bertemu teman sebayanya dan orang lain yang di atas usianya bahkan di bawah usianya untuk mengasah ketrampilan mendengar dan berbicaranya.

�� *TAHAP MEMBACA*

a. Tempelkan tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang jelas dan besar di sekitar rumah, terutama tempat-tempat yang sering di singgahi anak-anak

b. Tempelkan tulisan/kata pada benda-benda yang ada, misalnya, tempelkan kata- “televisi” pada pesawat televisi

c. Buatlah acara membaca bersama yang seru, misalnya perpustakaan di bawah meja makan

d. Sekali waktu, ajaklah anak-anak ke pangkalan buku-buku bekas, pameran buku dan toko buku

e. Siapkan alat perekam dan rekamlah suara anak kita yang sedang membaca buku

f. Biasakanlah surat-menyurat dengan anak di rumah. Misalnya, dengan menempelkan pesan-pesan di kulkas atau buatlah parsi (papan ekspresi) di rumah

g. Dorong dan ajak anak kita untuk membaca apapun label-label pada kemasan makanan, papan reklame dan masih banyak lagi

h. Berikan buku-buku berilustrasi tanpa teks.  Warna mencolok dan menarik akan merangsang minat untuk membaca, sekaligus membangkitkan rasa ingiin tahunya. Selanjutnya berikan buku full teks dengan ukuran huruf yang besar-besar.

i. Komik juga menarik sebagai pemancing rasa ingin tahu dan gairah membaca anak (tentunya perlu selektif dalam memilih komik yang tepat)

j. Ajaklah anak bertemu dengan pengarang buku, ilustrator, komikus, penjual buku, bahkan penerbit buku

k. Dukung hobi anak kita dan sangkut pautkan dengan buku. Misalnya, buku tentang perangko untuk anak yang hobi mengkoleksi perangko, buku cerita tentang boneka untuk anak yang suka boneka dan sebagainya

l. Budaya baca bisa ditumbuhkan dari ruang keluarga yang serba ada. Ada buku-buku yang mudah diambil anak,  ada mainan anak,  ada karya-karya anak dalam satu ruangan tersebut.

m. Ajaklah anak untuk memilih bukunya sendiri, tapi tentunya dibawah bimbingan kita agar tidak salah pilih

n. Contohkan kebiasaan membaca dan mengkoleksi buku dengan sungguh-sungguh dan konsisten

o. Buatlah pohon literasi keluarga, dengan cara masing-masing anggota keluarga memiliki pohon dengan gambar batang dan ranting, tempelkan di dinding. Siapkanlah daun-daunan dari kertas sebanyak mungkin, setiap kali anak-anak selesai membaca, tuliskan judul buku dan pengarangnya di daun tersebut, kemudian tempelkan di pohon dengan nama anak tersebut. Cara ini bisa untuk melihat seberapa besar minat baca masing-masing anggota keluarga kita, hanya dengan melihat seberapa rimbun daun-daunan di pohon masing-masing.

�� *TAHAP MENULIS*

a. Siapkan satu bidang tembok di rumah kita, tempelkan kertas flipchart besar disana dan ijinkan anak-anak untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan atau coretan.

b. Berilah kesempatan dan dorong anak kita untuk menulis  apapun yang dia lihat, dengar, pegang dan lain-lain

c. Siapkan buku diary keluarga, masing-masing anggota keluarga boleh menuliskan perasaaannya di buku diary tersebut, sehingga akan membentuk rangkaian cerita keluarga yang kadang nggak nyambung tapi seru untuk dibaca bersama.

d. Buat buku jurnal/ buku rasa ingin tahu anak dari kertas bekas,   ijinkan setiap hari anak menuliskan apa yang dia alami apa yang memunculkan rasa ingin tahunya di dalam buku tersebut.

e. Hiraukanlah tanda baca, huruf besar, huruf kecil dll, saat anak-anak mulai belajar menulis. Biarkanlah anak merdeka menuangkan isi pikirannya, hasil bacaannya, tanpa terhenti berbagai kaedah –kaedah menulis yang harus mereka pahami. Setelah anak-anak lancar menulis baru setahap demi setahap ajarkanlah berbagai macam kaedah ini.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang /

Sumber  Bacaan :

Kontributor Anatalogi Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, Gaza Press, 2014

Pengalaman Bunda Septi dalam mengembangkan ketrampilan berbahasa di keluarganya, Wawancara, Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017

Andi Yudha Asfandiyar. Creative Parenting Today : Cara praktis memicu dan memacu kreatifitas anak melalui pola asuh kreatif. Bandung: Kaifa. 2012

http://www.supernanny.co.uk/Advice/-/Learning-and-Education/-/4-to-13-years/Help.-My-child-doesn't-like-reading.aspx